Breaking News

Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
  • visibility 606
  • print Cetak

Habermas vs. Soekarno: Dialog Dua Dunia

Jürgen Habermas, filsuf Jerman yang hobi membahas rasionalitas dan demokrasi, punya konsep keren: “tindakan komunikatif” (communicative action). Intinya, manusia harus berkomunikasi bukan untuk menang, tapi untuk memahami satu sama lain. Dalam ruang publik yang sehat, semua orang punya suara yang setara.

Nah, kalau dipikir-pikir, Bung Karno sudah mempraktikkan itu jauh sebelum Habermas menulis bukunya. Ia tidak hanya berpidato untuk didengar, tapi untuk menggerakkan kesadaran kolektif. Pidato “Bukan Bangsa Tempe” bukan sekadar orasi politis; itu adalah ajakan berdialog dengan diri sendiri: Apakah kita bangsa yang percaya diri, atau hanya penonton dalam sejarah kita sendiri?

Habermas bilang, komunikasi sejati menciptakan ruang publik yang emansipatoris. Bung Karno, dengan gaya lantangnya, menciptakan ruang publik di tengah rakyat yang sederhana, mengajak mereka berpikir setara—bukan sebagai massa yang dibujuk, tapi manusia yang diajak berpikir.

Sebagai mahasiswa, kami sering merasa jadi penerus “perang wacana” itu—tapi versi lucunya. Pernah suatu kali, saya presentasi teori Habermas di kelas. Dengan penuh percaya diri, saya membuka slide pertama yang bertuliskan “Habermas dan Komunikasi Emansipatoris”. Tapi laptop saya hang.

Dosen menatap saya. Kelas hening. Saya gugup. Dalam hati saya berkata: “Tenang, Bung Karno aja dulu berpidato tanpa Power Point.”

Lalu saya nekat ngomong tanpa slide, pakai bahasa campur aduk, campuran teori dan humor. Ajaibnya, kelas malah hidup. Kami berdiskusi panjang tentang komunikasi kritis dan mental bangsa. Di situ saya merasa: mungkin inilah makna “bukan bangsa tempe” versi mahasiswa—berani bicara, walau tanpa alat bantu, tapi dengan keyakinan dan nalar yang jujur.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Gali Potensi, PASI Garut Gelar Invitasi Kejuaraan Atletik se-Jabar

    Gali Potensi, PASI Garut Gelar Invitasi Kejuaraan Atletik se-Jabar

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 146
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri kegiatan Pembukaan Invitasi Kejuaraan Atletik se-Jawa barat, yang dilaksanakan di Stadion Dalem Bintang SOR RAA Adiwijaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Sabtu (23/5/2026). Bupati Garut menekankan pentingnya penyelenggaraan kompetisi secara rutin sebagai langkah strategis dalam menjaring bibit-bibit unggulan. Ajang yang menjadi wadah bagi para atlet muda ini […]

  • Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 212
    • 0Komentar

    Pada halaqah kali ini, sepenggal kilas balik mengingatkan pada tradisi “ngangon” (menggembala) yang biasa dijalankan anak-anak pedesaan mala lalu. Mungkin kebiasaan ini masih dijalankan oleh anak-anak masa kini. Kebiasaan ini yang nampak “rendahan” dan “sederhana”, namun makna di baliknya memiliki enigma berharga yang kokoh dan solid. Kadang kita lupa, “ngangon” itu merupakan kurikulum pendidikan paling […]

  • 213, Garut Pangirutan yang Berkemajuan

    213, Garut Pangirutan yang Berkemajuan

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Sukron Abdilah, Ideapreneur dan Penulis
    • visibility 280
    • 0Komentar

    Saya lahir di Garut pada 1982, tahun ketika televisi masih hitam putih di banyak rumah dan kabut pagi turun seperti doa yang belum selesai. Garut, bagi saya, bukan sekadar koordinat geografis, melainkan kumpulan ingatan: bau tanah basah selepas hujan, suara pedagang di pasar, dan irama hidup yang bergerak pelan tapi pasti. Di usia 213 tahun, […]

  • Membaca Jejak “Ba’dul Ikhwan”

    Membaca Jejak “Ba’dul Ikhwan”

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 196
    • 0Komentar

    Transmisi Teks al-Bajuri dan Simpul Tiga Ulama dari Tatar Sunda Abad ke-19 — TIGARUT.COM — ​Menelusuri jejak para sarjana Sunda di Kairo pada paruh pertama abad ke-19 sering kali membentur dinding ketiadaan arsip yang utuh. Sebelum Terusan Suez beroperasi pada 1869, perjalanan ke Mesir bukanlah rute lazim bagi para penuntut ilmu dari Nusantara yang umumnya […]

  • Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
    • visibility 1.115
    • 0Komentar

    Diresmikan pada 14 Agustus 1889 Jalur kereta api ke Nagreg bertautan dengan pembangunan lintasan Cicalengka-Warung Bandrek-Garut. Pembangunan jalur ini didasarkan pada Undang-undang 24 Desember 1886 yang tertuang dalam Staatsblad Nomor 254 (Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997: 164-165). Menurut Agus Mulyana (2017: 97-100), pembangunannya sendiri mulai dilakukan pada 1887 dan terbagi menjadi dua seksi, yaitu seksi 1 Cicalengka-Leles […]

  • Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    Nah Ini Dia! 5 Kopi Lokal Khas Garut yang Wajib Kamu Coba

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 758
    • 0Komentar

    3. Kopi Kamojang Daerah Kamojang dikenal sebagai kawasan panas bumi, namun juga menjadi lahan subur bagi tanaman kopi. Kopi Kamojang memiliki profil rasa yang unik dan berbeda dari wilayah lain di Garut. Karakter rasa: Aroma herbal dan earthy Sentuhan smoky yang ringan Body medium dengan aftertaste hangat Keunikan ini menjadikan Kopi Kamojang menarik bagi penikmat […]

expand_less