Breaking News

Gen Z dan TikTok: Scroll Nggak Jelas Bikin Kelelahan Digital di Ranah Algoritmik

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
  • visibility 911
  • print Cetak

“Bencana Demografi” Gen Z di Era Algoritmik

Saya pernah membaca di berita bahwa Indonesia sedang bersiap menghadapi bonus demografi—masa di mana jumlah penduduk usia produktif jauh lebih besar daripada usia nonproduktif. Di atas kertas, ini terdengar seperti kabar baik. Tapi ketika saya menatap cermin (dan layar ponsel), saya merasa yang datang bukan bonus, melainkan bencana demografi versi Gen Z: banyak yang muda, pintar, kreatif… tapi juga cemas, bingung, dan terjebak algoritma.

Saya lahir di generasi yang katanya “digital native”. Kami tidak belajar teknologi—kami tumbuh didalamnya. Waktu saya masih SD, Facebook jadi taman bermain. Saat kuliah, Instagram berubah jadi katalog kehidupan ideal. Dan sekarang, di usia kerja, TikTok menjadi tempat kami mencari validasi, hiburan, bahkan identitas.

Namun, di balik semua kemudahan itu, ada paradoks besar: semakin terkoneksi, semakin terfragmentasi. Semakin tahu banyak hal, semakin sulit fokus pada satu hal.

Bonus Demografi yang Tersesat

Kata Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2030–2040 Indonesia akan menikmati puncak bonus demografi, dengan sekitar 64 persen penduduk berusia produktif. Di seminar-seminar ekonomi, angka ini disebut peluang emas. Tapi di dunia digital saya, peluang emas itu kadang tampak seperti beban emosional kolektif.

Coba lihat teman-teman saya. Sebagian sibuk ikut kelas “How to be productive in your 20s”, sebagian lain ikut webinar “Healing for the Burnout Generation”, dan sisanya—termasuk saya—menonton semuanya lewat TikTok sambil rebahan.

Menurut survei Katadata Insight (2024), 1 dari 3 Gen Z Indonesia mengaku mengalami burnout bahkan sebelum usia 25 tahun. Bayangkan, baru saja mulai bekerja, tapi sudah merasa lelah dengan hidup yang belum sempat dimulai. Mungkin ini yang disebut bencana demografi digital: ketika potensi produktif generasi muda terkikis bukan karena kemiskinan, melainkan oleh algoritma yang terlalu pandai mengatur emosi manusia.

Hidup dalam Ekonomi Atensi

Dulu, sumber daya paling berharga adalah minyak. Sekarang: perhatian. Setiap detik perhatian Gen Z bernilai bagi perusahaan digital. TikTok, Instagram, YouTube—semuanya berperang merebut waktu tonton kita. Jujur saja, saya sendiri tidak luput. Awalnya saya membuka TikTok untuk mencari ide tulisan. Lima menit pertama penuh wawasan. Lima belas menit kemudian, saya sudah menonton kucing menari dan teori konspirasi tentang “pola tidur orang sukses.” Dua jam berlalu, ide tulisan lenyap, tapi rasa bersalah datang menyerbu.

Inilah ironi algoritmik: ia memberi kita sensasi terkoneksi dengan dunia, tapi diam-diam mencuri kemampuan kita untuk berpikir dalam diam. Menurut studi DataReportal 2025, rata-rata pengguna Gen Z Indonesia menghabiskan 3 jam 47 menit per hari di media sosial. Itu berarti hampir dua bulan dalam setahun hanya untuk menatap layar—belum termasuk waktu overthinking setelahnya.

Generasi sebelum kami mengenal “panggung politik”, sedangkan kami hidup di “panggung digital.” Dulu orang sibuk mencalonkan diri jadi pejabat, kini kami mencalonkan diri jadi viral. Saya pernah memposting video naratif tentang keresahan generasi muda di dunia kerja. Isinya cukup serius. Tapi yang paling banyak dikomentari justru: “Lighting-nya bagus, pake apa, Kak?”

Itu momen ketika saya sadar: di era algoritmik, pesan sering kalah dari penampilan. Dan ini bukan sekadar persoalan gaya hidup, tapi juga masalah eksistensial. Menurut laporan Deloitte (2024), 71 persen Gen Z merasa tekanan besar untuk terlihat bahagia dan sukses di media sosial, meski kenyataannya mereka sedang berjuang di dunia nyata. Akibatnya, banyak dari kami hidup dalam dua dunia: satu yang indah di layar, satu yang berantakan di kepala.

  • Penulis: Sukron Abdilah
  • Editor: SAB

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    Deklarasi Gerakan Rukun Sama Teman di Garut

    • calendar_month Minggu, 11 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 235
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti bersama ratusan murid di SMPN 1 Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan Gerakan Rukun Sama Teman sebagai upaya menumbuhkan budaya sekolah yang aman dan nyaman. “Pendidikan nasional bertujuan untuk membangun generasi bangsa yang unggul, membentuk sumber daya manusia hebat, dan generasi muda yang […]

  • Inilah Pengurus PWRI 2026-2031, Bupati Garut: Pensiun Bukan Halangan Berkontribusi bagi Bangsa

    Inilah Pengurus PWRI 2026-2031, Bupati Garut: Pensiun Bukan Halangan Berkontribusi bagi Bangsa

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 264
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Garut Kota – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, secara resmi mengukuhkan Pengurus Persatuan Wreda Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Garut Masa Bakti Tahun 2026-2031. Prosesi pengukuhan yang berlangsung khidmat ini dilaksanakan di Ruang Pamengkang, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (22/1/2026). Bupati Abdusy Syakur Amin menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada para pensiunan Aparatur Sipil Negara […]

  • 5 Fakta Nyanet Festival 2026, Tradisi Minum Teh yang Mengangkat Pariwisata Garut

    5 Fakta Nyanet Festival 2026, Tradisi Minum Teh yang Mengangkat Pariwisata Garut

    • calendar_month Selasa, 4 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 109
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Nyanet Festival 2026 kembali menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu menjadi kekuatan budaya sekaligus penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat. Festival yang digelar di Lapangan Situgede, Desa Cigedug, Kecamatan Cigedug, Kamis (30/7/2026), menghadirkan tradisi minum teh khas masyarakat pegunungan Garut yang telah diwariskan secara turun-temurun. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur […]

  • Bekas Jembatan KA Citameng, Saksi Bisu Jalur Kereta Garut

    Bekas Jembatan KA Citameng, Saksi Bisu Jalur Kereta Garut

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 23
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tengah rimbunnya pepohonan dan perkampungan, sebuah jembatan rangka baja berwarna merah kecokelatan masih berdiri melintasi aliran Kali Citameng. Inilah bekas Jembatan Kereta Api Citameng, salah satu peninggalan jalur kereta api Cibatu–Garut.   Foto dokumentasi yang diambil pada 2016 ini memperlihatkan kondisi jembatan sebelum jalur tersebut kembali direaktivasi. Pada masa itu, sebagian besar jalur […]

  • 8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    8 Tips Aman Lewat Tanjakan Panganten Garut. Simak Baik-baik Ya!

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 318
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tanjakan Panganten di Garut dikenal sebagai salah satu jalur pegunungan paling menantang. Jalan curam, tikungan tajam, jurang di sisi jalan, serta kabut yang sering turun bikin pengendara wajib ekstra waspada. Biar perjalanan tetap aman, perhatikan tips berikut ini. 1. Pastikan Kendaraan dalam Kondisi Prima Sebelum melintas, cek rem, kopling, ban, dan mesin. Untuk […]

  • 5 Tips Ampuh Mencegah Keracunan MBG, Belajar dari Kasus di Cibatu Garut

    5 Tips Ampuh Mencegah Keracunan MBG, Belajar dari Kasus di Cibatu Garut

    • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 77
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kasus dugaan keracunan yang dialami lebih dari 100 pelajar di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, menjadi pengingat bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga kini, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dari pihak berwenang.   Berikut lima langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kejadian serupa:   […]

expand_less