Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg
- account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- visibility 1.120
- print Cetak

Kereta api berlokomotif CC50 12 di Stasiun Nagreg yang dipotret Werner Brutzer pada 30 September 1980. (Sumber foto: bahnbilder.de)
Perkebunan Kina dan Kopi
Seperti disebutkan gubernur jenderal, pembangunan jalur Cicalengka-Garut terutama dilatari kepentingan ekonomi. Lalu, apa saja potensi yang dimiliki daerah Nagreg? Bila menilik sejarah Afdeeling Cicalengka, daerah Nagreg termasuk yang dijadikan sebagai lahan perkebunan. Terutama setelah 1870 dan 1871.
Namun, sebelum itu, ternyata Nagreg termasuk tempat kedua yang dipilih pemerintah kolonial untuk penanaman kina (“de gouvernements kina-onderneming”). Dalam AID De Preanger-bode edisi 10 Mei 1907, kina pertama kali ditanam di Nagreg pada 1856. Setelah itu, pada 1887, beberapa perkebunan kina di Nagreg disiangi dan ditanami lagi dengan benih kina Ledger. Selama dua-tiga tahun, benih-benih tumbuh subur. Tetapi memasuki tahun ketiga, pohonnya diserang kanker akar lalu mati. Itu sebabnya barangkali perkebunan kina di Nagreg menjadi persil yang terbengkalai.
Sebelumnya, anggota parlemen Van Kol dan direktur Gouvernement Kina-ondernemingen Van Leersum mengunjungi perkebunan-perkebunan di sekitar Bandung pada 13 April 1902. Selain berkunjung ke Lembang, mereka berencana perkebunan milik pemerintah di selatan Bandung, yaitu di lereng Gunung Malabar, termasuk berkunjung ke perkebunan di Nagreg (AID, 26 Mei 1902),
Namun, meski dikatakan terbengkalai, di daerah Nagreg ada pihak swasta yang tetap menanamnya. Di antaranya Ch. Ploem yang menjadikan Halte Nagreg sebagai alamat untuk menjual 30.000 kina Ledger, tingginya 1-2 kaki, benihnya dari perkebunan Panglipurgalih. Ia juga menjual sekian banyak pohon induk kina (AID, 1 Februari 1910).
- Penulis: Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://bandungbergerak.id

Saat ini belum ada komentar