Breaking News
dark_mode

Harlah NU ke-103 di Pasirwangi, Warga Nahdliyin Sinergi Bangun Daerah

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM, Pasirwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengapresiasi peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan merawat tradisi Islam yang moderat (wasathiyah). Hal ini disampaikan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang dilaksanakan di Lapangan Desa Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jum’at (23/1/2026).

Staf Ahli Bupati Garut, Maskut Farid, yang hadir mewakili Pemerintah Daerah, menyampaikan bahwa tema Harlah tahun ini, “Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat, untuk Garut Hebat Maslahat”, sangat relevan dengan upaya percepatan pembangunan daerah di bidang pendidikan, ekonomi, dan pelayanan publik.

“Pemerintah Daerah menyadari bahwa peran NU tidak hanya di bidang keagamaan, tetapi juga sangat besar dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya di pendidikan, kesehatan, dan penguatan nilai-nilai persatuan di masyarakat,” ujar Maskut dalam sambutannya.

Ia juga menekankan pentingnya peran NU sebagai benteng moral di era digital untuk menangkal isu provokatif dan hoaks.

“Di tengah tantangan zaman dan era digital, saya berharap NU tetap menjadi benteng moral bagi generasi muda dan terus konsisten memupuk semangat persatuan, menghindari isu provokatif, dan juga hal-hal yang bersifat hoaks,” tambahnya.

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut, KH. Atjeng Abdul Wahid, menegaskan pentingnya inklusivitas dalam berorganisasi. Ia meminta seluruh pengurus di tingkat ranting, anak ranting, hingga Majelis Wakil Cabang (MWC) untuk tidak membuat sekat dengan masyarakat di luar NU.

“Nahdlatul Ulama mah kedah tiasa sasarengan (harus bisa bersama-sama), muhun (iya), sareng anu dipayuneun urang (dengan yang di depan kita), sareng anu dipengkereun urang (dengan yang di belakang kita), anu aya di palih kanan urang (yang ada di sebelah kanan kita), aya di palih kiri urang (ada di sebelah kiri kita), itu sami-sami saderek wargi urang (itu sama-sama saudara warga kita),” tegas Ketua PCNU Garut.

Ia menambahkan bahwa perbedaan adalah modal untuk fastabiqul khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan). Terkait rangkaian Harlah NU 100 Tahun versi Masehi di Kabupaten Garut, Ia menjelaskan bahwa kegiatan di Pasirwangi ini merupakan titik awal sebelum menuju rangkaian acara berikutnya.

“Dilanjut nanti tanggal 26 di SOR, sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja dari per-MWC itu harus mengikuti 5 orang untuk mengikuti Musyawarah Kerja,” jelasnya.

PCNU Garut juga menginstruksikan kepada sekitar 2.800 kader yang telah lulus pendidikan dasar untuk hadir dalam Apel Kader yang akan digelar pada 29 Januari 2026 di Masjid Al Jabbar Mekarmukti. Terlebih, acara tersebut akan dihadiri oleh perwakilan dari Pengurus Besar (PB) maupun Pengurus Wilayah (PW) NU.

Komentar
  • Penulis: Redaksi Tigarut
  • Editor: SAB

Rekomendasi

  • 5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    5 Tokoh Asal Garut yang Menginspirasi, dari Pendopo hingga Panggung Nasional

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut selalu punya cara untuk membuat orang rindu. Bukan hanya karena dodol, gunung, dan hamparan kebun tehnya, tetapi juga karena tanah ini melahirkan banyak sosok besar yang jejaknya melampaui batas kota. Dari kaki Gunung Cikuray hingga hiruk-pikuk Alun-alun Garut, lahir nama-nama yang memberi warna bagi pendidikan, budaya, musik, hingga pemerintahan nasional. Di setiap sudut […]

  • Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    Psikologi Islam dan Paradigma Keilmuan Konseling Islam

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen Pascasarjana UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM —   Buku Psikologi Islami: Sejarah, Corak dan Model karya Sekar Ayu Aryani (2018) memberikan kontribusi penting dalam membangun fondasi epistemologis psikologi berbasis Islam yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga metodologis dan ilmiah. Pemikiran dalam buku ini memiliki relevansi kuat terhadap perkembangan paradigma keilmuan Konseling Islam, terutama dalam merumuskan pendekatan integratif antara wahyu, […]

  • Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”! 07.09 Play Button

    Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu pidato Bung Karno yang sampai kini masih bikin saya senyum kecut tiap kali lihat tahu goreng di warkop kampus. Tahun 1963, di depan para buruh tani dan rakyat kecil, Soekarno dengan lantang berkata: “Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe!” Kalimat itu meledak seperti petir di siang bolong. Tapi lucunya, kalau diucapkan di […]

  • Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    • calendar_month 6 jam yang lalu
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak netizen minta saya ikut membahas kasus hukum Nadiem Makarim. Saya memang fokus menuntaskan kisruh LCC 4 Pilar MPR. Baiklah, saya coba memberikan pandangan hukum ala Partai Koptagul. Izin untuk para ahli hukum negeri ini kalau nanti ada yang ngawur. Tulisan ini agak panjang, asyik kalau dinikmati sambil seruput Koptagul, wak!   Indonesia itu […]

  • Yazid bin Muawiyah, Otak di Balik Pembantaian Husein bin Ali

    Yazid bin Muawiyah, Otak di Balik Pembantaian Husein bin Ali

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tulisan ke-19 Edisi Ramadan. Kita lanjutkan tokoh paling kontroversial dalam Islam, Yazid bin Muawiyah. Beliau lah otak di balik pembantaian Husein bin Ali, cucu Rasulullah, di Karbala. Simak narasinya sambil seruput Koptagul usai sahur, wak! Tahun 646 M, di wilayah Suriah, lahirlah Yazid bin Muawiyah. Ayahnya, Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah, politisi […]

  • Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Lubab Zaman, Pemilik Channel Drama @lindtivi
    • 0Komentar

    Prompt:   Modal bisa baca kitab, sudah sah jadi “pewaris pondok”. Karena sealim-alimnya calon kiai, sia-sia saja mengajar kitab kalau masih “translit Jawa sentris”. Maka, dengarkan ketika “anak kiai” mulai mengajar kitab! Pertama, apakah hanya fokus translit? Kedua, apakah bisa menerjemahkan dalam bahasa lisannya sendiri? Ketiga, tanpa melihat kitab, apakah mampu menyampaikan matan-matan kitab?   […]

expand_less