Desa Ciela, Kampung Tua di Tanah Timbanganten
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
- visibility 31
- print Cetak

TIGARUT.COM — Jauh sebelum nama Desa Ciela dikenal seperti sekarang, sebuah nama telah muncul dalam catatan kolonial Belanda abad ke-19:
TJIËLA
Pada tahun 1858, kontrolir Belanda J.C. Lammers van Toorenburg, bersama Kepala Penghulu Limbangan Raden Haji Moehamad Moesa, menemukan sejumlah benda kuno di Kampung Tjiëla, Distrik Panembong.
Di antara benda tersebut terdapat sebuah peta yang dibuat di atas kain katun pribumi (boweh).
Kelak peta inilah yang dikenal sebagai Peta Ciela.
Ciela ternyata bukan sekadar nama sebuah kampung.
Menurut penelitian K.F. Holle, peta tersebut berkaitan dengan wilayah Timbanganten. Peta itu memuat ratusan nama geografis—gunung, bukit, sungai, telaga, permukiman dan berbagai nama tempat di Tanah Sunda.
Holle kemudian menerbitkan hasil penelitiannya pada tahun 1877 dengan judul:
“De Kaart van Tjiëla of Timbangantĕn”
dalam Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXIV, halaman 168–176.
CIELA DAN TIMBANGANTEN
Yang membuat Ciela semakin menarik adalah hubungan namanya dengan Timbanganten.
Dalam peta tersebut terdapat nama Pajajaran, Nusa Klapa, berbagai sungai, gunung dan permukiman di wilayah Tanah Sunda.
Holle juga menemukan sebuah dokumen bertahun 1770 yang menyebut nama Lawas Djaja serta daftar kampung yang hampir sama dengan daftar dalam Peta Ciela.
Artinya, jejak sejarah Ciela tidak berhenti pada tahun 1858.
Ada kemungkinan bahwa tradisi dan nama-nama tempat yang tercatat di Ciela merupakan bagian dari ingatan geografis dan politik yang jauh lebih tua.
Namun, kita harus berhati-hati.
Peta Ciela tidak otomatis membuktikan bahwa Desa Ciela sekarang sudah berdiri sebagai desa administratif dengan bentuk yang sama sejak abad ke-16.
Yang dapat dipastikan dari sumber tertulis adalah bahwa Kampung Tjiëla telah dikenal pada 1858, dan kawasan tersebut memiliki peninggalan serta tradisi yang dianggap sangat tua.
CIELA PERNAH DIANGGAP TEMPAT KERAMAT
Ada bagian lain dari tulisan Holle yang jauh lebih menarik.
Pada saat ia mengunjungi Ciela, terdapat sebuah rumah yang dijaga seorang perempuan bernama Nji Agĕm, yang disebut sebagai Kuncen.
Di tempat tersebut disimpan berbagai benda pusaka.
Masyarakat memperlakukan peta dengan penuh penghormatan. Ketika peta dibuka, dilakukan ritual tertentu dengan dupa dan doa.
Holle bahkan mencatat bahwa kesakralan Ciela pada zamannya sudah mulai menurun.
Ini memberikan petunjuk bahwa pada pertengahan abad ke-19, Ciela masih memiliki kedudukan khusus dalam kepercayaan masyarakat setempat.
DARI TJIËLA MENJADI CIELA
Dalam sumber Belanda abad ke-19, nama tersebut ditulis:
Tjiëla / Ciëla
Sementara sekarang kita mengenalnya sebagai:
CIELA
Perubahan ejaan tersebut merupakan bagian dari perubahan sistem penulisan nama tempat dari masa kolonial menuju ejaan Indonesia modern.
Yang menarik, nama Ciela sendiri tetap bertahan.
Bahkan dalam sejarah administratif Kabupaten Garut, Desa Ciela kemudian bergabung dengan Desa Ciburuy menjadi Desa Bayongbong dalam perubahan administrasi pada masa kolonial.
Jadi, sejarah Ciela bukan hanya tentang sebuah desa.
Ia adalah cerita tentang sebuah nama yang mampu bertahan melewati perubahan zaman dan pemerintahan.
Dari Tjiëla yang dicatat orang Belanda…
dari sebuah kampung kecil di Distrik Panembong…
dari rumah Kuncen dan benda-benda pusaka…
hingga sebuah peta tua yang menggambarkan Tanah Sunda.
CIELA, JEJAK YANG BELUM SELESAI
Hingga sekarang, Peta Ciela menjadi salah satu petunjuk penting untuk memahami sejarah geografis Sunda.
Sebuah sumber kebudayaan Indonesia mencatat bahwa peta tersebut ditemukan di Kampung Ciela, Panembong, Garut, dan menggambarkan wilayah Jawa Barat dengan nama-nama tempat yang ditulis dalam aksara Sunda. Holle memperkirakan usia peta tersebut sekitar 300 tahun ketika ditelitinya—sehingga ia memperkirakan berasal dari sekitar akhir abad ke-16. Tetapi sekali lagi, ini adalah perkiraan Holle, bukan penanggalan ilmiah yang pasti.
Dan mungkin inilah pertanyaan terbesar yang masih tersisa:
Apakah Ciela sekarang merupakan penerus langsung dari sebuah kampung tua yang telah dikenal sejak masa Timbanganten?
Jawabannya masih membutuhkan penelitian lebih jauh.
Tetapi satu hal sudah jelas:
Ciela memiliki jejak sejarah tertulis yang setidaknya telah mencapai pertengahan abad ke-19, dan menyimpan tradisi yang oleh masyarakatnya sendiri dianggap jauh lebih tua.
—
SUMBER:
• K.F. Holle, “De Kaart van Tjiëla of Timbangantĕn”, Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde, Deel XXIV, 1877, hlm. 168–176.
• Sunda Kelapa sebagai Bandar Jalur Sutra, sumber kebudayaan/arsip digital Kemendikdasmen, bagian mengenai Peta Ciela.
• S. Anggapradja, Sejarah Garut (1984), mengenai perubahan administrasi Desa Ciela dan Ciburuy menjadi Desa Bayongbong.
Ciela, Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat
—
WARGA CIELA, ADA YANG TAHU?
Menurut cerita Aki, Nini, sesepuh, atau orang tua di Ciela, dari mana sebenarnya nama CIELA berasal?
Apakah pernah ada cerita tentang Kuncen Ciela, makam keramat, pusaka, Lawas Djaja, Timbanganten, atau Peta Ciela?
Tuliskan cerita yang pernah diwariskan keluarga Anda di kolom komentar.
Bisa jadi, satu cerita dari seorang sesepuh hari ini adalah potongan sejarah yang selama ini hilang.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: GaroetTempoDoeloe

Saat ini belum ada komentar