Breaking News
dark_mode

Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Sebagai generasi milenial karena lahir tahun 82an, ada juga generasi yang katanya paling adaptif terhadap teknologi, tapi paling tidak adaptif terhadap ketenangan batin. Generasi yang tidak bisa hidup tanpa Wi-Fi, tapi juga tidak bisa hidup dengan terlalu banyak notifikasi. Mereka adalah generasi Z, yang popular dengan istilah “Gen Z”.

Kalau kamu juga Gen Z, kamu tahu betul bagaimana rasanya membuka TikTok “sebentar” lalu sadar dua jam kemudian kamu sudah tahu cara memasak pasta ala Korea, tips skincare dari dokter palsu, dan teori konspirasi kenapa kucing sebenarnya alien. TikTok bukan sekadar aplikasi. Ia adalah semesta paralel tempat kita menertawakan hidup, merenungkan eksistensi, dan—ironisnya—melarikan diri dari dunia nyata sambil pura-pura produktif.

Scroll Tidak Berujung

Saya masih ingat waktu pertama kali download aplikasi TikTok di Play Store. Waktu itu, saya bilang ke diri sendiri, “Cuma pengin lihat tren aja, kok.” Kalimat paling bohong sepanjang sejarah modern. Tiga jam kemudian saya sudah hafal semua koreografi Renegade, dan algoritma.Akhirnya,  TikTok sudah hafal semua kelemahan mental-ku.

Awalnya cuma nonton video lucu. Tapi lama-lama, menemukan sesuatu yang lebih dalam: semacam cermin sosial yang memperlihatkan siapa kita sebenarnya—atau siapa yang ingin kita tampilkan. Di dunia nyata, saya sering diam, tapi di TikTok aku bisa voice over pemikiran absurd seperti “Apakah tanaman juga overthinking saat tidak disiram?” dan anehnya… ribuan orang relate.

Menurut data We Are Social (2025), 87 persen Gen Z di Indonesia menggunakan TikTok setiap minggu, dan rata-rata waktu tonton mencapai 115 menit per hari. Itu dua kali lebih lama dari rata-rata waktu makan, dan lima kali lebih lama dari waktu merenung soal masa depan.

Sebuah studi dari Pew Research (2024) juga menunjukkan bahwa 62 persen Gen Z merasa media sosial membuat mereka lebih kreatif, tapi 58 persen juga merasa media sosial memperburuk kesehatan mental mereka. Sebuah paradoks yang sempurna—kita hidup dalam dunia yang membuat kita sekaligus terinspirasi dan insecure pada saat yang sama. Jujur saja, saya pernah di fase itu: ngerasa hidupku “biasa-biasa aja” setelah nonton vlog orang yang morning routine-nya penuh lilin aromaterapi dan jurnal syukur, padahal aku aja bangun masih bingung ini hari apa.

TikTok punya kemampuan mistis: ia tahu apa yang kamu pikirkan sebelum kamu tahu. Saya pernah nonton satu video tentang burnout, dan tiga jam kemudian FYP-ku penuh dengan konten “cara mengatasi burnout”, “tanda kamu overthinking”, dan “lagu yang bikin nangis jam 2 pagi.”

Algoritma TikTok seperti terapis digital yang sok tahu—memberimu saran tanpa kamu minta. Tapi di sisi lain, ia juga membangun ruang keintiman baru. Saya menemukan banyak hal dari TikTok: tips karier, edukasi finansial, bahkan diskusi filosofis tentang “absurditas eksistensi modern”. TikTok bukan cuma hiburan. Ia adalah cultural classroom tempat kita belajar bahasa internet, tren global, dan humor yang sering kali lebih jujur dari politik.

Namun, tidak semua hal yang viral membawa makna. Kadang merasa kita semua sedang berkompetisi untuk jadi versi terbaik dari diri yang bahkan tidak nyata. Saya pernah membuat satu video reflektif soal “generasi yang kehilangan arah tapi tetap berusaha tertawa”—dan tanpa sengaja, video itu viral. Ironisnya, komentar paling banyak justru, “Filter apa tuh, Kak?”

Itulah media sosial: tempat di mana pesan eksistensial bisa kalah populer dengan efek visual.
Dan saya sadar, bagian tersulit dari menjadi Gen Z bukan soal teknologi, tapi soal membedakan “diri yang asli” dengan “diri yang diatur cahaya ring light”.

Menurut survei Deloitte (2024), 71 persen Gen Z merasa tekanan untuk selalu terlihat ‘baik-baik saja’ di media sosial. Padahal, kalau semua orang terlihat bahagia, siapa yang sebenarnya sedang menangis di balik filter “soft glow”?

Komentar
  • Penulis: Sukron Abdilah
  • Editor: SAB

Rekomendasi

  • 5 Tradisi Unik Lebaran di Garut. Apa Aja?

    5 Tradisi Unik Lebaran di Garut. Apa Aja?

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lebaran di Garut bukan sekadar momen saling memaafkan, tetapi juga ruang hidup bagi tradisi yang sarat makna. Di tengah suasana pegunungan yang sejuk dan budaya Sunda yang kental, masyarakat Garut merayakan Idulfitri dengan cara-cara khas yang diwariskan turun-temurun. Berikut lima tradisi unik Lebaran di Garut yang menarik untuk disimak:   1. Ngaliwet Bareng […]

  • Umrah Akbar Santri Angkatan Ke-5 Ma’had Darul Arqam Garut

    Umrah Akbar Santri Angkatan Ke-5 Ma’had Darul Arqam Garut

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Daerah Garut kembali menyelenggarakan umrah akbar santri angkatan ke-5. Umrah akbar merupakan program unggulan Ma’had Darul Arqam yang dikhususkan untuk santri yang bisa menuntaskan pendidikannya selama 6 tahun. Jamaah yang diberangkatkan tahun ini sejumlah 221 orang, terdiri dari 88 orang santri putra, 97 orang santri putri dan 36 orang […]

  • Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pagi tadi saya seperti manusia yang sedang ditarik dua dunia. Dunia orang hidup yang masih sibuk menghitung jam keberangkatan, dan dunia kematian yang tak pernah peduli jadwal manusia. Saya ingin pulang kampung pukul 07.00 WIB. Ingin cepat. Ingin sekali ikut memandikan abang kandung saya, Iskar Dinata. Ingin ikut menyolatkan. Ingin ikut menguburkan. Tapi manusia […]

  • Qurban Etis

    Qurban Etis

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, di setiap musim qurban, gema takbir naik bersama bau darah yang mengalir di berbagai sudut negeri. Pisau diasah, hewan direbahkan, lalu manusia merasa menunaikan kesalehan warisan Ibrahim. Namun sebagian pemikir Islam kontemporer mengajukan pertanyaan mengusik: apakah Tuhan memerlukan begitu banyak darah untuk membuktikan ketakwaan manusia?   Mereka tidak menolak qurban. Itu dipahami sebagai […]

  • Wakil Bupati Garut Putri Karlina Targetkan PKL Naik Kelas

    Wakil Bupati Garut Putri Karlina Targetkan PKL Naik Kelas

    • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Wakil Bupati Garut Putri Karlina meninjau Garut Plaza di Jalan Guntur, Kecamatan Garut Kota (27/2/2026) untuk memastikan kesiapan Bazar Ramadan sekaligus merelokasi pedagang kaki lima dari Jalan Ahmad Yani ke dalam gedung guna menata kota dan menggerakkan ekonomi warga. Putri Karlina menemukan lantai dua pusat perbelanjaan tersebut masih didominasi ruang kosong yang belum dimanfaatkan secara […]

  • Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pesona Lapangan Golf Ngamplang menjadi tempat berolahraga dan wisata keluarga favorit di Kabupaten Garut. Tak hanya untuk bermain golf, sebagian lapangan di sini dibuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat wisata. Saat berwisata di sini, pengunjung tidak perlu lagi khawatir terkena lemparan bola golf yang keras, karena lapangan tempat bermain golf dan lapangan yang […]

expand_less