Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg
- account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- visibility 1.123
- print Cetak

Kereta api berlokomotif CC50 12 di Stasiun Nagreg yang dipotret Werner Brutzer pada 30 September 1980. (Sumber foto: bahnbilder.de)
Selain kina, hasil perkebunan lain yang dipasarkan dengan menggunakan alamat Halte Nagreg adalah kopi. Di antaranya Perkebunan Daoelat atau Daolat yang ada di Distrik Balubur-Limbangan, Afdeeling Cicalengka, yang dibuka oleh K.F. Holle pada 30 Desember 1876. Namun, sejak 1893, dua perkebunan itu dilelang.
Dalam Java-bode (9 Oktober 1893) dikabarkan pada Sabtu, 16 Desember 1893, perkebunan Daolat I yang luasnya 258 bahu dan Daolat II yang luasnya 299.02 bahu akan dilelang di Batavia. Kedua perkebunan itu berada pada ketinggian 2.250 kaki di Distrik Balubur-Limbangan, Afdeeling Cicalengka, sekitar 4 pal dari Halte Nagreg. Lahan Daolat I seluas 83 bahu ditanami kopi Liberia berumur 1-16 tahun, kopi Jawa seluas 25 bahu, 70 bahu kina, dan lain-lain. Sementara Daolat II merupakan lahan perawan. Informasi penjualannya dapat diperoleh di Halte Nagreg.
Demikian pula yang disiarkan dalam BN edisi 12 Desember 1894. Rupanya pada pelelangan setahun sebelumnya, Daolat I dan Daolat II tidak berhasil dijual. Sehingga pelelangannya diulang. Namun, informasinya ada yang sedikit berbeda. Tahun 1894 dikatakan Daolat I luasnya 253 bahu dan Daolat II sebanyak 184 bahu, yang ditanami kopi Liberia dan kina.
Pada 1902, Cultuur Maatschappij Daoelat kembali hendak dijual dan alamat administraturnya tetap di Halte Nagreg. Pada pelelangan 2 Mei 1902 itu dikatakan luas Daolat 259 bahu, sementara Daolat 1 selus 185 bahu. Antara lain 60 bahu ditanami kopi Liberia, 102 bahu kopi Jawa, ditambah puluhan ribu tanaman kina. Diperkirakan setiap tahunnya, kopi yang dihasilkan kedua perkebunan itu sebanyak 100 pikul. Alamat administraturnya, H. Muller, Halte Nagreg (AID, 6 Mei 1902).
Perluasan Industri
De Expres edisi 13 Juni 1912 menunjukkan nilai penting Nagreg bagi perkembangan industri. Konon, Halte Nagreg di Cicalengka menjadi terlalu kecil, karena adanya perluasan industri, dengan berkembangnya bisnis kapur, tras, batu, singkong dan lain-lain (“kalk, tras, steenen, cassave etc.”).
Sebelum yang lain-lain, saya akan mendahulukan pembahasan singkong. Transportasi singkong dengan menggunakan kereta api dari Nagreg dan daerah-daerah lainnya bahkan sudah dilakukan pada tahun ketika jalur Cicalengka-Garut dibuka. Dalam AID (9 Desember 1899), kepala eksploitasi jalur barat S. Schaafsma mengumumkan bahwa pengangkutan setidaknya 200 wagenladingen singkong dari Ciawi, Malangbong, Garut, Leles dan Nagreg ke Bandung akan mendapatkan potongan ongkos 20 persen.
- Penulis: Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://bandungbergerak.id

Saat ini belum ada komentar