Rak Buku Versus Rak Barbell, Jadi Mahasiswa Berkeringat dengan Kata
- account_circle Sukron Abdilah
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
- print Cetak

Focus on the female hand picking up a heavy dumbbell. (By: iStok)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ironi Mahasiswa Modern
Kadang aku berpikir, mahasiswa zaman sekarang terlalu sibuk memoles dua hal: mindset dan body set. Kita sibuk membaca buku motivasi di pagi hari, lalu nge-gym sore harinya. Tapi jarang merenung kenapa kita melakukannya. Apakah benar demi kesehatan dan ilmu, atau demi unggahan Instagram dengan caption filosofis?
Aku tak munafik, dulu pun aku nge-gym demi bisa pakai kaus pas foto wisuda tanpa perut menonjol. Tapi lama-lama, aku menemukan semacam kedamaian dalam rutinitas itu. Ada kebahagiaan sederhana saat sadar bahwa tubuhku bisa melakukan sesuatu yang dulu terasa mustahil. Sama seperti rasa puas saat berhasil memahami satu bab buku yang sebelumnya terasa rumit.
Dari situ aku paham, kebugaran dan kebijaksanaan ternyata punya hubungan yang erat. Tubuh yang bugar membuat pikiran jernih, dan pikiran yang jernih membuat kita tahu kapan harus berhenti makan gorengan.
Suatu sore, setelah sesi latihan yang bikin tangan gemetar, aku duduk di depan perpustakaan kampus sambil membaca Meditations karya Marcus Aurelius. Dalam diam, aku merasa seperti sedang berbincang antara dua dunia yang selama ini kuanggap terpisah. Marcus bicara soal pengendalian diri dan disiplin batin, sementara dumbbell di tasku diam tapi terasa seperti simbol pengendalian tubuh.
Aku lalu sadar, baik membaca maupun mengangkat beban adalah latihan melawan diri sendiri. Kita bukan bersaing dengan orang lain, melainkan dengan versi malas, takut, dan ragu dari diri kita. Dan di situlah letak nilai paling manusiawi dari kedua aktivitas itu.
- Penulis: Sukron Abdilah
- Editor: SAB
