Breaking News
dark_mode

Turunnya Kelas Menengah dan Ancaman Krisis

  • account_circle Redaksi Web
  • calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Sebelum pandemi Covid-19, kelas menengah Indonesia adalah mesin konsumsi dan penopang stabilitas ekonomi. Pada 2019, jumlahnya sekitar 57 juta orang. Namun krisis pandemi menghantam keras. Pada 2024 jumlah itu menyusut menjadi 47 juta, dan pada 2026 turun lagi menjadi sekitar 46 juta. Artinya, dalam beberapa tahun saja, sekitar 11 juta orang terlempar dari status kelas menengah.

 

Kelompok ini bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah kelompok cepat belanja dan belanja besar (fast spender dan big spender): rumah tangga dengan pengeluaran sekitar Rp2,1 juta hingga Rp9,9 juta per bulan. Mereka membeli rumah, bayar listrik, kendaraan, gadget, membayar pendidikan anak, berwisata, dan mendorong konsumsi domestik. Ketika kelas ini menyusut, mesin ekonomi kehilangan tenaga.

 

Covid-19 memukul sektor jasa, perdagangan, dan ekonomi digital. Banyak startup tumbang atau melakukan PHK massal. Sektor informal membengkak. Pemulihan memang terjadi, tetapi belum sepenuhnya mengangkat kembali mereka yang terperosok.

 

Ironisnya, kelas menengah berada di ruang abu-abu kebijakan. Berbeda dengan kelompok miskin yang mendapatkan perlindungan seperti PBI BPJS Kesehatan, Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Program Keluarga Harapan (PKH), bansos tunai, dan berbagai subsidi, kelas menengah tidak menerima bantuan tersebut. Namun ketika penghasilan turun, cicilan tidak ikut turun. Mereka tetap harus membayar BPJS mandiri, mencicil rumah, kendaraan, kartu kredit, dan berbagai kewajiban lain.

 

Secara fiskal, mereka adalah kelompok terbesar pembayar pajak. Mereka membayar PPh dari gaji, dan setiap konsumsi mereka menyumbang PPN. Ketika kelas ini melemah, penerimaan pajak pun ikut tertekan.

 

Untuk mengembalikan kelas menengah, kuncinya adalah penciptaan kerja produktif dengan upah stabil. Itu berarti investasi di industri manufaktur padat karya: tekstil, alas kaki, elektronik ringan, otomotif komponen, dan sejenisnya. Industri inilah yang dalam sejarah ekonomi kita menjadi eskalator sosial kelas menengah.

 

Namun iklim ketidakpastian membuat investor ragu. Perizinan yang berbelit dan lama, perubahan regulasi yang mendadak, serta sulitnya menghitung risiko membuat arus investasi tidak secepat yang dibutuhkan.

 

Berbagai lembaga pemeringkat dunia menurunkan status Indonesia. Morgan Stanley Composite Index (MSCI) membekukan pembaruan indeks perdagangan saham di Indonesia, bahkan ada persepsi di pasar bahwa ini berisiko menurunkan ‘kelas’ dari emerging market menjadi frontier market. Goldman Sach dan UBS juga menurunkan bobot pasar saham menjadi underweight dan membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ‘kebakaran’ pada pekan lalu. Terakhir, rating agency)Moody’s menurunkan outlook pasar utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Lembaga ini menilai menurunnya prediktibilitas permususan kebijakan dan pelemahan tata kelola.

 

Contoh sulitnya prediktibilitas misalnya: pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 4 Tahun 2026 tentang Perlindungan Lahan Baku Sawah (LBS). Secara prinsip, kebijakan ini bertujuan menjaga ketahanan pangan nasional dengan melindungi lahan sawah produktif agar tidak mudah dialihfungsikan. LBS ditetapkan dan dilindungi secara ketat; perubahan fungsi lahan memerlukan prosedur panjang dan syarat sangat ketat.

 

Masalah muncul ketika ada investor yang telah membeli lahan, bahkan dalam kawasan yang sebelumnya direncanakan untuk industri, lalu tiba-tiba lahan tersebut ditetapkan sebagai LBS. Proyek terhenti. Kepastian hukum dipertanyakan. Risiko investasi melonjak. Dalam konteks target ambisius pertumbuhan ekonomi 8,0%, kebijakan yang tidak sinkron ini menciptakan kontradiksi.

 

Jika tren ini berlanjut, kelas menengah akan semakin menyusut. Orang miskin relatif terlindungi oleh jaring pengaman sosial. Kelas atas memiliki bantalan aset dan diversifikasi investasi. Tetapi kelas menengah berada di tengah: cukup “mampu” untuk tidak dibantu, tetapi tidak cukup kuat untuk menahan guncangan berkepanjangan.

 

Ketika fast spender berhenti belanja, mal sepi. Ketika big spender tak bisa bayar cicilan, sektor properti melambat. Ketika pembayar pajak utama tertekan, fiskal ikut goyah. Pertanyaannya sederhana namun mendesak: bagaimana mungkin mengejar pertumbuhan 8,0% jika fondasi konsumsi domestik, kelas menengah ustru rapuh?

 

Ketidakpastian regulasi, kontradiksi kebijakan, dan melemahnya kepercayaan investor bukan sekadar isu teknis. Ia adalah bom waktu sosial. Jika kelas menengah terus turun kelas, rasa frustrasi kolektif akan tumbuh. Dan sejarah menunjukkan, ledakan sosial jarang datang dari mereka yang paling miskin—melainkan dari kelas menengah yang merasa kehilangan masa depan.

 

(Budhiana Kartawijaya, alumnus Magister Manajemen Keuangan Mikro Terpadu, FEB Unpad)

Komentar
  • Penulis: Redaksi Web

Rekomendasi

  • Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.   Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah. Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.   Hari ini masyarakat sudah dibebani: harga sembako […]

  • Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    Jalur Berkelok dan Menanjak, 5 Tips Aman dan Nyaman Melintasi Pegunungan Garut Selatan

    • calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut Selatan menyimpan pesona alam yang memikat. Hamparan perbukitan hijau, lembah yang menawan, hingga pantai selatan yang eksotis menjadi daya tarik bagi wisatawan maupun para perantau yang hendak pulang kampung. Namun, keindahan tersebut kerap diiringi tantangan berupa jalan pegunungan yang berkelok, menanjak, dan menurun tajam. Bagi pengendara, melintasi jalur pegunungan bukan sekadar soal sampai […]

  • Bawa Misi Pendidikan, Siswi SMPN 1 Garut Siap Berlaga di Grand Final Duta Siswa Indonesia 2026

    Bawa Misi Pendidikan, Siswi SMPN 1 Garut Siap Berlaga di Grand Final Duta Siswa Indonesia 2026

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kabupaten Garut. Zulqaidah Yasmin Nurhakimah (15), siswi kelas 9 SMPN 1 Garut, berhasil melaju ke Grand Final ajang Duta Siswa Indonesia 2026. Kompetisi tingkat nasional ini menjadi wadah bagi siswa-siswi berprestasi dari seluruh Indonesia dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. ‎ ‎Zulqaidah menyiapkan program kerja bertajuk “Taman Pendidikan” […]

  • Ramadhan di Garut Tempo Dulu

    Ramadhan di Garut Tempo Dulu

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada masa ketika Ramadhan di Garut terasa berjalan lebih pelan. Waktu seakan memberi ruang bagi manusia untuk benar-benar merasakan hadirnya bulan suci, bukan sekadar melewatinya. Di kampung-kampung, udara pagi yang dingin dari kaki gunung menyambut orang-orang yang pulang dari sahur dengan langkah ringan dan hati yang tenang.   Masjid dan surau menjadi pusat kehidupan. […]

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar. Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi sebesar […]

  • Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam khazanah tradisi lisan Nusantara, masyarakat Sunda memiliki sebuah produk budaya yang unik bernama tatarucingan. Meski sering kali dianggap sebagai permainan kata yang remeh atau sekadar hiburan pelepas penat, tatarucingan sejatinya adalah manifestasi dari konsepsi kebudayaan Sunda yang mendalam. Ia merupakan perpaduan antara ketajaman logika, kekayaan bahasa, dan watak masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kejenakaan […]

expand_less