Breaking News

5 Cara Nelayan Garut Selatan Menangkap Ikan, Masih Andalkan Konvensional

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
  • visibility 35
  • print Cetak

TIGARUT.COM – Laut selatan Garut bukan sekadar hamparan biru yang membentang sejauh mata memandang. Di balik debur ombak Pantai Santolo, Rancabuaya, Cijeruk, Cicalobak hingga Cimarimuara, tersimpan cerita panjang tentang nelayan yang menggantungkan kehidupan dari laut.

 

Pagi-pagi sekali, ketika sebagian orang masih terlelap, perahu-perahu kecil mulai bergerak meninggalkan tepian. Jaring, pancing, perahu sederhana, serta pengalaman membaca tanda-tanda alam menjadi bekal mereka menghadapi luasnya laut selatan Garut.

 

Di tengah perkembangan teknologi perikanan yang semakin maju, sebagian nelayan Garut Selatan masih menangkap ikan dengan cara yang tergolong konvensional. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Garut, Lukman Dadel Nurhakim, menyebut nelayan di wilayah tersebut umumnya masih menggunakan perahu berkapasitas sekitar 3 Gross Ton (GT), dengan peralatan tangkap dan teknologi yang terbatas.

 

Kondisi ini membuat pengalaman dan pengetahuan lokal menjadi modal penting bagi nelayan ketika berhadapan dengan perubahan cuaca, gelombang, arus, hingga musim ikan.

 

Lantas, bagaimana cara nelayan Garut Selatan menangkap ikan dengan peralatan yang masih sederhana?

 

1. Menggunakan Pancing

 

Pancing menjadi salah satu alat tangkap yang sederhana sekaligus dekat dengan kehidupan nelayan.

 

Dengan tali, mata pancing, dan umpan, nelayan berusaha mendapatkan ikan dari perairan yang menjadi wilayah tangkap mereka. Hasil tangkapan sangat bergantung pada lokasi, musim, kondisi cuaca, serta keberadaan ikan.

 

Kesederhanaan alat bukan berarti pekerjaan menjadi mudah. Nelayan tetap membutuhkan keterampilan untuk menentukan lokasi dan waktu yang tepat.

 

2. Mengandalkan Jaring

 

Selain pancing, jaring menjadi alat penting dalam aktivitas penangkapan ikan.

 

Jaring memungkinkan nelayan menangkap ikan dalam jumlah lebih banyak. Namun, keterbatasan jenis dan jumlah jaring membuat kemampuan nelayan menjangkau berbagai wilayah tangkap juga terbatas.

 

Karena itu, hasil tangkapan tidak hanya ditentukan oleh alat yang digunakan, tetapi juga pengalaman nelayan dalam membaca kondisi laut.

 

3. Melaut dengan Perahu Kecil

 

Perahu menjadi sarana utama nelayan untuk menuju wilayah penangkapan.

 

Sebagian nelayan Garut Selatan masih menggunakan perahu berkapasitas sekitar 3 GT. Ukuran armada tersebut tentu membatasi jarak tempuh dan daya jelajah ke tengah laut.

 

Berbeda dengan kapal perikanan berukuran besar yang mampu menjangkau wilayah tangkap lebih jauh, nelayan dengan perahu kecil harus memperhitungkan kondisi gelombang, cuaca, bahan bakar, dan keselamatan sebelum berangkat.

 

4. Membaca Tanda-Tanda Alam

 

Sebelum teknologi navigasi modern berkembang, laut telah mengajarkan nelayan bagaimana membaca dirinya sendiri.

 

Arah angin, arus, gelombang, perubahan cuaca, awan, hingga musim ikan menjadi bagian dari pengetahuan yang terus diwariskan.

 

Pengalaman bertahun-tahun menjadi semacam “GPS alami” bagi nelayan. Dari tanda-tanda tersebut, mereka memperkirakan kapan harus berangkat, ke mana mencari ikan, dan kapan waktunya kembali ke daratan.

 

Pengetahuan ini tidak selalu tertulis dalam buku. Ia hidup melalui pengalaman dan diwariskan dari orang tua kepada anak serta dari nelayan senior kepada generasi berikutnya.

 

5. Mengandalkan Pengalaman dan Teknologi Sederhana

 

Cara konvensional bukan berarti nelayan sama sekali tanpa teknologi.

 

Berbagai peralatan sederhana tetap digunakan untuk mendukung kegiatan melaut. Namun, keterbatasan teknologi navigasi dan armada membuat pengalaman menjadi salah satu modal utama.

 

HNSI Garut sebelumnya menyoroti perbedaan kapasitas armada nelayan Garut Selatan dengan nelayan di kawasan Pantura yang sebagian telah menggunakan kapal lebih besar dan teknologi navigasi yang lebih modern.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan armada, alat tangkap, teknologi, serta infrastruktur pendukung masih menjadi pekerjaan penting untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan Garut Selatan.

 

Laut Garut Selatan dan Harapan Nelayan

 

Potensi laut Garut Selatan sebenarnya sangat besar. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidaknya ikan, tetapi juga kemampuan nelayan menjangkau wilayah tangkap, meningkatkan hasil produksi, dan membawa hasil laut secara aman.

 

Modernisasi pun tidak harus dimaknai sebagai meninggalkan tradisi.

 

Pengetahuan lokal nelayan tetap penting. Teknologi justru dapat menjadi alat untuk memperkuat pengalaman tersebut agar kegiatan melaut menjadi lebih aman, efektif, dan produktif.

 

Perahu boleh menjadi lebih besar. Alat navigasi boleh semakin canggih. Jaring boleh semakin modern.

 

Namun, kemampuan membaca laut tetap merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang.

 

Sebab bagi nelayan Garut Selatan, laut bukan hanya tempat mencari ikan. Laut adalah ruang kehidupan, sumber penghidupan, sekaligus warisan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Dari Santolo hingga Rancabuaya, dari Cijeruk hingga Cicalobak, cerita itu terus bergerak bersama ombak.

 

Nelayan berangkat membawa harapan, pulang membawa hasil. Di antara keduanya, ada laut yang harus dijaga bersama.

  • Penulis: Redaksi Tigarut
  • Sumber: AI

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Bekas Jembatan Kereta Api Bayongbong

    Bekas Jembatan Kereta Api Bayongbong

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Jejak Perkeretaapian Garut yang Masih Berdiri TIGARUT.COM — Di tengah hijaunya kawasan Bayongbong, Garut, masih berdiri salah satu jejak perjalanan panjang perkeretaapian Garut: bekas jembatan kereta api Bayongbong. Jembatan ini merupakan bagian dari jalur Garut–Cikajang, yang menjadi perpanjangan dari jalur Cibatu–Garut. Jalur Cibatu–Garut sendiri mulai beroperasi pada 14 Agustus 1889, sedangkan jalur Garut–Cikajang resmi dibuka untuk […]

  • 5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 177
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur ke pantai selatan Garut seperti Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya memang selalu menggoda. Namun di tengah ramainya wisatawan saat Lebaran, isu pungutan liar (pungli) kembali jadi sorotan, terutama setelah viral dugaan tarif tak jelas di Pantai Sayang Heulang. Pemkab Garut bahkan sedang menyiapkan e-ticketing untuk meminimalkan praktik tersebut.   5 tips jitu agar […]

  • Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 547
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Musim hujan sering dianggap kurang ideal untuk berlibur, terutama bagi keluarga yang membawa anak. Cuaca yang tidak menentu, jalan licin, hingga risiko anak mudah sakit menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, liburan tetap bisa berjalan aman dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik. Langkah Pertama Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan destinasi wisata. Hindari lokasi yang rawan […]

  • 5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    5 Alasan Pergi ke Pantai Taman Manalusu Garut, Hidden Gem di Selatan Garut yang Wajib Dikunjungi

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 122
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Garut Selatan menyimpan banyak destinasi wisata alam yang memikat. Selain Pantai Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya, ada satu tempat yang masih tergolong hidden gem, yakni Pantai Taman Manalusu di Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut. Pantai ini menawarkan hamparan pasir putih kecokelatan, gugusan karang yang eksotis, hingga suasana yang masih alami dan belum […]

  • 5 Tips Mudik Aman dan Nyaman ke Garut

    5 Tips Mudik Aman dan Nyaman ke Garut

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 271
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang perayaan Idul Fitri, perjalanan mudik ke Garut menjadi momen yang dinanti banyak perantau. Kota yang dikenal dengan udara sejuk dan kuliner khasnya ini selalu ramai dikunjungi saat Lebaran. Namun, meningkatnya arus kendaraan menuju Garut sering kali menimbulkan kemacetan dan perjalanan yang lebih panjang dari biasanya.   Agar perjalanan mudik tetap aman dan nyaman, […]

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 85
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar. Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi sebesar […]

expand_less