Breaking News
dark_mode

Menghormati Hak Alam

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Saudaraku, bumi terlalu lama hadir di ruang sidang manusia hanya sebagai benda mati—tanah yang dibagi, sungai yang dibendung, hutan yang ditebang, laut yang diukur dengan angka keuntungan. Ia diperlakukan seperti properti tanpa suara, padahal manusialah yang hidup dari napasnya.

 

Dalam A Barrister for the Earth (2025), Monica Feria-Tinta menghadirkan gagasan yang mengguncang fondasi peradaban modern: alam bukan sekadar objek hukum, melainkan subjek yang memiliki hak untuk hidup dan pulih. Sungai bukan saluran air semata. Hutan bukan stok kayu. Gunung bukan cadangan mineral. Mereka adalah entitas kehidupan yang memiliki martabatnya sendiri.

 

Di titik itulah hukum tidak lagi berdiri hanya sebagai alat kekuasaan manusia, melainkan bahasa untuk mendengar jeritan bumi. Selama berabad-abad, peradaban dibangun di atas keyakinan antroposentris bahwa manusia adalah pusat segala-galanya—berhak memiliki dan menguras dunia tanpa batas. Dari keyakinan itu lahir kota-kota raksasa, sementara sungai kehilangan kejernihannya dan hutan perlahan berubah menjadi abu.

 

Feria-Tinta mengingatkan bahwa krisis ekologis bukan sekadar krisis iklim, melainkan krisis cara pandang. Ketika alam hanya dihitung sebagai komoditas, kehancuran selalu tampak legal. Pohon ditebang dengan izin. Laut diracuni dengan kontrak. Gunung dilubangi atas nama pembangunan. Semua sah di atas kertas, meski bumi perlahan kehilangan denyutnya.

 

Karena itu, gagasan rights of nature bukan sekadar perubahan hukum, melainkan perubahan kesadaran. Ia meminta manusia belajar kembali menjadi bagian dari semesta, bukan pemiliknya. Bahwa suatu hari sungai dapat “menggugat” mereka yang mencemarinya, dan bumi tidak lagi hadir sebagai korban bisu dalam pengadilan modern.

 

Di sana tersimpan harapan: bahwa keadilan bukan hanya milik manusia, tetapi juga milik dunia yang menopang keberadaan manusia sendiri. Sebab bila hukum hanya melindungi manusia sementara bumi terus dihancurkan, maka peradaban sesungguhnya sedang menulis gugatan bagi kehancurannya sendiri.

 

Komentar
  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi

  • 5 SDIT Terbaik di Garut

    5 SDIT Terbaik di Garut

    • calendar_month Selasa, 10 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Referensi Orang Tua dalam Memilih Sekolah Dasar Islami   TIGARUT.COM – Minat masyarakat Kabupaten Garut terhadap pendidikan berbasis Islam Terpadu (IT) terus meningkat. Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dinilai mampu mengintegrasikan pendidikan akademik dengan pembinaan karakter dan nilai-nilai keislaman sejak dini.   Berikut ini adalah 5 SDIT terbaik di Garut yang banyak menjadi rujukan orang […]

  • Liburannya Kemana?

    Liburannya Kemana?

    • calendar_month Minggu, 29 Mar 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Besok adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Biasanya, kelas akan penuh dengan cerita: tentang kampung halaman, perjalanan, atau sekadar rebahan di rumah, dan kita, tanpa sadar, selalu memulai dengan pertanyaan yang sama: “Liburannya ke mana?”   Tapi kali ini, saya ingin mencoba sesuatu yang berbeda, karena semakin lama saya menjadi guru […]

  • Mirip Malin Kundang! Inilah Kisah Dalem Boncel

    Mirip Malin Kundang! Inilah Kisah Dalem Boncel

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Cerita rakyat “Dalem Boncel” berasal dari Jawa Barat. Cerita karya Sunarsih ini mengisahkan sebuah keluarga miskin yang memiliki seorang anak bernama Boncel. Suatu hari, Boncel pergi dari desa Bungbulang untuk mengadu nasib. Boncel pun tiba di desa Caringin, Banten. Di sana, ia bekerja dengan kepada desa. Kegigihan dan kejujurannya membuat dirinya diangkat sebagai sekretaris […]

  • Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Domba Cibuluh Garut semakin dikenal sebagai salah satu domba unggulan lokal yang memiliki ciri khas berbeda dibandingkan domba pada umumnya. Berasal dari wilayah Cibuluh, Kabupaten Garut, domba ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya diminati peternak dan pecinta domba aduan.   Berikut enam keunikan Domba Cibuluh Garut:   […]

  • Agama Langit dan Agama Bumi

    Agama Langit dan Agama Bumi

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak ustadz menjelaskan agama oleh keharusan agama itu sendiri, bukan oleh batas kemampuan manusia mengamalkannya. Lain kata, mengajarkan agama di langit, bukan agama di bumi. Dalam bahasa Balqis Humaira, “masang ukuran kesalehannya ketinggian.” Akibatnya dua: Pertama, ajaran agama jadi tidak membumi. Agama jadi hanya teori, bukan praktek atau amal nyata. Agama disebut-sebut kemuliaan ajarannya […]

  • Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    Yuk Tingkatkan Disiplin dan Etos Kerja di Bulan Ramadan

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melaksanakan salat tarawih pertama bulan Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Agung Garut, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, pada Rabu malam (18/02/2026). Salat tarawih pertama di Masjid Agung Garut sendiri dipimpin oleh imam yaitu Ketua DKM Masjid Agung Garut, K.H Muhammad Sufina. Momen ini dimanfaatkan Bupati Garut untuk menyampaikan pesan […]

expand_less