Breaking News

Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
  • visibility 605
  • print Cetak

Tempe di Era Digital

Sekarang, di tahun 2025, pidato Bung Karno terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kita hidup di era digital di mana semua orang bisa bicara, tapi belum tentu mau mendengar. Media sosial jadi ruang publik raksasa—tapi sering kali, alih-alih berdialog, kita justru saling menekan tombol “mute” atau “block”.

Habermas pasti geleng-geleng kepala melihat ruang publik digital ini: bukan arena diskusi rasional, tapi arena debat kusir, hoaks, dan ego pribadi. Di sinilah semangat Bung Karno penting dihidupkan kembali: bangsa besar adalah bangsa yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani mendengarkan.

Karena kadang, “mental tempe” modern bukan takut berperang, tapi takut salah di kolom komentar.

Saya sering membayangkan: bagaimana jika Bung Karno dan Habermas duduk bareng di warung burjo (akronim: bubur, ketan, kacang ijo) di depan UIN Bandung?

Mungkin Bung Karno akan bilang, “Habermas, kau ini pintar sekali bicara soal rasionalitas. Tapi percuma kalau rakyatmu masih takut berpikir sendiri!”

Dan Habermas mungkin menjawab, “Benar, Bung Karno. Tanpa keberanian berbicara jujur, demokrasi hanya jadi pertunjukan formalitas.”

Lalu mereka berdua akan tertawa, sambil menyantap tahu goreng dan sepakat: bahwa bangsa besar bukan diukur dari bahan makanannya, tapi dari cara berpikir dan berkomunikasinya.

Sebagai mahasiswa yang pernah terpesona oleh pidato Soekarno dan teori Habermas, saya belajar satu hal penting: mental tempe bukan soal lemah atau kuat, tapi soal keberanian untuk berdialog dengan diri sendiri dan orang lain.

Bung Karno mengajarkan keberanian, Habermas mengajarkan kesetaraan dalam bicara. Dua-duanya mengingatkan kita bahwa bangsa besar tak bisa tumbuh dari keheningan yang penakut, tapi dari percakapan yang jujur dan kritis.

Jadi, kalau hari ini kita bicara soal Indonesia yang lebih maju, mungkin langkah awalnya bukan seminar besar atau kebijakan canggih—melainkan obrolan sederhana di warung kopi, tempat kita berani mengajukan pertanyaan:“Apakah kita masih punya mental tempe… atau sudah belajar jadi bangsa yang bisa berpikir tanpa takut salah?”

Sambil mengunyah tahu bulat digoreng dadakan, di sela tawa membahana, saya yakin Bung Karno akan tersenyum dan berkata, “Yang penting, Nak, jangan cuma baca teori Habermas. Praktekkan dalam cara kamu bicara, berpikir, dan memperjuangkan kebenaran.” *

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 84
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Belum sempat kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dingin setelah ditinggal Nanik S. Deyang, Presiden Prabowo sudah mengirim pemain pengganti. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat dari seruput Koptagul dan makan pisgor. Masuklah Dr. Sudaryono, atau akrab disapa Mas Dar. Pertanyaan publik pun bermunculan. Ahli gizi? Bukan. Ahli politik? Ya. Ahli organisasi? Ya. Ahli bisnis? […]

  • Dedi Mulyadi, Prabowo, dan Ironi Miskinnya Kesejahteraan Guru PAUD

    Dedi Mulyadi, Prabowo, dan Ironi Miskinnya Kesejahteraan Guru PAUD

    • calendar_month Rabu, 15 Apr 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Praktisi Pendidikan Kabupaten Garut
    • visibility 177
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai warga Jawa Barat, sudah sepantasnya kita memberikan apresiasi kepada Dedi Mulyadi atas berbagai gebrakan yang telah dilakukannya. Kepemimpinannya dikenal dekat dengan rakyat, responsif, dan penuh aksi nyata di lapangan. Banyak kebijakan dan langkahnya yang langsung dirasakan masyarakat, mulai dari penyederhanaan layanan publik hingga pendekatan humanis dalam menyelesaikan persoalan sosial. Keberhasilan tersebut terlihat dari […]

  • Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Lubab Zaman, Pemilik Channel Drama @lindtivi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Prompt:   Modal bisa baca kitab, sudah sah jadi “pewaris pondok”. Karena sealim-alimnya calon kiai, sia-sia saja mengajar kitab kalau masih “translit Jawa sentris”. Maka, dengarkan ketika “anak kiai” mulai mengajar kitab! Pertama, apakah hanya fokus translit? Kedua, apakah bisa menerjemahkan dalam bahasa lisannya sendiri? Ketiga, tanpa melihat kitab, apakah mampu menyampaikan matan-matan kitab?   […]

  • Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 675
    • 0Komentar

    Menebar minat baca Kepedulian Opik tak sebatas untuk warga desanya. Ia ingin minat baca yang telah terbangun di desanya menular ke desa lain, bahkan kecamatan lain di Kabupaten Garut. Oleh karena itu, ia—bersama anggota Komunitas Ngéjah yang dibentuknya—menyusuri desa-desa di Kabupaten Garut, bahkan Kabupaten Tasikmalaya, untuk mengajak anak-anak membaca. Kegiatan tersebut disebut Opik sebagai ”Gerakan […]

  • Program BK

    Program BK

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 82
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — STOP jangan lagi bikin program BK cuman ganti tahun ajaran saja…. Ada cara lebih mudah…. aku punya contekannya….   Sekarang sudah gak bingung lagi diburu-buru beresin program BK…   Perlu kita pahami bersama bahwa sampai saat ini memang tidak ada panduan teknis yang benar-benar baku atau menyeragamkan bentuk administrasi BK di semua sekolah. […]

  • Reduksi Makna Pendidikan

    Reduksi Makna Pendidikan

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Kritik Epistemologis terhadap Statemen “Kebijakan Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri” TIGARUT.COM — Wacana yang digulirkan oleh petinggi salah satu kementerian terkait penutupan program studi yang dianggap tidak selaras dengan kebutuhan industri merupakan sebuah simplifikasi yang berbahaya atas makna pendidikan. Karena dilontarkan oleh pejabat publik (sekalipun plt), narasi ini mencerminkan kegagalan pengelola negara dalam memahami amanat UUD […]

expand_less