Breaking News

Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
  • visibility 608
  • print Cetak

Tempe di Era Digital

Sekarang, di tahun 2025, pidato Bung Karno terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kita hidup di era digital di mana semua orang bisa bicara, tapi belum tentu mau mendengar. Media sosial jadi ruang publik raksasa—tapi sering kali, alih-alih berdialog, kita justru saling menekan tombol “mute” atau “block”.

Habermas pasti geleng-geleng kepala melihat ruang publik digital ini: bukan arena diskusi rasional, tapi arena debat kusir, hoaks, dan ego pribadi. Di sinilah semangat Bung Karno penting dihidupkan kembali: bangsa besar adalah bangsa yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani mendengarkan.

Karena kadang, “mental tempe” modern bukan takut berperang, tapi takut salah di kolom komentar.

Saya sering membayangkan: bagaimana jika Bung Karno dan Habermas duduk bareng di warung burjo (akronim: bubur, ketan, kacang ijo) di depan UIN Bandung?

Mungkin Bung Karno akan bilang, “Habermas, kau ini pintar sekali bicara soal rasionalitas. Tapi percuma kalau rakyatmu masih takut berpikir sendiri!”

Dan Habermas mungkin menjawab, “Benar, Bung Karno. Tanpa keberanian berbicara jujur, demokrasi hanya jadi pertunjukan formalitas.”

Lalu mereka berdua akan tertawa, sambil menyantap tahu goreng dan sepakat: bahwa bangsa besar bukan diukur dari bahan makanannya, tapi dari cara berpikir dan berkomunikasinya.

Sebagai mahasiswa yang pernah terpesona oleh pidato Soekarno dan teori Habermas, saya belajar satu hal penting: mental tempe bukan soal lemah atau kuat, tapi soal keberanian untuk berdialog dengan diri sendiri dan orang lain.

Bung Karno mengajarkan keberanian, Habermas mengajarkan kesetaraan dalam bicara. Dua-duanya mengingatkan kita bahwa bangsa besar tak bisa tumbuh dari keheningan yang penakut, tapi dari percakapan yang jujur dan kritis.

Jadi, kalau hari ini kita bicara soal Indonesia yang lebih maju, mungkin langkah awalnya bukan seminar besar atau kebijakan canggih—melainkan obrolan sederhana di warung kopi, tempat kita berani mengajukan pertanyaan:“Apakah kita masih punya mental tempe… atau sudah belajar jadi bangsa yang bisa berpikir tanpa takut salah?”

Sambil mengunyah tahu bulat digoreng dadakan, di sela tawa membahana, saya yakin Bung Karno akan tersenyum dan berkata, “Yang penting, Nak, jangan cuma baca teori Habermas. Praktekkan dalam cara kamu bicara, berpikir, dan memperjuangkan kebenaran.” *

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Ada Apa Kaum Lelaki dengan Film The Godfather?

    Ada Apa Kaum Lelaki dengan Film The Godfather?

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Tedi Taufiqrahman, Penulis Leupas
    • visibility 560
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ya. Ada apa kaum lelaki dengan film The Godfather? Saya lelaki tapi saya juga tidak tahu ada apa hubungan lelaki dengan film itu? Atau mungkin pertanyaannya dibalik; apa ada lelaki yang belum nonton film The Godfather? Serius. Ada yang belum nonton? Sebagai seorang lelaki dan sudah menonton mungkin 3 atau mungkin 4 kali […]

  • Singkat Saja, Inilah Sejarah Berdirinya Kabupaten Garut

    Singkat Saja, Inilah Sejarah Berdirinya Kabupaten Garut

    • calendar_month Jumat, 13 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 391
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Melansir laman resmi garutkab.go.id, sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah […]

  • Agama Langit dan Agama Bumi

    Agama Langit dan Agama Bumi

    • calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 237
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak ustadz menjelaskan agama oleh keharusan agama itu sendiri, bukan oleh batas kemampuan manusia mengamalkannya. Lain kata, mengajarkan agama di langit, bukan agama di bumi. Dalam bahasa Balqis Humaira, “masang ukuran kesalehannya ketinggian.” Akibatnya dua: Pertama, ajaran agama jadi tidak membumi. Agama jadi hanya teori, bukan praktek atau amal nyata. Agama disebut-sebut kemuliaan ajarannya […]

  • 5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 184
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Idul Fitri selalu membawa kita pada satu kata yang sederhana namun dalam: pulang. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali pada ketenangan yang sering hilang di tengah rutinitas. Di Garut, pulang bisa berarti menyusuri jalan menuju pantai selatan—tempat di mana debur ombak seolah menghapus penat, dan angin laut membawa rasa syukur […]

  • 5 Cara Jitu Cegah Kebakaran Hutan di Garut, Warga Harus Waspada!

    5 Cara Jitu Cegah Kebakaran Hutan di Garut, Warga Harus Waspada!

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 33
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Memasuki musim kemarau, masyarakat Kabupaten Garut perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Cuaca panas, kondisi tanah yang kering, serta banyaknya rumput dan semak yang mudah terbakar dapat membuat api cepat menjalar.   Kebakaran hutan bukan hanya menghanguskan pepohonan. Habitat satwa dapat rusak, kualitas udara terganggu, lahan pertanian terancam, bahkan api […]

  • 5 Rekomendasi Tempat Ngabuburit Instagramable di Garut

    5 Rekomendasi Tempat Ngabuburit Instagramable di Garut

    • calendar_month Minggu, 8 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 238
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang waktu berbuka puasa, banyak masyarakat memanfaatkan waktu dengan ngabuburit atau menunggu adzan Magrib sambil berjalan-jalan. Di Kabupaten Garut, terdapat sejumlah tempat menarik yang tidak hanya nyaman untuk bersantai, tetapi juga memiliki spot foto yang Instagramable. Berikut lima rekomendasi tempat ngabuburit di Garut yang cocok untuk menikmati suasana sore sekaligus berburu foto menarik. 1. […]

expand_less