Agama Langit dan Agama Bumi
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Sabtu, 21 Feb 2026
- print Cetak

Ilustrasi gen Z berhijab (Foto:f reepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Banyak ustadz menjelaskan agama oleh keharusan agama itu sendiri, bukan oleh batas kemampuan manusia mengamalkannya. Lain kata, mengajarkan agama di langit, bukan agama di bumi. Dalam bahasa Balqis Humaira, “masang ukuran kesalehannya ketinggian.”
Akibatnya dua: Pertama, ajaran agama jadi tidak membumi. Agama jadi hanya teori, bukan praktek atau amal nyata. Agama disebut-sebut kemuliaan ajarannya tapi tidak jadi kesadaran dan perilaku umatnya. Kedua, banyak orang berat dan ribet beragama, bukan oleh agamanya, tapi oleh pikirannya sendiri. Padahal, agama itu mudah, manusialah yang mempersulitnya. “Yassirū wala tuassirū” (Permudahlah, jangan dipersulit).
Yang pertama, diajarkan hampir oleh umumnya ustadz. Yang kedua, diajarkan oleh Gus Baha dan para ulama yang bijaksana, yang teduh dan sejuk mendengarkannya karena ketinggian ilmunya.***
Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Penulis: Redaksi Tigarut
