Breaking News

Korban Tinggal Sama Taufik Karena Cinta atau Manipulasi?

  • account_circle Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti
  • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
  • visibility 109
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Ada satu misteri tentang kasus Taufik yang masih jadi tanda tanya besar di kepalaku : detik pertama korban tinggal bersama Taufik itu karena cinta, atau karena manipulasi?

 

Setelah aku susun 3 versi cerita dari keluarga, polisi, dan rekan kerja kayak kepingan puzzle, ada beberapa titik yg janggalnya nggak manusiawi. aku tau, paling gampang ya tanya langsung ke korban.

 

Kalau aku masih jadi editor berita beberapa tahun lalu, aku udah bilang ke reporter: “Wawancara korbannya! Tanya satu hal: Apa yg bikin kamu mutusin tinggal sama dia?”

 

Tapi sekarang aku bukan siapa-siapa. Jadi terpaksa pake skill joki skripsi. aku pernah ngerjain skripsi anak komunikasi soal analisis isi. Caranya masih apal.

 

Aku browsing berita, dengerin podcast yg wawancara orang terdekat korban & polisi. Nggak ada kesimpulan yg tinggal copas. aku harus dengerin satu-satu, catet detailnya, susun sendiri.

 

Hasilnya bikin aku merinding. Kata polisi: Korban tinggal bareng Taufik atas kemauan sendiri.

 

Kakak iparnya bilang gitu juga. Tapi pas cerita kakak ipar dan cerita mantan temen kerjanya aku taro sebelahan… BOOM. Muncul celah. Celah yg nunjukin “mau sendiri” itu LAYAK DIPERTANYAKAN.

 

Simak timeline-nya. AWALNYA NORMAL.

 

Korban pulang ke rumah ortunya tiap Jumat. Kirim duit tiap bulan ke ortu. Hampir tiap hari WA-an sama kakak iparnya.

 

Lalu suatu hari keluarga liat status WA korban: lagi sama Taufik. Nggak lama, korban bawa Taufik ke rumah ortu. Sebentar. Katanya mau pamit nonton konser. Itu terakhir kali dia pulang.

 

Abis itu dia WA keluarga: “Aku dimutasi ke Majalengka ya 2-3 bulan”. Lalu semuanya berubah. Chat yg tiap hari jadi sebulan sekali. Duit ke ortu berhenti.

 

Sekitar 4-5 bulan kemudian, keluarga curiga. Dateng ke kantor korban di Pasteur.

 

JAWABAN TEMANNYA BIKIN DINGIN: “Lho, dia udah resign 4 bulan lalu. Surat resign-nya dianter pacarnya, sambil marah-marah katanya korban keforsir lembur.”

 

Artinya? Sejak “pamit nonton konser” itu… korban udah nggak kerja? Dia hidup di dua dunia : Dunia asli, sama dunia bohong yg diketik Taufik???

 

Makin panik, kakaknya posting di IG: “Adikku dibawa kabur pacarnya”.

 

Korban langsung nelpon. Bukan buat minta tolong. Dia MARAH-MARAH. Minta postingan dihapus.

 

Belakangan, setelah korban ditemukan di RS, kebongkar: Waktu nelpon itu, Taufik ada di sebelahnya. Ngancem.

 

Motor, HP, duit korban? Kata korban sendiri: Udah dikuasai Taufik sejak awal pacaran.

 

Temen kerjanya nambahin kepingan yg lebih ngeri. Sejak pacaran sama Taufik, korban jadi sering telat, bokamus, pendiem. Puncaknya dia nangis ngaku: “Hidupku dihancurin. HP-ku dikuasai. Aku ngerasa rusak.” ITU TERAKHIR KALI dia bisa jujur.

 

Di sinilah aku berhenti. Dan nanya. Setelah kenalan di Tinder, gimana ceritanya motor, HP, duit, bisa pindah tangan secepet itu?

 

Pertanyaan lebih gede: Penguasaan itukah yg bikin korban mutusin tinggal bareng? Atau tinggal bareng dulu, baru semua dirampas?

 

Urutan ini penting. Karena kata Dr. Evan Stark, ini namanya “Coercive Control”:

1. Ambil HP-nya.

2. Putusin temennya.

3. Kuasain duitnya.

4. Bisikin tiap hari: “Kamu nggak ada apa-apanya tanpa aku”.

5. Tunggu sampe dia sendiri yg bilang “Aku mau tinggal di sini”. Dari luar keliatan “memilih”. Padahal pilihannya udah habis.

 

Atau, setelah tragedi cemburu dan tuduhan selingkuh dari Taufik ke korban seperti kata mantan bosnya Taufik?

 

Kalau ini bener, maka detail itu menurutku nggak bisa dianggap sepele. Nuduh selingkuh dan cemburu yang berlebihan, wajib lapor kamu dimana sama siapa sedang berbuat apa juga mirip pola hubungan kontrol dan posesivitas.

 

Biasanya, kata-katanya gini :

“Kalau kamu benar-benar sayang, buktikan.”

“Kalau kamu nggak selingkuh, ayo kita tinggal bareng,.”

“Kalau kamu pergi, berarti kamu memang ada orang lain.”

 

Kata Psikolog hubungan, kata-kata itu menggambarkan pola manipulasi emosional (emotional manipulation) : ketika rasa bersalah, rasa takut kehilangan pasangan, atau kebutuhan untuk membuktikan cinta digunakan untuk memengaruhi keputusan seseorang.

 

Jika memang awal mula korban tinggal sama Taufik diawali tuduhan selingkuh dan cemburu, maka pertanyaan “tinggal bersama atas kemauan sendiri” jadi jauh lebih kompleks. Karena seseorang bisa saja bilang “iya” tapi keputusan itu belum tentu lahir dalam situasi yang benar-benar bebas dari tekanan emosional.

 

Di situlah aku rasa ada satu lubang besar di timeline kasus ini. Apa yang sebenarnya terjadi di hari-hari sebelum korban mutusin tinggal sama Taufik? Karena bisa jadi, jawabannya justru berada di detik pertama ketika korban mulai merasa harus membuktikan cintanya.

 

Atau, korban mutusin tinggal bareng Taufik karena lelah, sepi, tekanan, dan jerat yg nggak keliatan?

 

Korban saat itu 26 tahun. Tulang punggung keluarga.Di umur segitu, perempuan diburu pertanyaan: “Kapan nikah? Temenmu udah punya anak lho.”

 

Mungkinkah kehadiran Taufik kerasa kayak harapan? Pelarian dari “capek”?

 

Kasus Gabby Petito di AS juga gini. Dari luar keliatan pasangan bahagia. Dari dalem? Penuh kontrol, isolasi, ketergantungan.

 

Jadi kalimat “korban tinggal atas kemauan sendiri” mungkin bener secara hukum. Tapi “kemauan” yg kayak apa?

 

Kemauan jam 9 pagi sebelum HP disita? Atau “kemauan” jam 9 malem setelah diancem? aku nggak tau.

 

Tapi semakin aku susun timeline ini, aku yakin: Misteri terbesar kasus Taufik bukan “kenapa korban nggak kabur”.

 

Misterinya adalah: DETIK PERTAMA KAPAN KORBAN BERHENTI NGETIK WA-NYA SENDIRI.

 

Karena mungkin, di detik itulah dia berhenti jadi manusia bebas.

 

Jadi besok-besok kalau kamu ada berita nulis “Korban mau tinggal bareng”, tolong tanyain satu hal :

 

Jam berapa tepatnya “mau” itu dia ucapin? Sebelum HP-nya disita, atau sesudah?

 

Karena di kasus kayak gini…

“MAU” yg diucapin jam 9 pagi, bisa beda arti sama “MAU” yg diucapin jam 9 malem.

  • Penulis: Nurul Indra, Mantan Jurnalis, Asisten Peneliti

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Sukron Abdilah, penulis Leupas
    • visibility 198
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu fase dalam hidup yang terasa seperti eksperimen psikologi tanpa kita sadari: Lebaran sebelum menikah. Kita datang sebagai tamu, pulang sebagai… tersangka (setidaknya di batin sendiri). Di antara semua variabel sosial—basa-basi, pertanyaan “kapan nyusul?”, hingga strategi duduk agar tidak terlalu dekat dengan om yang cerewet—ada satu objek kecil yang diam-diam mengendalikan alur cerita: […]

  • Belajar Memahami Realita

    Belajar Memahami Realita

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 150
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Akhir-akhir ini lagi kepikiran lagi soal program BK…belum benar-benar disusun, masih di tahap mikir dan “nyicil latihan” sedikit-sedikit. Dan di proses itu, saya malah keingat fase lama saya— fase yang terlalu terpaku pada “template”.   Dulu, setiap bikin program BK, rasanya semua aspek (ke-11 bidang itu) harus masuk, yang penting lengkap, yang penting sesuai […]

  • Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    Leuweung Sancang di Garut Dianggap Menakutkan? Ini Alasannya

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Hakim Ghani
    • visibility 1.300
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sancang adalah sebuah nama yang bagi sebagian kalangan terasa sangat menakutkan untuk didengar. Di balik keindahan alamnya, Sancang menyimpan banyak misteri hingga terkesan angker dan menakutkan. Apa alasannya? Di antara beragam daerah yang ada di Kabupaten Garut, Sancang adalah salah satu yang paling menjadi sorotan. Letaknya yang jauh dari hingar-bingar perkotaan dan didominasi […]

  • 5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 105
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut memiliki banyak pilihan lembaga pendidikan berbasis Islam yang bisa menjadi pertimbangan orang tua untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya. Madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memadukannya dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter. Karena itu, madrasah menjadi salah satu pilihan menarik bagi keluarga di Garut. Berikut lima madrasah negeri di Garut yang bisa menjadi […]

  • Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

    Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 220
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang magrib di Garut selalu ada rasa yang berbeda. Udara pegunungan yang sejuk pelan-pelan berubah hangat oleh keramaian langkah orang-orang yang menanti adzan. Ngabuburit di kota ini bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi seperti ritual kecil untuk menyapa senja dan diri sendiri. Di pelataran Garut Town Square, anak-anak berlari kecil, remaja duduk melingkar sambil bercanda, […]

  • Prabowo, Oligarki, dan Mahasiswa

    Prabowo, Oligarki, dan Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Analisis Paradoks Politik Indonesia Saat Ini TIGARUT.COM — Indonesia hari ini sedang berada dalam situasi yang unik sekaligus rumit. Di satu sisi, Presiden Prabowo menghadapi kritik dan tekanan dari kalangan mahasiswa yang kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di sisi lain, ia juga berhadapan dengan kepentingan-kepentingan oligarki yang selama puluhan tahun telah mengakar kuat dalam politik dan […]

expand_less