Breaking News
dark_mode

Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tempe di Era Digital

Sekarang, di tahun 2025, pidato Bung Karno terasa lebih relevan dari sebelumnya. Kita hidup di era digital di mana semua orang bisa bicara, tapi belum tentu mau mendengar. Media sosial jadi ruang publik raksasa—tapi sering kali, alih-alih berdialog, kita justru saling menekan tombol “mute” atau “block”.

Habermas pasti geleng-geleng kepala melihat ruang publik digital ini: bukan arena diskusi rasional, tapi arena debat kusir, hoaks, dan ego pribadi. Di sinilah semangat Bung Karno penting dihidupkan kembali: bangsa besar adalah bangsa yang berani berpikir, berani berbeda, dan berani mendengarkan.

Karena kadang, “mental tempe” modern bukan takut berperang, tapi takut salah di kolom komentar.

Saya sering membayangkan: bagaimana jika Bung Karno dan Habermas duduk bareng di warung burjo (akronim: bubur, ketan, kacang ijo) di depan UIN Bandung?

Mungkin Bung Karno akan bilang, “Habermas, kau ini pintar sekali bicara soal rasionalitas. Tapi percuma kalau rakyatmu masih takut berpikir sendiri!”

Dan Habermas mungkin menjawab, “Benar, Bung Karno. Tanpa keberanian berbicara jujur, demokrasi hanya jadi pertunjukan formalitas.”

Lalu mereka berdua akan tertawa, sambil menyantap tahu goreng dan sepakat: bahwa bangsa besar bukan diukur dari bahan makanannya, tapi dari cara berpikir dan berkomunikasinya.

Sebagai mahasiswa yang pernah terpesona oleh pidato Soekarno dan teori Habermas, saya belajar satu hal penting: mental tempe bukan soal lemah atau kuat, tapi soal keberanian untuk berdialog dengan diri sendiri dan orang lain.

Bung Karno mengajarkan keberanian, Habermas mengajarkan kesetaraan dalam bicara. Dua-duanya mengingatkan kita bahwa bangsa besar tak bisa tumbuh dari keheningan yang penakut, tapi dari percakapan yang jujur dan kritis.

Jadi, kalau hari ini kita bicara soal Indonesia yang lebih maju, mungkin langkah awalnya bukan seminar besar atau kebijakan canggih—melainkan obrolan sederhana di warung kopi, tempat kita berani mengajukan pertanyaan:“Apakah kita masih punya mental tempe… atau sudah belajar jadi bangsa yang bisa berpikir tanpa takut salah?”

Sambil mengunyah tahu bulat digoreng dadakan, di sela tawa membahana, saya yakin Bung Karno akan tersenyum dan berkata, “Yang penting, Nak, jangan cuma baca teori Habermas. Praktekkan dalam cara kamu bicara, berpikir, dan memperjuangkan kebenaran.” *

Komentar

Rekomendasi

  • 5 Gunung Terkenal di Garut, Daya Tarik Wisata Alam dan Pendakian

    5 Gunung Terkenal di Garut, Daya Tarik Wisata Alam dan Pendakian

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang kaya akan pesona alam pegunungan. Deretan gunung yang mengelilingi wilayah ini tidak hanya menawarkan panorama indah, tetapi juga menjadi tujuan favorit para pendaki dan wisatawan. Berikut lima gunung terkenal di Garut yang memiliki daya tarik tersendiri. 1. Gunung Cikuray Gunung Cikuray merupakan […]

  • 5 Alasan Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

    5 Alasan Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di era percakapan digital, grup WhatsApp, Telegram, hingga komunitas media sosial telah menjadi ruang baru untuk membangun relasi. Namun, ada satu kebiasaan yang kerap dianggap lumrah, padahal diam-diam menciptakan jarak sosial: memanggil seseorang dengan gelar akademik atau profesinya secara berlebihan di ruang informal. Panggilan seperti “Pak Dokter”, “Bu Dosen”, “Pak Haji”, “Bos Pengacara”, atau […]

  • Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    Bukan Siswa yang Keras… tapi Belum Tahu Cara Menenangkan Diri

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saya pernah mendampingi seorang siswa laki-laki.   Kalau dilihat sekilas, orang akan cepat memberi label: “emosian”, “pembangkang”, bahkan “bermasalah”.   Dia mudah sekali meledak. Hal kecil bisa jadi besar.   Pernah suatu kali, hanya karena temannya ingkar janji, dia langsung marah besar… bahkan sampai mengancam lewat pesan.   Di waktu lain, dia terlibat perkelahian— […]

  • Efek MBG Makin Dahsyat, Siswa SMK Pun Berani Kritik Presiden

    Efek MBG Makin Dahsyat, Siswa SMK Pun Berani Kritik Presiden

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di sebuah semesta alternatif bernama Republik Kenyang Raya, ada satu hukum alam yang baru saja ditemukan para ilmuwan dari cabang Fisika Teoritis cabang warteg. Semakin sering anak sekolah makan gratis, semakin tinggi level roasting-nya. Hukum ini mulai menyaingi Hukum Newton. Bedanya, kalau Newton jatuhnya apel, kalau ini jatuhnya wibawa pejabat.   Fenomena ini disebut […]

  • Lima Sila sebagai Lima Luka

    Lima Sila sebagai Lima Luka

    • calendar_month Senin, 1 Jun 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, Pancasila tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Ia lebih terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.   Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya.   Pancasila terpajang di dinding; korupsi berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara; keadilan mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato; rakyat kerap hanya […]

  • Si Kabayan, Tokoh Fiksi Sunda dengan Berjuta Cerita Lucu

    Si Kabayan, Tokoh Fiksi Sunda dengan Berjuta Cerita Lucu

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Wargi Garut pasti familiar dengan tokoh fiksi Sunda yang satu ini, Si Kabayan. Tentunya kamu juga mengetahui jika ada banyak cerita dan film yang mengangkat cerita tokoh Si Kabayan. Kali ini Redaksi Tigarut akan mengajak para wargi sadayana mengetahui lebih dalam mengenai sosok kabayan ini. Si Kabayan merupakan tokoh fiktif Sunda yang telah […]

expand_less