Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!
- account_circle Sukron Abdilah
- calendar_month Minggu, 28 Des 2025
- print Cetak

Ilustrasi membaca. Foto: Shuterstock
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Kalau kamu rajin baca berita edukasi atau diskusi literasi, belakangan ini ada kabar “menggembirakan”: minat baca masyarakat Indonesia meningkat! Asyik, kan? Tapi tunggu dulu — coba mampir ke toko buku di mal terdekat. Kamu mungkin akan menemukan pemandangan yang agak ironis: toko rapi, lampu hangat, rak penuh buku baru… tapi pembelinya bisa dihitung dengan jari, bahkan kadang lebih banyak pegawainya daripada pengunjungnya.
Dalam lima tahun terakhir, minat baca masyarakat Indonesia menunjukkan tren menggembirakan—naik dari indeks 59,52 pada 2021 menjadi 73,89 pada 2024—namun paradoksnya, toko buku justru kian sepi pengunjung. Kenaikan ini banyak dipicu oleh kemudahan akses digital; orang kini membaca lewat ponsel, e-book, dan media sosial lebih sering daripada membuka lembaran buku fisik. Fenomena ini menandai pergeseran budaya literasi: membaca menjadi aktivitas cepat dan praktis, bukan lagi ritual mendalam di antara aroma kertas dan sunyi perpustakaan.
Masyarakat memang lebih sering membaca, tetapi bacaan yang dikonsumsi cenderung ringan, ringkas, dan instan—mencerminkan semangat zaman yang serba cepat. Kini tantangannya bukan lagi sekadar meningkatkan minat baca, melainkan menumbuhkan kedalaman berpikir agar literasi tak berhenti pada klik dan gulir layar, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan reflektif yang membentuk cara pandang dan karakter bangsa.
- Penulis: Sukron Abdilah
- Editor: SAB
