Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang
- account_circle Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
- calendar_month Senin, 4 Mei 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — “Don’t Judging” — Catatan Pagi dari Obrolan Anak SD
Pagi ini di sela-sela ribetnya siap berangkat sekolah, Ni Luh tiba-tiba nanya, “Mom, waktu aku bayi gendut ya?”
“Iya… tapi cantik dan menggemaskan,” jawabku cepat.
Dia diam sebentar, lalu lanjut, “Nanti pas aku Junior High School, aku nggak tahu wajahku jadi gimana. Gemuk atau nggak…”
Aku tersenyum, “Yang penting kamu sehat and don’t judge people.”
Dia langsung nyaut, kritis khas anak kecil :
“What about the President, Mom? Are we allowed to judge him if he’s wrong because he doesn’t build good schools for children in Aceh and Sumatra, also he does something bad like MBG?. You know MBG make a children poisoning.”
Macam obrolan anak kuliahan. Aku terdiam sebentar mencari kata yang pas untuk jawaban anak anak. “Iya. Boleh.” Sebagai masyarakat, kita justru harus berani bersuara. Membantah ketidakadilan. Mengkritik pembiaran. Apalagi kalau itu menyangkut pendidikan dan kemanusiaan.
Anakku menyimak dengan teliti. Ternyata anak kecil saja tahu bedanya antara menghakimi orang dan mengkritik kekuasaan. Nah, kita yang dewasa, masih bisa bedain?
Jadi kalau ada ASN atau pegawai negeri kritis pada kebijakan pemerintah itu justru karena dia cinta pada negaranya, dan bukan budak pemerintah.
Sebab, yang kita kritisi itu bukan hal-hal pribadi. Bukan urusan sensasi atau seksual yang menyimpang. Tapi penyalahgunaan wewenang.
Karena Presiden bukan sekadar individu, hidup di Istana untuk dirinya dan kekasihnya. Dia pemegang mandat rakyat. Setiap keputusan berdampak pada jutaan hidup. MBG misalnya. Dari keputusan arogan berkedok gizi berujung pada bangsal bangsal Rumah Sakit. Pamer pesta ulang tahun ajudan special bernama Teddy di tengah kunjungan kenegaraan. Sementara pada saat yang sama, keberpihakan untuk guru dan anak sekolah nyaris tak terlihat.
Saat kampanye joget joget dan gebrak meja tapi saat anak-anak menyebrang sungai dg tali besi dia tak terlihat.
Ini baru satu catatan kecil. Di luar sana, mata rakyat menyimpan lebih banyak lagi bahkan lebih mengerti dari para Menteri-menterinya.
Thanks to my sunshine.
- Penulis: Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
