Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata
- account_circle Sukron Abdilah
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
- print Cetak

Focus on the female hand picking up a heavy dumbbell. (By: iStok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gym Sebagai Ruang Refleksi Sosial
Kadang, saat memperhatikan orang-orang di gym, aku melihat semacam miniatur masyarakat. Ada yang rajin tapi rendah hati, ada yang suka pamer, ada juga yang datang cuma buat nongkrong sambil main HP. Sama seperti di perpustakaan—ada yang benar-benar membaca, ada yang tidur di balik tumpukan skripsi.
Dari situ aku belajar satu hal lucu tapi serius: ternyata intelektualitas dan kebugaran sama-sama tidak bisa diukur hanya dari penampilan luar. Ada orang yang kelihatannya berotot tapi tak punya ketahanan mental; ada juga yang tampak culun di balik kacamata tapi kuat berlari maraton hidupnya sendiri.
Sekarang, setiap kali aku berlari di treadmill, aku merasa seperti sedang membaca buku panjang yang tak berujung. Setiap langkah adalah satu halaman baru. Ada bagian membosankan, ada bagian menantang, tapi semuanya membentuk cerita tentang diriku yang berubah perlahan.
Perpustakaan masih menjadi tempat favoritku—karena di sana aku menemukan ide. Tapi gym menjadi tempat keduaku—karena di sana aku menguji ide itu di dunia nyata. Kalau di perpustakaan aku membaca tentang “progres”, di gym aku benar-benar melihat progres itu, bukan dalam kata-kata, tapi dalam keringat.
Beberapa teman masih heran kenapa aku bisa betah membaca buku filsafat setelah latihan beban. Katanya, otot dan otak tak bisa jalan bersamaan. Tapi menurutku, justru di situ letak rahasianya. Tubuh yang lelah membuat pikiran lebih jujur. Setelah sesi leg day, aku bisa membaca Kierkegaard tanpa tergoda membuka TikTok—mungkin karena jari-jariku terlalu pegal untuk menggulir layar.
Pada akhirnya, hidup mahasiswa memang seperti latihan di gym: kadang berat, kadang membosankan, tapi setiap tetes keringat atau halaman yang selesai dibaca adalah bukti kecil bahwa kita sedang tumbuh.
Dan mungkin, di antara rak buku dan rak barbell itu, aku belajar satu hal paling penting yang tak pernah tertulis di silabus kampus: bahwa kebijaksanaan tidak hanya lahir dari kepala yang berpikir, tapi juga dari tubuh yang bergerak.***
- Penulis: Sukron Abdilah
- Editor: SAB
