Breaking News
dark_mode

Ramadhan di Garut Tempo Dulu

  • account_circle Redaksi Web
  • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Ada masa ketika Ramadhan di Garut terasa berjalan lebih pelan. Waktu seakan memberi ruang bagi manusia untuk benar-benar merasakan hadirnya bulan suci, bukan sekadar melewatinya. Di kampung-kampung, udara pagi yang dingin dari kaki gunung menyambut orang-orang yang pulang dari sahur dengan langkah ringan dan hati yang tenang.

 

Masjid dan surau menjadi pusat kehidupan. Sejak dini hari lampu-lampu kecil sudah menyala, memanggil warga untuk berkumpul. Suara bedug bertalu-talu, menggema di antara rumah-rumah kayu dan jalanan yang masih sepi. Anak-anak berjalan beriringan menuju masjid, sebagian masih mengantuk, namun wajah mereka menyimpan kegembiraan yang sederhana.

 

Ramadhan pada masa itu tidak ramai oleh gemerlap, tetapi hangat oleh kebersamaan. Menjelang berbuka, ibu-ibu di dapur menyiapkan hidangan yang sederhana namun penuh makna: kolak, gorengan, atau sekadar teh manis hangat. Aroma masakan menyebar dari rumah ke rumah, seolah menjadi penanda bahwa waktu berbuka semakin dekat.

 

Di sore hari, orang-orang berkumpul di pinggir sungai atau di halaman masjid. Bukan untuk sekadar menunggu waktu, melainkan untuk berbagi cerita dan tawa. Anak-anak berlari mengejar senja, sementara para orang tua berbincang tentang kehidupan, tentang panen, tentang keluarga, tentang harapan.

 

Ramadhan di Garut tempo dulu adalah tentang kedekatan—dengan sesama manusia, dengan alam, dan dengan Tuhan. Tidak banyak yang dicari, tidak banyak pula yang diinginkan. Namun justru di situlah letak kekayaannya: pada rasa cukup, pada kesederhanaan yang menenangkan hati.

 

Kini zaman telah berubah. Ramadhan hadir dengan wajah yang lebih cepat, lebih riuh, dan lebih penuh warna. Namun kenangan tentang Ramadhan tempo dulu di Garut tetap tinggal dalam ingatan banyak orang—seperti cahaya lampu surau yang redup namun hangat, mengingatkan bahwa inti Ramadhan selalu sama: kembali kepada kesunyian hati dan kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.

Komentar
  • Penulis: Redaksi Web
  • Sumber: AI

Rekomendasi

  • Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    Naasnya Nasib Jurnalisme Digital

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di masa lalu, jurnalisme memiliki satu keistimewaan yang nyaris tak tergugat: ia menjadi penjaga makna. Wartawan tidak sekadar melaporkan peristiwa, tetapi juga menata realitas—memilah fakta, memberi konteks, dan menyajikan makna kepada publik. Redaksi menjadi “gerbang kebenaran”, dan media massa berfungsi sebagai otoritas simbolik dalam ruang publik. Namun, di era jurnalisme digital dan media […]

  • Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya pernah mendampingi seorang siswa laki-laki.   Kalau dilihat sekilas, orang akan cepat memberi label: “emosian”, “pembangkang”, bahkan “bermasalah”.   Dia mudah sekali meledak. Hal kecil bisa jadi besar.   Pernah suatu kali, hanya karena temannya ingkar janji, dia langsung marah besar… bahkan sampai mengancam lewat pesan.   Di waktu lain, dia terlibat perkelahian— […]

  • Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi yang Tumbuh di Lereng Gunung Papandayan

    Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi yang Tumbuh di Lereng Gunung Papandayan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Gunung Papandayan di Garut bukan hanya terkenal dengan panorama kawah dan padang edelweisnya, tetapi juga dengan kopi yang tumbuh di lereng-lerengnya. Kopi Papandayan memiliki karakter unik yang lahir dari perpaduan tanah vulkanik subur, udara sejuk pegunungan, dan tradisi petani lokal yang penuh dedikasi. Berikut adalah 5 keutamaan kopi dari Papandayan yang membuatnya layak […]

  • Resepsi ‎Milad ke-113 Muhammadiyah, Mari Kita Jaga Kerukunan dalam Berbangsa

    Resepsi ‎Milad ke-113 Muhammadiyah, Mari Kita Jaga Kerukunan dalam Berbangsa

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Diskominfo Kab. Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Garut Kota – Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Garut, Bambang Hafidz, menghadiri kegiatan Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah yang dilaksanakan di Gedung Pendopo Garut, Jalan Kiansantang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Minggu (28/12/2025). ‎Bambang Hafidz menyampaikan ucapan selamat atas peringatan Milad ke-113 Muhammadiyah. Ia mengapresiasi perayaan milad yang dinilainya tidak sekadar peringatan angka, melainkan […]

  • Jihad

    Jihad

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    Saya menemukan kutipan ini di sebuah postingan. Gak tahu, bener tidaknya itu ucapan Gus Baha. Saya ingin membahas kutipan itu.   Semua tahu dan sudah banyak dijelaskan, makna asli “jihad” adalah berjuang bersungguh-sungguh, mencurahkan segala potensi diri untuk mengatasi masalah dan kesulitan.   Kesulitan itu banyak bentuknya dari masalah diri sehari-hari hingga menaklukkan ketakutan memperjuangkan […]

  • Si Kabayan, Tokoh Fiksi Sunda dengan Berjuta Cerita Lucu

    Si Kabayan, Tokoh Fiksi Sunda dengan Berjuta Cerita Lucu

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Wargi Garut pasti familiar dengan tokoh fiksi Sunda yang satu ini, Si Kabayan. Tentunya kamu juga mengetahui jika ada banyak cerita dan film yang mengangkat cerita tokoh Si Kabayan. Kali ini Redaksi Tigarut akan mengajak para wargi sadayana mengetahui lebih dalam mengenai sosok kabayan ini. Si Kabayan merupakan tokoh fiktif Sunda yang telah […]

expand_less