Breaking News

Amerika Kalah dalam Systemic War?

  • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
  • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
  • visibility 171
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Siapa pemenang perang ini? AS-Israel? Atau Iran?

Menurut saya, pertanyaan hitam-putih seperti itu didasarkan pada asumsi bahwa perang adalah sesuatu yang langsung (direct), satu atau dua front, dan simetri. Taktik perang langsung untuk meraih strategi. Siapa yang kalah di medan front tempur (battle), dia kalah juga di peperangan (war).

 

Tapi sekarang ini perang bukan lagi direct war, tapi systemic war. Front-nya banyak: militer, ekonomi, energi, geopolitik aliansi, mata uang, digital, semikonduktor, Artificial Intelligence, proxy, produksi, dan lain-lain. Semua saling terkait. Front Iran juga memengaruhi front Taiwan, Ukraina, Laut Cina Selatan dan lain-lain. Front AS-Iran juga memengaruhi aliansi NATO. Front Hormuz memengaruhi energi dunia. Belum lagi tekanan dedolarisasi dan naiknya mata uang yuan dalam perdagangan dunia. Efek perang AS/Israel-Iran ini sistemik.

Perang AS-Iran itu mendisrupsi tatanan global.

 

Perang modern juga punya front lain: narasi. Sebuah negara juga harus bertempur di narasi global. Amerika harus merebut simpati dunia. Semua negara yang terlibat juga membuka pertempuran narasi. China, Israel, Amerika, Rusia, Iran, Arab, Palestina, Eropa memframing perang ini.

 

Dalam systemic war ini, Israel sebagai system trigger. Dia yang mentrigger perang sistemik ini. AS sebagai system defender, karena dia ingin mempertahankan sistem lama. Iran sebagai system disruptor, karena ketahanan dia sudah mendisrupsi tatanan dunia.

 

Untuk menilai apakah sebuah perang berhasil mencapai tujuannya atau tidak, saya cenderung menggunakan teori perangnya von Clausewitz. Dia mengatakan: perang adalah kelanjutan politik. Jadi, berhasil atau tidaknya sebuah negara dalam peperangan adalah apakah perang itu berhasil mencapai tujuan politik negara itu? Tujuan politik itulah yang disebut strategi.

 

Jadi, kalau ditanya apakah Amerika memenangkan peperangan ini, kita harus melihat apa sih strategi (tujuan politik) AS?

 

Kita harus merujuk kepada National Security Strategy (NSS) yang dicanangkan Donald Trump pada November 2025. Dalam NSS ini, AS akan fokus pada :

 

1. Belahan bumi barat (western hemisphere). Dia mengaktifkan lagi Doktrin Monroe bahwa tidak boleh ada kekuatan asing di benua Amerika. Karena itu, dia menyerang Venezuela, mengklaim Greenland, dan ingin menjadikan Kanada sebagai negara bagian. Dia juga mau merebut Terusan Panama.

 

2. Amerika ingin fokus pada Indo-Pasifik. Titik api di kawasan ini ada di Taiwan dan Lauct Cina Selatan. Taiwan adalah harta kekayaan luar biasa bagi AS. Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) adalah penghasil 90 persen semikonduktor dunia. Di sini chip milik AS dibuat: Nvidia, Intel, dll. Tak ada satupun dari kita yang tidak menggunakan semi konduktor: HP, alat-alat rumahtangga, jam, mobil, motor, sampai pesawat ruang angkasa.

 

3. Amerika tak ingin lagi jadi provider keamanan Eropa. Trump ingin agar Eropa bisa mandiri menjamin keamanan kawasan sendiri. From provider to enabler.

 

4. Amerika ingin mundur dari Asia Barat (Timur Tengah), dan Israel adalah anchor of security di kawasan ini. Amerika tak ingin terjerumus dalam perang abadi di Asia Barat.

 

Empat poin di atas adalah strategi keamanan Amerika. Tapi apakah Amerika on track?

 

Perang Iran ini malah menyerat AS makin dalam, bahkan memerangkapnya dalam perang yang berkepanjangan di Asia Barat. Front-front lain terbuka bak kotak Pandora. China senang, karena perhatian dan sumber daya militer AS terdistraksi dari Taiwan dan Laut China Selatan. Bejing juga suka, karena Arab menggunakan mata uang yuan dalam transaksi migas.

 

Putin juga gembira, AS terbelokkan dari isu Ukraina. Moskow gembira karena Eropa pecah, dan NATO mulai gesekan dengan Amerika. Putin riang karena harga minyaknya naik di atas 100 dolar per barel. Tahun 2025, pertumbuhan ekonominya cuma 1%. Gara-gara kenaikan harga minyak, pertumbuhan ekonominya tahun 2026 ini diperkirakan melonjak ke 4%. Putin dekat dengan Iran karena Rusia ingin ada jalur logistik ke arah Samudra Hindia. Jalur laut Rusia selama ini lewat Laut Mediterania yang terkepung Eropa dan Israel. Jalur lain: di Vladivostok, tapi di situ ada Jepang dan jejaring pangkalan Amerika mulai dari Jepang, Taiwan, hingga Filipina atau First Island Chain. Mendukung Iran berarti menjamin jalur ke Samudra Hindia.

 

Iran juga ingin agar Asia Barat terbebas dari pangkalan AS. Ada 19 pangkalan AS di kawasan ini dengan 50.000 tentara. Iran mengebom basis-basis militer ini, sehingga prajurit AS banyak yang WFH (work from hotel). Arab menjadi was was. Ternyata perlindungan Amerika tidak bisa mencegah bom-bom Iran.

 

Arab Saudi segera menggandeng Pakistan, negara nuklir yang berbatasan dengan Iran. Pakistan beberapa waktu lalu berperang dengan Iran karena soal teroris di Baluchistan. Jangan lupa ya, banyak orang tidak ngeh bahwa Pakistan punya peran penting dalam menjadikan Korea Utara sebagai negara nuklir. Adalah ilmuwan nuklir Pakistan Abdul Qadir Khan yang membantu perencanaan nuklir Korut.

 

Teman-teman sila baca grafis di atas. Saya pakai judul mengapa Amerika kalah dalam systemic war ini. Karena menurut teori von Clausewitz, kalau pertempuran tak memenangkan strategi, ya dia kalah perang.

 

Dalam systemic war, negara yang kuat militer belum tentu menang perang. Dan negara lemah belum tentu kalah perang.

 

  • Penulis: Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 88
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar.   Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi […]

  • Logika Geopolitik Trump

    Logika Geopolitik Trump

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, Odesa Indonesia, geopolitics enthusiast,
    • visibility 239
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Serbuan Amerika Serikat ke Venezuela tidak dapat dipahami semata sebagai isu demokrasi, HAM, atau krisis ekonomi domestik. Ia harus dibaca dalam kerangka yang lebih dalam: kembalinya logika klasik keamanan Amerika di Belahan Bumi Barat (Western Hemisphere). Kita harus melihatnya dari Doktrin Monroe. James Monroe (1758–1831) adalah Presiden ke-5 Amerika Serikat, menjabat pada 1817–1825. Ia […]

  • Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    Asal-Usul Kandang Wesi Garut: Antara Sejarah dan Cerita Rakyat

    • calendar_month Sabtu, 1 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 131
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di wilayah selatan Kabupaten Garut terdapat sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Kandang Wesi. Nama ini telah dikenal sejak lama dan masih menjadi bagian dari identitas masyarakat setempat. Namun, hingga kini belum ditemukan sumber sejarah primer yang secara pasti menjelaskan bagaimana nama Kandang Wesi pertama kali muncul. Oleh karena itu, asal-usulnya lebih banyak hidup […]

  • Muhammad MBG Subianto

    Muhammad MBG Subianto

    • calendar_month Rabu, 15 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Saking Ngefannya, Ibu Ini Kasih Nama Anaknya “Muhammad MBG Subianto” TIGARUT.COM — Untuk menghibur fans Prancis yang baru saja disingkirkan Spanyol 2-0, ada baiknya baca narasi ini. Kalian boleh ngefan sama Mbappe. Tapi, ibu ini malah ngefan sama MBG dan Prabowo Subianto. Begitu anaknya lahir dinamai dengan Muhammad MBG Subianto. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak! […]

  • MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    MBG Bermanfaat atau Tidak? Dijawab, “Tidaaak!”

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 157
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini bukan kuis berhadiah. Bukan polling Instagram, apalagi voting dangdut. Ini panggung nyata Hari Buruh 1 Mei 2026, ketika satu pertanyaan sederhana berubah jadi komedi nasional yang bikin netizen nyeduh Koptagul sambil ketawa miring.   Ceritanya begini, wak! Di tengah lautan buruh yang jumlahnya bukan kaleng-kaleng, Presiden Prabowo Subianto tampil penuh percaya diri. Gesture […]

  • Si Kabayan Ngalamar Gawé ka Média Online

    Si Kabayan Ngalamar Gawé ka Média Online

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 248
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan geus bosen dicarékan waé ku mertuana alatan dianggap pangangguran abadi. Poe harita, manéhna nekat rék ngalamar gawé ka kantor média online “tigarut.com”. Manéhna datang maké sapatu bot sabelah jeung sapatu kets sabelah, bari mawa map coklat nu geus kuleuheu. “Bah, ieu daptar riwayat hirup Kabayan,” ceuk Kabayan bari masrahkeun keretas ka […]

expand_less