Breaking News
dark_mode

Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

  • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.

 

Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah.

Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.

 

Hari ini masyarakat sudah dibebani:

harga sembako naik,

BBM mahal,

parkir bayar,

tol mahal,

biaya pendidikan meningkat,

lapangan kerja sulit,

 

sementara penghasilan rakyat kecil banyak yang jalan di tempat.

 

Lalu sekarang muncul lagi wacana bayar jalan.

 

Pertanyaannya sederhana:

Apakah ini benar demi keadilan, atau hanya cara baru mengambil uang dari rakyat?

 

Rakyat Kecil yang Akan Paling Terpukul

Yang paling merasakan dampak bukan pejabat dan orang kaya. Mereka tetap bisa lewat tanpa berpikir soal biaya tambahan.

 

Yang paling terpukul justru:

 

tukang ojek,

sopir angkot,

pedagang kecil,

petani,

buruh,

 

dan masyarakat kecil yang setiap hari berpindah tempat demi mencari nafkah.

 

Kalau jalan provinsi mulai dibayar, maka biaya distribusi naik. Ketika distribusi naik, harga barang ikut naik. Akhirnya rakyat lagi yang menanggung semuanya.

 

Jangan sampai seluruh jalan perlahan berubah rasa menjadi jalan tol.

 

Pajak Dihapus atau Hanya Diganti Nama?

Rakyat sudah terlalu sering melihat pola yang sama:

 

satu pungutan dikurangi,

lalu muncul pungutan baru,

namanya berbeda,

tetapi uang rakyat tetap keluar.

Masyarakat khawatir:

pajak kendaraan dihapus,

tetapi bayar jalan muncul,

parkir tetap bayar,

BBM tetap naik,

dan pungutan lain tetap berjalan.

 

Kalau akhirnya pengeluaran rakyat tetap atau malah lebih besar, lalu apa bedanya?

 

Jangan sampai rakyat hanya diberi ilusi penghapusan pajak, padahal beban ekonominya tetap sama.

 

Jalan Rusak Masih Banyak, Kok Mau Bayar Lagi?

Sebelum bicara soal bayar jalan, rakyat punya pertanyaan yang sangat masuk akal:

 

Apakah seluruh jalan provinsi sudah layak dibayar?

Karena faktanya:

masih banyak jalan berlubang,

penerangan minim,

drainase buruk,

kemacetan di mana-mana,

dan kecelakaan masih tinggi.

 

Kalau pelayanan dasar saja belum maksimal, terlalu cepat bicara soal pungutan baru.

 

Logikanya sederhana:

kalau rakyat diminta bayar lebih, maka kualitas pelayanan harus jauh lebih baik lebih dahulu.

 

Pemerintah Jangan Terlalu Kreatif Mengambil dari Rakyat

Pemerintah seharusnya lebih kreatif:

 

memberantas kebocoran anggaran,

menekan korupsi,

memangkas pemborosan,

mengurangi belanja seremonial,

dan meningkatkan efisiensi birokrasi.

Karena rakyat sering bertanya:

 

“Kenapa setiap persoalan anggaran ujungnya selalu rakyat yang diminta membayar lagi?”

 

Padahal masih banyak anggaran yang bisa dioptimalkan tanpa membuat beban baru bagi masyarakat.

 

Jalan Desa dan Kabupaten Justru Lebih Mendesak

Yang paling dirasakan rakyat sehari-hari bukan kurangnya jalan berbayar, tetapi buruknya:

 

jalan desa,

jalan kecamatan,

jalan pertanian,

dan akses penghubung kampung.

 

Banyak masyarakat kecil tidak membutuhkan jalan modern berbayar. Mereka hanya ingin:

 

jalan kampung tidak berlubang,

akses tani bagus,

distribusi hasil panen lancar,

anak sekolah aman,

dan ambulans bisa masuk ke desa tanpa hambatan.

 

Kalau jalan desa baik, ekonomi rakyat bawah ikut bergerak.

 

Maka pemerintah provinsi seharusnya lebih fokus bersama-sama mendorong pemerintah kabupaten, kecamatan, hingga desa agar pembangunan infrastruktur benar-benar merata sampai ke bawah, bukan justru sibuk membuat skema pungutan baru.

 

Karena pembangunan yang paling dirasakan rakyat bukan pembangunan yang megah di atas kertas, tetapi yang langsung menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat kecil.

 

Bangun Partisipasi, Bukan Sekadar Pungutan

Pembangunan sebenarnya bisa dilakukan tanpa selalu membebani rakyat dengan biaya baru.

 

Pemerintah bisa:

melibatkan CSR perusahaan,

memperkuat gotong royong masyarakat,

membuka pengawasan publik,

dan membuat sistem pembangunan yang transparan.

 

Kalau rakyat melihat uang digunakan dengan jujur dan tepat sasaran, kepercayaan masyarakat akan tumbuh dengan sendirinya.

 

Transparansi Lebih Penting daripada Istilah Baru

Rakyat hari ini tidak mudah percaya hanya karena istilah “keadilan”.

 

Yang rakyat ingin lihat adalah:

jalan benar-benar bagus,

proyek tidak dikorupsi,

anggaran terbuka,

dan hasil pembangunan nyata.

 

Karena keadilan bukan sekadar slogan politik.

Keadilan adalah ketika rakyat kecil tidak terus-menerus dibebani biaya hidup baru.

 

Rakyat tidak butuh sekadar perubahan istilah.

Rakyat butuh kehidupan yang lebih ringan.

 

Pemerintah provinsi seharusnya lebih fokus:

bersama mendorong pemerintah kabupaten, kecamatan, dan desa memperbaiki infrastruktur,

mengoptimalkan anggaran yang ada,

memberantas kebocoran,

dan membangun kepercayaan publik.

 

Karena tantangan terbesar pemimpin hari ini bukan mencari cara baru mengambil uang dari rakyat, melainkan mencari cara baru mengelola uang rakyat dengan lebih jujur, efisien, dan berpihak kepada masyarakat kecil.

 

Sebab bagi rakyat kecil, keadilan bukan pidato di podium.

Keadilan adalah ketika hidup mereka tidak semakin berat oleh kebijakan demi kebijakan.

Komentar
  • Penulis: Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik

Rekomendasi

  • Agama Langit dan Agama Bumi

    Agama Langit dan Agama Bumi

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak ustadz menjelaskan agama oleh keharusan agama itu sendiri, bukan oleh batas kemampuan manusia mengamalkannya. Lain kata, mengajarkan agama di langit, bukan agama di bumi. Dalam bahasa Balqis Humaira, “masang ukuran kesalehannya ketinggian.” Akibatnya dua: Pertama, ajaran agama jadi tidak membumi. Agama jadi hanya teori, bukan praktek atau amal nyata. Agama disebut-sebut kemuliaan ajarannya […]

  • Mokel, Mogok, dan Ketiduran

    Mokel, Mogok, dan Ketiduran

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sekolah Ramadhan sebentar lagi selesai. Jujur, bagi saya pribadi sebagai guru BK sekaligus working mom, Ramadhan tahun ini lumayan “ngelag”.   Energi sering naik turun. Beberapa kali bahkan sempat micro sleep di motor pulang sekolah.Alhamdulillah selamat sampai rumah   alhamdulillah juga, tidak ada kasus siswa yang terlalu berat. Sebagian besar masih bisa diselesaikan […]

  • 5 Rekomendasi Masjid untuk Shalat Tarawih di Garut

    5 Rekomendasi Masjid untuk Shalat Tarawih di Garut

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di Garut, ada banyak masjid yang menjadi pilihan masyarakat untuk melaksanakan shalat tarawih saat Ramadan. Berikut lima masjid yang bisa kamu kunjungi:   1. Masjid Agung Garut – Berada di pusat kota dan menjadi salah satu lokasi utama tarawih dengan jamaah yang biasanya sangat ramai. 2. Masjid Wakaf Garut – Masjid yang cukup […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Achdiat K. Mihardja

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Achdiat K. Mihardja

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Achdiat Karta Miharja lahir di Cibatu, Garut, Jawa Barat, tanggal 6 Maret 1911. Ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga menak yang feodal. Ayahnya bernama Kosasih Kartamiharja, seorang pejabat pangreh praja di Jawa Barat. Achdiat menikah dengan Suprapti pada bulan Juli 1938. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai lima orang anak. Ia memulai sekolah dasarnya di […]

  • Musrenbang Talegong: Fokus Pembangunan di Bidang Kesehatan, Pendidikan, dan Infrastruktur

    Musrenbang Talegong: Fokus Pembangunan di Bidang Kesehatan, Pendidikan, dan Infrastruktur

    • calendar_month Senin, 9 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Talegong – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melakukan monitoring pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tingkat Kecamatan dalam rangka Penyusunan RKPD Kabupaten Garut Tahun 2027, yang berlangsung di Aula Kecamatan Talegong, Kabupaten Garut, Kamis (5/2/2026). Bupati Abdusy Syakur Amin menegaskan bahwa esensi pembangunan adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat agar lebih sehat, panjang umur, dan produktif. […]

  • Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Hakim Ghani
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sancang adalah sebuah nama yang bagi sebagian kalangan terasa sangat menakutkan untuk didengar. Di balik keindahan alamnya, Sancang menyimpan banyak misteri hingga terkesan angker dan menakutkan. Apa alasannya? Di antara beragam daerah yang ada di Kabupaten Garut, Sancang adalah salah satu yang paling menjadi sorotan. Letaknya yang jauh dari hingar-bingar perkotaan dan didominasi […]

expand_less