Breaking News

Budak Pontianak, Veddriq Persembahkan Juara Dunia untuk Negeri Ini

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
  • visibility 84
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Akhirnya ada juga kabar yang bikin rakyat Indonesia tersenyum lebar. Biasanya tiap buka berita, yang menyapa lebih dulu bukan atlet, melainkan wajah-wajah para koruptor. Bahkan ada bosan, “Bang, tak ada berita lain ya, selain korupsi.” Tapi, yang ini patut membuat kalian bangga. Tiga atlet panjat dinding kita juara dunia. Salah satunya, budak Pontianak. Saya ikut bangga. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Yang paling membuat orang Kalimantan Barat tersenyum seminggu penuh adalah Veddriq Leonardo. Budak Pontianak itu kembali menunjukkan, memanjat dinding jauh lebih berguna dari memanjat kursi. Di Chamonix, Prancis, 11 Juli 2026, juara Olimpiade Paris 2024 tersebut melesat bak sinyal Wi-Fi tetangga tiba-tiba penuh. Waktu 4,89 detik sudah cukup membuat lawan-lawan hanya sempat berkedip.

 

Yang lebih menggelitik, lawannya di final bukan atlet Prancis, bukan pula Argentina. Lawannya sesama orang Indonesia, Antasyafi Robby Al Hilmi, yang finis dengan waktu 5,11 detik dan meraih perak. Dunia datang membawa ambisi. Indonesia datang membawa sapu. Podium disapu bersih, negara lain tinggal foto-foto.

 

Kemenangan Veddriq makin luar biasa karena ia baru pulih dari cedera. Latihan belum maksimal. Ia mengaku nyaris tidak menyentuh dinding selama pemulihan. Tapi begitu lomba dimulai, dinding itu seolah berkata, “Silakan lewat, wak. Kami tahu nuan sedang terburu-buru membuat Indonesia bangga.”

 

Belum selesai dunia menghitung napas, Desak Made Rita Kusuma Dewi ikut membuat stopwatch bekerja lembur. Catatan 6,22 detik mengantarkannya menjadi juara dunia nomor Speed putri. Itu gelar keduanya secara beruntun setelah sebelumnya juga berjaya di Krakow. Kalau begini terus, jangan heran kalau cicak-cicak di rumah mulai mengaku berasal dari Indonesia karena merasa ikut bangga dengan olahraga panjat.

 

Lalu datang Putra Tri Ramadani. Atlet berusia 20 tahun asal Jawa Timur ini lebih dulu mengguncang Praha pada 8 Juni 2026. Ia menjadi juara dunia nomor Lead dengan skor 43, mengalahkan Neo Suzuki dari Jepang dan legenda Austria Jakob Schubert. Media internasional sampai menulis, “History Made in Prague.” Itu bukan kalimat basa-basi. Itu pengakuan, Indonesia kini bukan sekadar jago ngebut di Speed, tetapi juga mampu menaklukkan nomor Lead yang terkenal paling rumit.

 

Yang membuat Putra makin keren, setelah juara ia tidak sibuk pidato panjang atau mencari kamera. Ia justru mengaku masih punya banyak kekurangan, mulai dari membaca jalur hingga mengatasi rasa grogi. Juara dunia saja masih merasa harus belajar. Sementara di tempat lain, ada baru naik satu tingkat jabatan sudah merasa paling hebat sedunia.

 

Kalau biasanya Indonesia terkenal karena berita korupsi yang tak ada habisnya, kali ini dunia mengenal Indonesia karena tiga atlet yang mengajarkan arti kerja keras, disiplin, dan keberanian. Mereka membuktikan, negeri ini bukan hanya mampu mencetak orang pandai memanjat kursi kekuasaan, tetapi juga mampu melahirkan pemanjat tebing terbaik di muka bumi.

 

So, kalau ada bertanya apa yang masih bisa dibanggakan dari Indonesia, jawabannya sederhana. Selama masih ada Veddriq Leonardo dari Pontianak, Desak Made Rita Kusuma Dewi, dan Putra Tri Ramadani, negeri ini belum kehilangan alasan untuk menegakkan kepala. Sebab sejarah selalu ditulis oleh mereka yang bekerja keras, bukan oleh mereka yang paling keras berbicara.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    Begitu Nanik Mundur, Prabowo Langsung Pasang Sudaryono

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 83
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Belum sempat kursi Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dingin setelah ditinggal Nanik S. Deyang, Presiden Prabowo sudah mengirim pemain pengganti. Cepat sekali. Rasanya lebih cepat dari seruput Koptagul dan makan pisgor. Masuklah Dr. Sudaryono, atau akrab disapa Mas Dar. Pertanyaan publik pun bermunculan. Ahli gizi? Bukan. Ahli politik? Ya. Ahli organisasi? Ya. Ahli bisnis? […]

  • Nah Ini Dia! 6 Tradisi Imlek yang Masih Dilestarikan Masyarakat

    Nah Ini Dia! 6 Tradisi Imlek yang Masih Dilestarikan Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 221
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Perayaan Tahun Baru Imlek kembali disambut meriah oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia. Momentum pergantian tahun dalam kalender lunar ini bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarat makna budaya dan nilai kebersamaan. Berikut enam tradisi Imlek yang masih dilestarikan hingga kini. 1. Membersihkan dan Menghias Rumah Menjelang Imlek, masyarakat biasanya […]

  • Asyiknya Wisata Healing ke Kawah Kamojang

    Asyiknya Wisata Healing ke Kawah Kamojang

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Editorial Tigarut
    • visibility 98
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kadang-kadang, yang kita butuhkan dalam hidup bukan nasihat. Bukan pula seminar motivasi dengan judul panjang yang membuat kita merasa gagal sebelum seminar dimulai. Kadang kita cuma butuh pergi ke tempat yang udaranya dingin, pemandangannya indah, dan sinyalnya tidak terlalu agresif. Maka suatu pagi, saya memutuskan untuk healing ke Kawah Kamojang. Keputusan itu sebenarnya […]

  • Desa Ciela, Kampung Tua di Tanah Timbanganten

    Desa Ciela, Kampung Tua di Tanah Timbanganten

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 34
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jauh sebelum nama Desa Ciela dikenal seperti sekarang, sebuah nama telah muncul dalam catatan kolonial Belanda abad ke-19:   TJIËLA   Pada tahun 1858, kontrolir Belanda J.C. Lammers van Toorenburg, bersama Kepala Penghulu Limbangan Raden Haji Moehamad Moesa, menemukan sejumlah benda kuno di Kampung Tjiëla, Distrik Panembong.   Di antara benda tersebut terdapat sebuah […]

  • Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 548
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Musim hujan sering dianggap kurang ideal untuk berlibur, terutama bagi keluarga yang membawa anak. Cuaca yang tidak menentu, jalan licin, hingga risiko anak mudah sakit menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, liburan tetap bisa berjalan aman dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik. Langkah Pertama Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan destinasi wisata. Hindari lokasi yang rawan […]

  • 5 Ponpes Terbaik di Garut yang Layak Diketahui

    5 Ponpes Terbaik di Garut yang Layak Diketahui

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 52
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan kulinernya, tetapi juga memiliki tradisi pendidikan pesantren yang kuat. Dari pesantren modern, salafiyah, hingga lembaga yang memadukan pendidikan agama dan sekolah formal, pilihannya sangat beragam. Berikut lima pondok pesantren di Garut yang dikenal luas dan layak menjadi referensi pendidikan bagi masyarakat. 1. Pondok Pesantren Darussalam […]

expand_less