Breaking News
dark_mode

Atheis ala Achdiat K. Mihardja

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Atheis merupakan novel karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1949 oleh Balai Pustaka. Cetakan ke-2 novel ini diterbitkan pada tahun 1957, cetakan ke-3 pada tahun 1960, cetakan ke-4 pada tahun 1960, cetakan ke-5 pada tahun 1969, cetakan ke-6 pada tahun 1976, cetakan ke-10 tahun 1989, cetakan ke-18 pada tahun 2000, dan cetakan ke-32 tahun 2009. Novel Atheis juga diterbitkan di Malaysia oleh Penerbit Abbas Bandong. Cetakan pertama diterbitkan tahun 1966, cetakan ke-2 tahun 1969, dan cetakan ke-3 tahun 1970.

Atheis diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh R.J. Maguire dan diterjemahkan oleh Achdiat Karta Mihardja tahun 1972. Selain itu, novel ini juga diterbitkan oleh Universitas of Queensland Press, Australia. Novel ini diterbitkan pula dalam seri Asian and Pasific Writing dan diterima dalam Indonesia Series of Translation Collection of the UNESCO. Di samping itu, tahun 1974 Sjuman Djaya mengangkat novel Atheis ini ke dalam film layar lebar dengan pemeran utama Deddy Sutomo.

Novel Atheis terdiri atas 15 bagian. Setiap bagian ditandai dengan huruf Romawi. Novel ini menceritakan kisah hidup Hasan, anak Raden Wiradikarta, pensiunan mantri guru, yang tinggal di kampung Panyeredan, Garut. Keluarga Raden Wiradikarta adalah keluarga yang saleh dan taat menjalankan ajaran agama Islam penganut tarikat. Sejak kecil Hasan sudah mendapat didikan agama secara mendalam. Ia tumbuh menjadi anak yang patuh kepada orang tua dan taat menjalankan ajaran agama. Cerita tentang surga dan neraka sering didengarnya selagi ia kecil, baik dari ibu maupun dari pembantunya.

Setelah dewasa, Hasan mengikuti jejak orang tuanya berguru ke Banten untuk memperdalam ajaran mistik. Hasan melakukan beberapa syarat dalam ajaran itu, misalnya mandi 40 kali dalam satu malam. Akhirnya, Hasan terkena penyakit TBC. Karena taatnya dalam menjalankan ajaran agama, di kalangan teman-temannya sekantor (di Kotapraja Bandung), ia dijuluki sebagai kiyai.

Tanpa diduga, Rusli (teman Hasan waktu kecil) dan Kartini datang ke kantor Hasan . Pertemuan itu sangat penting bagi Hasan. Dalam pandangannya, Kartini mirip sekali dengan Rukmini, pacarnya dulu. Di samping itu, Hasan memandang Rusli dan Kartini terlalu bebas dan modern. Hasan bertekad mengislamkan kedua orang itu yang dipandangnya telah murtad. Namun, Hasan tidak mampu berbuat apa-apa, malah sebaliknya terjerat oleh pokok-pokok pikiran Rusli yang selalu memberikan sanggahan terhadap keyakinan agamanya dengan retorika marxisme. Ia mulai aktif membaca literatur marxisme. Di samping itu, Hasan mulai ikut dalam berbagai kegiatan partai yang diadakan oleh Rusli dan kawan-kawannya.

Hubungan Hasan dengan Kartini dan Rusli makin akrab. Keimanan Hasan yang semula kuat mulai rapuh. Di sisi lain, muncul pula Anwar yang menganggap Tuhan itu madat. Anwar juga menaruh hati kepada Kartini. Kartini pun sering bersikap membuat Hasan cemburu. Untuk itu, Hasan lebih aktif lagi untuk menarik perhatian Kartini.

Hasan pulang ke kampung halamannya dan Anwar ikut serta. Saat itu terjadilah pertentangan paham antara Hasan dan orang tuanya tentang masalah agama dan ihwal memilih pasangan hidup. Ia kembali ke Bandung. Sesampainya di sana, Hasan tetap nekat menikah dengan Kartini.

Waktu terus berlalu, kehidupan rumah tangga Hasan dan Kartini mulai berubah. Hasan mulai tidak percaya terhadap cinta Kartini. Di sisi lain, Hasan selalu teringat akan pertengkaran dengan ayahnya, apalagi setelah ayahnya itu meninggal tanpa memaafkannya. Pertengkaran demi pertengkaran antara Hasan dan Kartini pun terus berlangsung hingga rumah tangga itu menjadi retak. Karena bertengkar, Kartini meninggalkan rumah, ia pergi tanpa tujuan. Akhirnya, ia bertemu dengan Anwar. Berkat rayuan Anwar, mereka tidur di penginapan. Anwar ingin melampiaskan nafsunya. Kartini lari meninggalkan penginapan tersebut.

Hasan kembali teringat kepada Tuhan dan ia menyesali kekeliruannya selama ini. Ia telah kehilangan orang-orang yang dicintainya. Hasan baru pulang dari kampung. Saat itu Bandung dikuasai oleh Jepang dan Jepang sedang mengadakan patroli. Banyak orang berlindung di lubang perlindungan begitu pula Hasan. Sesudah merasa keadaan aman, Hasan keluar dari lubang perlindungan. Sementara itu, penyakit TBC Hasan bertambah parah. Hasan tidak mungkin lagi melanjutkan perjalanan ke tempat tinggalnya sehingga memutuskan untuk mencari penginapan yang terdekat.

Di penginapan itu Hasan menemukan daftar nama Anwar dan Kartini. Hal itu menunjukkan bahwa mereka pernah tidur di situ. Setelah Hasan mendapat penjelasan dari pelayan penginapan itu, dengan emosional ia ingin membalas kelakuan Anwar dan Kartini. Oleh karena itu, Hasan nekad mencari Anwar tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya. Karena disangka mata-mata musuh, Hasan ditembak oleh Jepang dan akhirnya meninggal dunia. Dengan meninggalnya Hasan, Kartini pun putus asa. Kartini merasa berdosa kepada Hasan dan ia tidak tahu bagaimana cara menebus dosanya itu.

Kedudukan Atheis dalam sastra Indonesia sangat penting. Tahun 1969 dengan novel itu, Achdiat memperoleh Hadiah Tahunan Pemerintah Republik Indonesia. Di samping itu, banyak sekali studi, ulasan, atau tanggapan, baik sebagai karya kesarjanaan, makalah, maupun artikel. Pada tahun 1992, Mahayana dkk. mencatat bahwa skripsi untuk sarjana muda tercatat 10 buah yang membahas novel ini (8 buah dari Fakultas Sastra Universitas Nasional, 1 buah dari Universitas Gadjah Mada, dan 1 buah dari Fakultas Sastra, Universitas Indonesia) dan skripsi sarjana tercatat ada 6 buah (1 dari Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, 2 dari Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, 1 dari Universitas Jember, dan 2 dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia), dan tesis S-2 tercatat 1 buah dari Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada.

Penelitian terhadap Atheis yang telah dipublikasikan, antara lain, Roman Atheis Achdiat Karta Mihardja (1962) oleh Boen S. Oemarjati, “Pendekatan kepada Roman Atheis” dalam Sastra Hinia Belanda dan Kita (1983) oleh Subagio Sastrowardoyo, dan Memahami Novel Atheis oleh Kusdiratin, dkk. (1985).

Boen S. Oemarjati dalam Roman Atheis Achdiat Karta Mihardja (1963) berpendapat bahwa betapa istimewanya novel Atheis ini. Sebagai karya sastra, novel ini telah mengangkat pokok persoalannya dengan berani dan jujur dan sudah menjadi sebuah unikum apabila ditilik dari sudut pengarangnya.

Ajip Rosidi dalam Ichtisar Sedjarah Sastra Indonesia (1969) berpendapat bahwa Atheis adalah sebuah roman yang melukiskan kehidupan dan kemelut manusia Indonesia dalam menghadapi berbagai pengaruh dan tantangan zaman. Bentuk roman itu sangat istimewa dan orisinal. Sebelumnya, tak pernah ada karya seperti itu di Indonesia, baik struktur maupun persoalannya.

Kusdiratin et al. dalam Memahami Novel Atheis (1985) antara lain, berpendapat bahwa tema novel Atheis adalah kegoncangan kepercayaan yang disebabkan oleh tidak adanya keseimbangan antara hubungan vertikal dan hubungan horizontal dalam kehidupan manusia. Kegoncangan itu dialami oleh Hasan, seorang pemuda yang isi hatinya mendesak-desak dan terpecah-pecah dalam kegugupan karena tidak bisa memiliki pendirian yang benar.

S. Amran Tasai, dkk. (1997), antara lain, berpendapat bahwa ada beberapa novel yang bertokohkan manusia-manusia penggelisah. Novel itu, antara lain, Atheis. Terungkap berbagai wujud pernyataan kegelisahan seseorang terhadap sesuatu. Kekecewaan Hasan dalam novel itu merupakan kegelisahan orang yang tidak mau mengakui adanya Tuhan.

Komentar

Rekomendasi

  • Ironi Pun Boncel

    Ironi Pun Boncel

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Gibson al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi
    • 0Komentar

    PANAS TIRIS BASEUH TUHUR, NGEUNAH TEU NGEUNAH NU AING, NU KASORANG ULAH NYEMAH, BISI PAJAR DIPILAIN, HIJI BARANG DUA NGARAN, BONGAN DUA NU NGALANDI. (K.H. Hasan Mustapa) Dulu, ceritera epik Pun Boncel bukan merupakan cerita asing. Entah sekarang. Anak desa yang meninggalkan kampung halaman dan ibunya, menjadi pengembala kuda dan akhirnya menjadi seorang bangsawan. Ketika […]

  • Tau Gak Sih? Ada 5 Pondok Pesantren Terbaik di Garut

    Tau Gak Sih? Ada 5 Pondok Pesantren Terbaik di Garut

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM –Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki tradisi pendidikan Islam yang kuat. Banyak pondok pesantren berdiri dan berkembang dengan kualitas pendidikan yang baik, baik dalam bidang keagamaan maupun pendidikan formal. Berikut ini adalah lima pondok pesantren terbaik di Garut yang memiliki reputasi baik dan banyak diminati masyarakat.   1. […]

  • Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut 12.39 Play Button

    Cekungan Berair yang Tersebar Luas Itu Bernama Sarkanjut

    • calendar_month Rabu, 24 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ketika membahas tentang toponimi, ada saja yang menanyakan secara langsung, atau berkomentar dalam media sosial, walau topik yang dibahas berjauhan dengan yang ditanyakan tersebut. Pertanyaannya itu kalau disingkat begini. Mengapa ada nama tempat yang vulgar, tidak senonoh, bahkan terasa cabul. Penanya mencontohkan toponim Sarkanjut di Kabupaten Garut, yang menurut pandangannya toponim itu tidak sopan, karena berhubungan dengan […]

  • Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    Tatarucingan: Kecerdasan Kolektif Warga Sunda

    • calendar_month Rabu, 11 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam khazanah tradisi lisan Nusantara, masyarakat Sunda memiliki sebuah produk budaya yang unik bernama tatarucingan. Meski sering kali dianggap sebagai permainan kata yang remeh atau sekadar hiburan pelepas penat, tatarucingan sejatinya adalah manifestasi dari konsepsi kebudayaan Sunda yang mendalam. Ia merupakan perpaduan antara ketajaman logika, kekayaan bahasa, dan watak masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kejenakaan […]

  • Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    Puncak Prestasi Seorang Muslim 

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Inilah Puncak Prestasi Seorang Muslim 1. Amal-amal kebaikannya lebih banyak dari dosa-dosa dan kesalahannya.   2. Tidak termasuk golongan yang amalnya banyak di hadapan manusia dan banyak menuai pujian manusia, tapi di akhirat hanya debu beterbangan karena tidak bermakna, yang pahalanya dilemparkan ke wajahnya sambil Allah berkata: “Cari pujian manusia dari amal-amalmu!! Kamu […]

  • Waspada Pungli di Pantai Garut Saat Libur Lebaran

    Waspada Pungli di Pantai Garut Saat Libur Lebaran

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Lebaran selalu membawa berkah bagi sektor wisata Garut, terutama kawasan pantai selatan seperti Sayang Heulang, Santolo, dan Rancabuaya. Namun di balik ramainya wisatawan, muncul persoalan klasik yang kembali viral: dugaan pungutan liar (pungli). Dalam beberapa hari terakhir, keluhan wisatawan tentang tarif masuk yang tidak jelas kembali ramai di media sosial, bahkan menjadi perhatian […]

expand_less