Menelusuri Sejarah Kereta Api, Stasiun Nagreg
- account_circle Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- print Cetak

Kereta api berlokomotif CC50 12 di Stasiun Nagreg yang dipotret Werner Brutzer pada 30 September 1980. (Sumber foto: bahnbilder.de)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di Nagreg, dia turun dari kereta kuda dan menjumpai beberapa pegawai yang bekerja di sana, yaitu pejabat pembangunan, pengawas, penanggung jawab peledakan dinamit, serta pembayar dan kontraktor. Mereka semua sementara menginap di rumah-rumah bambu di pinggir jalan pos. Sementara yang menjadi penjaga keamanan adalah orang Afrika, bekas prajurit KNIL.
Lalu, bagaimana selanjutnya pembangunan rel kereta ke Nagreg? Menurut kabar Bataviaasch Nieuwsblad (BN, 5 Juni 1888) dan DL (8 Juni 1888), pengurukan tanah sudah mencapai piket 60, pada titik tertinggi jalur, yaitu 10 kilometer jauhnya dari Cicalengka, yang berada di celah gunung Nagreg (“den bergpas van Nagrek”). Sehingga relnya tinggal dipasang pada awal Mei 1888.
Akhirnya, jalur kereta api Cicalengka-Garut diresmikan oleh gubernur jenderal pada 14 Agustus 1889. Seteleh berkunjung terlebih dulu ke Bandung, pada 14 Agustus 1889 pagi-pagi, gubernur jenderal beserta beberapa undangan naik kereta api tambahan ke Cicalengka. Di Cicalengka, tempat jalur baru ke arah timur dimulai, lokomotif dihiasi kembang-kembang dan bendera, lalu perjalanan dilanjutkan. Di banyak titik perjalanan, banyak pribumi berdiri dan menghormat pejabat tertinggi Hindia Belanda itu.
Ketika menyampaikan sambutan saat pembukaan, gubernur jenderal menyatakan pembangunan jalur itu bukan saja merupakan upaya pemerintah yang hendak meningkatkan keadaan ekonomi di daerah, tetapi juga demi keperluan perluasan proyek irigasi dan perbaikan pengairan (BN, 19 Agustus 1889).
- Penulis: Atep Kurnia, Peminat Literasi dan Budaya Sunda
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://bandungbergerak.id
