Guru juga Manusia
- account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
- calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM —
“Guru juga manusia.”
Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sering kali paling mudah dilupakan saat sebuah kasus pendidikan viral di media sosial.
Belakangan ini banyak orang membahas soal cara guru menegakkan disiplin, ada yang fokus pada kesalahan tindakannya, ada yang membela aturan sekolah, ada juga yang langsung menghakimi pribadi gurunya.
Menurutku, ada satu hal yang jarang dibahas: Bagaimana kondisi psikologis gurunya?
Jujur, kasus yang sedang ramai ini membuatku teringat sesuatu.
Dulu aku pernah ikut seminar tentang self compassion — tentang bagaimana kita belajar berwelas asih pada diri sendiri, dan yang cukup membuatku teringat sampai sekarang… pematerinya justru dari rekan guru BK SMKN 2 Garut.
Sebelumnya aku cuma familiar dengan istilah self love, kupikir menjaga diri ya sekadar healing, me time, atau belajar mencintai diri sendiri, ternyata self compassion lebih dalam dari itu.
Aku baru sadar bahwa:
mengakui kalau kita lelah secara emosional itu tidak salah. Istirahat sejenak dari rutinitas dan tuntutan itu juga tidak apa-apa.
Mengambil jeda bukan berarti lemah, dan mengetahui batas diri ternyata juga bagian dari tanggung jawab profesional_karena guru bukan robot.
Guru juga manusia yang bisa penuh, bisa sesak, bisa capek secara mental meskipun wajahnya setiap hari tetap terlihat “baik-baik saja”.
Dan jujur…
waktu ikut seminar itu, aku sendiri memang sedang ada di fase: capeeeeeek banget.
Capek yang bukan cuma karena pekerjaan.
Bukan cuma administrasi.
Bukan cuma siswa.
Tapi capek yang numpuk pelan-pelan sampai kadang diri sendiri pun bingung harus cerita ke siapa.
Bahkan ada beberapa hal yang rasanya lebih baik dipendam saja karena takut jadi fitnah kalau diceritakan. Makanya ketika sekarang ramai kasus tentang guru, disiplin, emosi, dan cara penanganan siswa… aku jadi teringat lagi materi itu.
Bahwa kadang masalah di sekolah bukan sesederhana:
“guru jahat” atau “siswa nakal”.
Kadang ada manusia-manusia yang sama-sama sedang lelah. Ini bukan untuk membenarkan tindakan yang kurang tepat, tetapi, setiap tindakan yang membuat siswa merasa malu atau terluka perlu dievaluasi.
Namun mungkin kita juga perlu melihat lebih dalam bahwa tidak semua ledakan emosi muncul karena kebencian, kadang ia lahir dari kelelahan yang menumpuk terlalu lama.
Guru hari ini bukan hanya mengajar, mereka menghadapi perubahan perilaku remaja, tuntutan administrasi, tekanan orang tua, target sekolah, masalah siswa yang semakin kompleks, sekaligus tuntutan untuk selalu sabar, tenang, dan profesional setiap waktu.
Dan sering kali…
guru menjadi tempat semua orang menaruh harapan, tapi lupa bertanya:
✔️“Apakah gurunya sendiri baik-baik saja?”
✔️Apalagi di sekolah, rasa tekanan itu kadang muncul dari banyak arah.
✔️Ada tuntutan disiplin harus ditegakkan.
✔️Ada siswa yang merasa aturan tidak adil.
✔️Ada tekanan sosial media.
✔️Ada ketakutan dianggap gagal mendidik.
✔️Ada juga rasa resah melihat perubahan perilaku remaja sekarang yang semakin sulit dikendalikan.
Kadang yang terlihat sebagai “guru galak”, bisa jadi sebenarnya guru yang terlalu lama memendam resah.
Kadang yang terlihat “terlalu keras”, mungkin adalah orang yang diam-diam kelelahan menghadapi banyak hal sendirian.
Di sinilah pentingnya self compassion bagi guru.
Self compassion bukan berarti memaklumi kesalahan atau membiarkan diri bertindak semaunya.
Tetapi kemampuan untuk menyadari bahwa diri sendiri juga manusia yang bisa lelah, frustrasi, kecewa, bahkan kehilangan kendali sesaat.
Karena guru yang terus memaksa dirinya harus kuat setiap hari, lama-lama bisa kehilangan ruang untuk mengelola emosinya sendiri.
Mungkin ini bukan hanya soal siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi tentang bagaimana dunia pendidikan perlu mulai memberi ruang yang lebih sehat:
untuk siswa bertumbuh,
dan juga untuk guru bernapas.
Sebab guru tidak hanya butuh pelatihan menghadapi siswa. Guru juga butuh ruang untuk didengar, dipahami, dan dipulihkan.
Karena saat guru kehilangan kesehatan emosionalnya, yang terdampak bukan hanya dirinya… tapi juga cara ia memperlakukan murid-muridnya.
Disiplin tetap penting.
Aturan tetap perlu ditegakkan.
Namun pendidikan akan jauh lebih bermakna ketika ketegasan berjalan berdampingan dengan empati — bukan hanya kepada siswa, tetapi juga kepada guru itu sendiri.
Dan mungkin… bentuk profesionalisme tertinggi bukan tentang sanggup menahan semuanya sendirian, tetapi tentang tahu kapan harus berhenti sejenak, menenangkan diri, lalu kembali bekerja dengan hati yang lebih utuh.
- Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
