Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg
- account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- print Cetak

Kereta api berlokomotif CC50 12 di Stasiun Nagreg yang dipotret Werner Brutzer pada 30 September 1980. (Sumber foto: bahnbilder.de)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Diresmikan pada 14 Agustus 1889
Jalur kereta api ke Nagreg bertautan dengan pembangunan lintasan Cicalengka-Warung Bandrek-Garut. Pembangunan jalur ini didasarkan pada Undang-undang 24 Desember 1886 yang tertuang dalam Staatsblad Nomor 254 (Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997: 164-165).
Menurut Agus Mulyana (2017: 97-100), pembangunannya sendiri mulai dilakukan pada 1887 dan terbagi menjadi dua seksi, yaitu seksi 1 Cicalengka-Leles sepanjang 20.012,85 meter dan seksi 2 Leles-Garut sepanjang 30.668,76 meter. Pada seksi 1, 751,82 meter dari Cicalengka jalannya membentang dengan kemiringan 1:50 menembus lembah Cibodas dan mencapai celah Nagreg berketinggian 875 meter. Jalurnya sendiri diresmikan secara meriah oleh gubernur jenderal Hindia Belanda pada 14 Agustus 1889.
Dengan demikian, dapat dikatakan Stasiun Nagreg diresmikan pada 14 Agustus 1889, meskipun barangkali bangunan stasiunnya lebih dulu didirikan ketimbang stasiun-stasiun lainnya di sebelah timur Nagreg hingga Garut. Rincian pembangunannya serta peresmian jalurnya dapat disimak dalam koran-koran lama berbahasa Belanda.
Menurut De Locomotief (DL, 17 Mei 1887), karena hendak mencari posisi yang lebih baik ketika harus melalui lereng gunung di dekat Nagreg, posisi jalur kereta sedikit diubah. Modifikasinya telah diplot di situ dan pengukuran panjang levelingnya sudah dilakukan.
Selama awal pengerjaan jalur dari Cicalengka ke Nagreg, seorang penulis bernama MB sempat datang ke lokasi pembangunan. Ia menuliskan pengalamannya secara bersambung dalam Opregte Haarlemsche Courant edisi 6, 7, dan 9 Desember 1887.
Antara lain dia menyatakan saat tiba di Priangan, didapatinya jalan kereta api ke Cicalengka sudah ada dan beroperasi. Setelah beberapa lama terhenti, perluasan jalur ke Jawa Tengah mulai dilakukan lagi, yakni ke arah Garut. Para pegawai yang dipimpin tiga orang insinyur sedang berupaya menyelesaikan projek tersebut. Ketika melewati Cicalengka dan tiba di Nagreg, terutama di Cibuntu, MB melihat kelanjutan pengerjaan jalan kereta.
MB melihat sulitnya pembangunan rel untuk menempuh rangkaian pegunungan di Cicalengka. Untungnya ada beberapa celah antara pegunungan di belakang Cicalengka, yakni Beor dan Mandalawangi. Namun, setelah melewati celah itu pun tetap saja lerengnya menanjak, sehingga ketika berjalan dengan menggunakan kereta pos, selepas Cicalengka, harus dibantu kerbau untuk menarik roda kereta kuda (“met postpaarden reizende, bij het verlaten van Tjitjalengka, karbouwen to hulp krijgt om het rijtuig naar boven te helpen trekken”).
- Penulis: Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://bandungbergerak.id
