Breaking News

Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

  • account_circle Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
  • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
  • visibility 162
  • print Cetak

TIGARUT.COM — “Don’t Judging” — Catatan Pagi dari Obrolan Anak SD

 

Pagi ini di sela-sela ribetnya siap berangkat sekolah, Ni Luh tiba-tiba nanya, “Mom, waktu aku bayi gendut ya?”

“Iya… tapi cantik dan menggemaskan,” jawabku cepat.

 

Dia diam sebentar, lalu lanjut, “Nanti pas aku Junior High School, aku nggak tahu wajahku jadi gimana. Gemuk atau nggak…”

 

Aku tersenyum, “Yang penting kamu sehat and don’t judge people.”

 

Dia langsung nyaut, kritis khas anak kecil :

“What about the President, Mom? Are we allowed to judge him if he’s wrong because he doesn’t build good schools for children in Aceh and Sumatra, also he does something bad like MBG?. You know MBG make a children poisoning.”

 

Macam obrolan anak kuliahan. Aku terdiam sebentar mencari kata yang pas untuk jawaban anak anak. “Iya. Boleh.” Sebagai masyarakat, kita justru harus berani bersuara. Membantah ketidakadilan. Mengkritik pembiaran. Apalagi kalau itu menyangkut pendidikan dan kemanusiaan.

 

Anakku menyimak dengan teliti. Ternyata anak kecil saja tahu bedanya antara menghakimi orang dan mengkritik kekuasaan. Nah, kita yang dewasa, masih bisa bedain?

 

Jadi kalau ada ASN atau pegawai negeri kritis pada kebijakan pemerintah itu justru karena dia cinta pada negaranya, dan bukan budak pemerintah.

 

Sebab, yang kita kritisi itu bukan hal-hal pribadi. Bukan urusan sensasi atau seksual yang menyimpang. Tapi penyalahgunaan wewenang.

 

Karena Presiden bukan sekadar individu, hidup di Istana untuk dirinya dan kekasihnya. Dia pemegang mandat rakyat. Setiap keputusan berdampak pada jutaan hidup. MBG misalnya. Dari keputusan arogan berkedok gizi berujung pada bangsal bangsal Rumah Sakit. Pamer pesta ulang tahun ajudan special bernama Teddy di tengah kunjungan kenegaraan. Sementara pada saat yang sama, keberpihakan untuk guru dan anak sekolah nyaris tak terlihat.

 

Saat kampanye joget joget dan gebrak meja tapi saat anak-anak menyebrang sungai dg tali besi dia tak terlihat.

 

Ini baru satu catatan kecil. Di luar sana, mata rakyat menyimpan lebih banyak lagi bahkan lebih mengerti dari para Menteri-menterinya.

 

Thanks to my sunshine.

  • Penulis: Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 230
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.   Kamis malam, 12 Maret 2026.   Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor […]

  • Jangan Salah Pilih, Ini 5 Ciri Domba Garut yang Layak Kurban

    Jangan Salah Pilih, Ini 5 Ciri Domba Garut yang Layak Kurban

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang Iduladha, permintaan terhadap domba kurban meningkat tajam. Namun, memilih domba bukan hanya soal ukuran tubuh atau tanduk yang gagah. Hewan kurban harus dipastikan sehat, layak, dan aman agar ibadah berjalan sempurna sekaligus terhindar dari risiko penyakit.   Terlebih, Domba Garut dikenal sebagai salah satu domba unggulan dengan postur kuat dan nilai budaya […]

  • Saatnya Akademisi Jadi Katalisator Pembangunan Desa

    Saatnya Akademisi Jadi Katalisator Pembangunan Desa

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 285
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri acara Penutupan Kegiatan Program Kuliah Kerja Nyata Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (KKN Gradasi) Tahun 2025, yang dilaksanakan di Halaman Gedung Pendopo Garut, Jalan Kabupaten, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, Kamis (8/1/2026). Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin menekankan bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan bagian […]

  • Qurban Etis

    Qurban Etis

    • calendar_month Rabu, 27 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 127
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, di setiap musim qurban, gema takbir naik bersama bau darah yang mengalir di berbagai sudut negeri. Pisau diasah, hewan direbahkan, lalu manusia merasa menunaikan kesalehan warisan Ibrahim. Namun sebagian pemikir Islam kontemporer mengajukan pertanyaan mengusik: apakah Tuhan memerlukan begitu banyak darah untuk membuktikan ketakwaan manusia?   Mereka tidak menolak qurban. Itu dipahami sebagai […]

  • Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 88
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — 20 juta lebih rakyat Iran yang hadir dan menangis sedih karena pemimpin yang dicintainya syahid, dikatakan Trump sebagai “air mata palsu.” ODGJ gini pantesnya diapain gaess? Ini sudah penghinaan. Tapi wajar sih, karena itu memang stupidity (kebodohan).   Kalimat presiden negara besar seperti ini menyimbolkan betapa spritualitas Amerika Serikat benar-benar kosong, garing, nihil dari […]

  • Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    Dedi Mulyadi dan Wacana Bayar Jalan: Rakyat Jangan Terus Diperas

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • visibility 137
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dedi Mulyadi melempar wacana penghapusan pajak kendaraan bermotor lalu menggantinya dengan sistem bayar jalan provinsi. Sekilas terdengar modern dan inovatif. Dibungkus dengan istilah “keadilan”: siapa yang sering memakai jalan, dia yang lebih banyak membayar.   Tetapi rakyat tidak hidup dari istilah. Rakyat hidup dari pengeluaran sehari-hari.   Hari ini masyarakat sudah dibebani: harga sembako […]

expand_less