Breaking News
dark_mode

Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Belum sempat kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dingin setelah ditinggal Nanik S. Deyang, Presiden Prabowo sudah mengirim pemain pengganti. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat dari seruput Koptagul dan makan pisgor. Masuklah Dr. Sudaryono, atau akrab disapa Mas Dar. Pertanyaan publik pun bermunculan. Ahli gizi? Bukan. Ahli politik? Ya. Ahli organisasi? Ya. Ahli bisnis? Ya. Ahli pertanian? Ya. Ahli mengoleksi jabatan? Wah, ini level profesor.

 

BGN memang unik. Pernah dipimpin Dadan Hindayana, ilmuwan serangga. Kalau nyamuk tiba-tiba mogok menggigit, mungkin beliau tahu penyebabnya. Lalu datang Nanik, mantan wartawan terbiasa mengejar narasumber lebih cepat dari tenggat berita. Kini giliran Sudaryono, sosok yang kariernya melompat dari sawah ke istana seperti tokoh utama sinetron jam prime time.

 

Mas Dar lahir di Grobogan, 23 Januari 1985, anak pasangan petani sederhana Yahyo dan Suwarni. Pendidikan? Jangan ditanya. Lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, belajar Teknik Mesin di Akademi Pertahanan Jepang, Magister Administrasi Bisnis di Swiss German University, lalu Doktor Keuangan di Institut Pertanian Bogor. Mesin paham. Bisnis paham. Keuangan paham. Tinggal rakyat berharap menu makan bergizi gratis juga dipahami sampai ke butir nasi terakhir.

 

Kariernya lebih padat dari jadwal resepsi bulan Syawal. Pernah menjadi asisten pribadi Prabowo (2010-2015), Ketua DPD Gerindra Jawa Tengah, Wakil Menteri Pertanian sejak 2024, hingga kini dipercaya memimpin BGN. Di luar itu, ia pernah menjadi Corporate Secretary Nusantara Energy, CEO Garuda TV, CEO PT Nusantara Telematics System, Chairman PT Sahabat Sejati Sejahtera Farma, serta aktif di HKTI, PAPERA, APPSI, dan Tani Merdeka Indonesia. Kalau semua jabatan itu ditulis di kartu nama, ukurannya mungkin harus pakai spanduk HUT RI.

 

Nama Sudaryono juga sempat viral saat diskusi “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” di UGM, 15 Juni 2026, berubah menjadi panggung adu suara setelah mahasiswa membawa toa dan sirene. Seminar mendadak terasa seperti final derby tanpa wasit. Ia sempat duduk bersila di aspal berdialog dengan mahasiswa. Lumayan, mungkin itu gladi resik menghadapi panasnya BGN.

 

Sebab yang diwarisinya bukan sekadar kantor baru, melainkan PR nasional. Hingga Mei 2026, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah mencatat 37.673 korban keracunan dalam 445 kejadian di 210 kabupaten/kota pada 36 provinsi. Sebanyak 2.348 orang dirawat inap, 27.346 rawat jalan, dan 7.979 mengalami gejala ringan. JPPI mencatat 37.270 korban, sedangkan KPAI melaporkan 2.144 korban akibat dugaan kontaminasi E. coli, Bacillus cereus, bahan makanan tidak segar, hingga sanitasi dapur yang buruk.

 

Masalahnya tidak berhenti di situ. Baru sekitar 56-57 persen dapur SPPG memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Distribusi makanan masih sering terlambat, fasilitas pendingin minim, pengawasan lemah, transparansi anggaran dipertanyakan, sementara ketimpangan kualitas layanan antarwilayah masih menganga. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah distribusi lebih dari 8 miliar porsi MBG sejak Januari 2025.

 

So, jabatan baru Mas Dar bukan hadiah, melainkan kursi listrik yang dibungkus kain beludru. Publik tidak sedang menunggu pidato dengan PowerPoint penuh grafik warna-warni. Yang ditunggu jauh lebih sederhana, jangan ada lagi anak sekolah keracunan setelah makan siang, jangan ada dapur semrawut, jangan ada investor SPPG ngamuk, dan jangan sampai program dirancang mencerdaskan generasi justru lebih sering mengirim siswa ke ruang UGD.

 

Peluit pertandingan sudah berbunyi. Sekarang bola ada di kaki Sudaryono. Semoga yang tercipta bukan gol bunuh diri, melainkan gol kemenangan. Sebab lawan sebenarnya bukan oposisi, melainkan bakteri, dapur amburadul, distribusi kacau, dan manajemen selama ini lebih sering membuat rakyat menepuk jidat dari bertepuk tangan.

 

Foto AI hanya ilustrasi.

 

 

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month 8 jam yang lalu
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar.   Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi […]

  • Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kawasan wisata alam Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan. Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dari pusat kota Garut, arahkan kendaraan menuju barat daya. Perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Gunung vulkanik ini terletak di antara dua desa, Sirnajaya dan Kramatwangi. Gunung ini merupakan salah satu tempat wisata unggulan di kabupaten yang terkenal dengan domba […]

  • Lebaran Pengorbanan

    Lebaran Pengorbanan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, lebaran di tengah paceklik dan kerentanan adalah lebaran penuh pengorbanan. Tatkala cadangan BBM menipis; harga dan ongkos melambung, seorang majikan mencoba menahan asisten rumah tangganya untuk tidak mudik. Tak diduga sang asisten berkata: “Tuan bisa menikmati berbagai macam kebahagiaan sepanjang tahun, sedang kebahagian saya cuma sekali setahun, yaitu mudik lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya […]

  • Shalatlah Allah yang Menjamin Rizki

    Shalatlah Allah yang Menjamin Rizki

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Suatu hari, seorang suami pulang ke rumah dan menemui istrinya setelah shalat isya. Ia menemukan anak-anaknya sudah pada tidur.   Dia bertanya kepada istrinya, “Apakah anak-anak sudah shalat?”   Istrinya berkata, “Di rumah tidak ada makanan dan aku mengasuh dan menyibukkan mereka sampai pada tertidur dan mereka belum shalat.”   “Bangunkanlah mereka…!” Kata suaminya […]

  • 5 Alasan Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

    5 Alasan Stop Normalisasi Panggilan Gelar dan Profesi di Grup Sosial

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di era percakapan digital, grup WhatsApp, Telegram, hingga komunitas media sosial telah menjadi ruang baru untuk membangun relasi. Namun, ada satu kebiasaan yang kerap dianggap lumrah, padahal diam-diam menciptakan jarak sosial: memanggil seseorang dengan gelar akademik atau profesinya secara berlebihan di ruang informal. Panggilan seperti “Pak Dokter”, “Bu Dosen”, “Pak Haji”, “Bos Pengacara”, atau […]

  • 5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur ke pantai selatan Garut seperti Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya memang selalu menggoda. Namun di tengah ramainya wisatawan saat Lebaran, isu pungutan liar (pungli) kembali jadi sorotan, terutama setelah viral dugaan tarif tak jelas di Pantai Sayang Heulang. Pemkab Garut bahkan sedang menyiapkan e-ticketing untuk meminimalkan praktik tersebut.   5 tips jitu agar […]

expand_less