Makam Bungarungkup Cibatu: Jejak Karuhun di Kaki Gunung Singkup
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Minggu, 23 Agt 2026
- visibility 58
- print Cetak

TIGARUT.COM — Di wilayah Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, terdapat sebuah tempat yang dikenal masyarakat sebagai kawasan makam keramat Bungarungkup. Tempat ini berada di Kampung Bungarungkup, Desa Girimukti, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut. Keberadaan Bungarungkup juga tercatat dalam dokumen resmi pemerintah daerah sebagai salah satu lokasi yang direncanakan untuk pengembangan wisata religius.
Nama Bungarungkup juga mempunyai kaitan erat dengan kawasan Gunung Singkup. Dalam berbagai catatan mengenai karuhun atau kasepuhan Sunda yang beredar di masyarakat, nama Raden Karta Singa disebut berada di Bungarungkup, Gunung Singkup, Garut. Nama Embah Liud juga dicatat berada di Bunarungkup, Cibatu, Garut.
Raden Karta Singa dan Embah Liud
Raden Karta Singa merupakan salah satu nama yang berulang kali muncul dalam daftar karuhun Sunda. Beberapa sumber lama di internet menempatkannya di Bungarungkup/Gunung Singkup, Garut. Sementara Embah Liud disebut berada di Bunarungkup, Cibatu, Garut.
Meski demikian, perlu kehati-hatian dalam menuliskan sejarah kedua tokoh tersebut. Sampai sejauh penelusuran ini, belum ditemukan sumber primer seperti arsip kolonial, naskah sezaman, atau dokumen resmi yang dapat memastikan tahun kehidupan, silsilah, kedudukan, dan riwayat perjuangan Raden Karta Singa maupun Embah Liud.
Karena itu, kisah mengenai kedua tokoh tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai tradisi sejarah lokal dan ingatan masyarakat, sambil terus dilakukan penelitian terhadap sumber-sumber yang lebih tua.
Bungarungkup sebagai Kawasan Wisata Religius
Menariknya, Bungarungkup bukan hanya dikenal melalui cerita masyarakat. Dalam Rencana Kerja Kecamatan Cibatu Tahun 2023, pemerintah mencantumkan program “Pengembangan wisata religius” yang berlokasi di Kp. Bungarungkup RT 02/RW 11, Desa Girimukti. Dokumen tersebut mencantumkan anggaran Rp500 juta untuk satu paket kegiatan.
Catatan resmi ini menunjukkan bahwa kawasan Bungarungkup memiliki nilai yang dipandang penting untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata religius sekaligus berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Menjaga Cerita Karuhun
Makam-makam keramat di Tatar Sunda tidak hanya dipandang sebagai tempat pemakaman. Bagi sebagian masyarakat, tempat seperti Bungarungkup menjadi ruang untuk mengenang karuhun, memelihara tradisi, dan menyampaikan cerita dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Namun, antara sejarah, legenda, dan tradisi lisan perlu dibedakan dengan jelas. Cerita yang diwariskan masyarakat merupakan bagian penting dari sejarah budaya, tetapi kebenaran sejarah mengenai tokoh dan peristiwa tertentu tetap perlu dibandingkan dengan sumber tertulis dan bukti arkeologis.
Bungarungkup karena itu menarik bukan hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai bagian dari warisan sejarah lokal Cibatu dan Garut.
Barangkali masih banyak cerita yang belum tercatat mengenai Bungarungkup, Raden Karta Singa, Embah Liud, dan Gunung Singkup. Kesaksian juru kunci, sesepuh kampung, naskah keluarga, makam-makam tua, serta arsip lama dapat menjadi kunci untuk mengungkap kisah tersebut secara lebih lengkap.
Menurut wargi Garut, apa yang sudah diketahui tentang Makam Bungarungkup? Apakah ada yang pernah berziarah atau mendengar cerita dari orang tua dan sesepuh mengenai Raden Karta Singa dan Embah Liud?
Sumber:
– Rencana Kerja Kecamatan Cibatu Tahun 2023, Pemerintah Kabupaten Garut.
– Daftar nama kasepuhan/karuhun Sunda yang mencatat Raden Karta Singa dan Embah Liud di kawasan Bungarungkup/Bunarungkup.
Catatan: Artikel ini membedakan informasi yang tercatat dalam dokumen pemerintah dengan tradisi lokal. Identitas dan riwayat tokoh makam masih memerlukan penelitian lebih lanjut dari sumber primer.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar