Breaking News
dark_mode

Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ruang Publik yang Hilang di Antara Rak

Habermas menekankan bahwa ruang publik sejati adalah tempat di mana diskusi terjadi tanpa dominasi, tanpa motif pasar. Dulu, toko buku sering jadi tempat seperti itu. Di sana kita bisa bertemu orang asing dan tiba-tiba berdiskusi soal eksistensialisme sambil menunggu hujan reda. Tapi sekarang, ruang publik itu menyusut.

Buku memang masih dibaca, tapi diskusinya kini pindah ke ruang digital yang sering kali bising oleh algoritma. Kita tak lagi berdialog, kita hanya berkomentar. Tak ada percakapan mendalam, hanya “agree” atau “disagree”, lengkap dengan emoji tepuk tangan.

Di sinilah refleksi Habermasian menjadi relevan: komunikasi sejati adalah ketika kita saling memahami, bukan sekadar saling menanggapi. Mungkin toko buku sepi karena kita sudah jarang benar-benar ingin memahami — kita lebih ingin cepat tahu, cepat selesai, cepat move on ke topik lain.

Tahun 2006 saya mulai menulis buku sendiri. Ironisnya, ketika akhirnya saya menjadi bagian dari dunia literasi yang dulu saya kagumi, saya justru menyaksikan sepinya toko-toko buku yang dulu jadi rumah impian.

Saya pernah duduk di pojok toko buku, memperhatikan orang-orang yang masuk. Ada yang hanya numpang foto, ada yang sekadar mencari tempat dingin, ada yang baca sinopsis lalu pergi. Saya tak marah, hanya tersenyum getir. Karena saya tahu, di luar sana, ribuan orang sedang membaca — hanya saja bukan di sini, bukan dengan aroma kertas, tapi lewat layar lima inci.

Namun, saya tetap merasa bahagia. Karena minat baca naik berarti kesadaran intelektual sedang tumbuh, meski bentuknya berubah. Mungkin ini bukan kemunduran, tapi transformasi — seperti kata Habermas, struktur sosial selalu berubah seiring dengan bentuk komunikasi yang baru.

Di balik semua ironi itu, saya tetap percaya: membaca tak akan pernah mati. Entah ia hidup di toko buku, di ponsel, atau di ruang virtual, semangat literasi tetap punya denyutnya sendiri. Hanya saja, kita perlu kembali belajar berdialog — bukan hanya membaca untuk tahu, tapi membaca untuk memahami dan menghubungkan.

Habermas mengajarkan bahwa komunikasi sejati menuntut “tindakan komunikatif”: saling mendengarkan, saling memahami, dan membangun konsensus. Mungkin itulah yang harus dilakukan oleh generasi pembaca masa kini — mengubah budaya baca dari sekadar konsumsi informasi menjadi percakapan yang hidup.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, toko buku akan kembali ramai. Bukan hanya karena diskon besar-besaran, tapi karena orang rindu bertemu manusia lain yang juga mencari makna lewat kata.

Saya keluar dari toko buku itu sore hari, setelah lama hanya berkeliling tanpa membeli apa pun. Di depan pintu, saya melihat tulisan besar: “Reading is a conversation with the world.” Saya tersenyum. Karena di balik ironi toko buku yang sepi, mungkin percakapan itu masih berlangsung — hanya pindah tempat, dari rak ke layar, dari ruang nyata ke ruang digital.

Dan seperti yang diajarkan Habermas: selama masih ada yang mau berdialog, entah lewat buku fisik atau digital, dunia ini belum sepenuhnya kehilangan suaranya. ***

Komentar
  • Penulis: Sukron Abdilah
  • Editor: SAB

Rekomendasi

  • Garut Sabet Penghargaan dari Bea Cukai Tasikmalaya

    Garut Sabet Penghargaan dari Bea Cukai Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut memimpin apel gabungan yang berlangsung di Lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Garut, Jalan Pembangunan, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Senin (2/2/2026). Dalam kegiatan ini, dilakukan Pemberian Penghargaan Kategori Baik Pelayanan dan Pengawasan Bea Cukai Tipe Madya Pabean Type C. Penyerahan dilakukan langsung oleh Kepala Kantor Bea Cukai Tasikmalaya, […]

  • Membaca Manuver Gibran Menerima Mahasiswa di Tengah Aksi Demo

    Membaca Manuver Gibran Menerima Mahasiswa di Tengah Aksi Demo

    • calendar_month Selasa, 16 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kalian pasti membaca berita, Wapres Gibran menerima perwakilan mahasiswa di tengah aksi demo. Di tempat lain, tiga pembantu Prabowo malah diusir mahasiswa di Yogya. Sementara Prabowo belum ada statemen. Ada berspekulasi, Gibran sedang bermanuver untuk 2029. Mari kita kulik sambil seruput Koptagul, wak!   Senin, 15 Juni 2026. Saat ribuan mahasiswa turun ke kawasan […]

  • Tips Ngobrol dengan Siswa

    Tips Ngobrol dengan Siswa

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Awalnya saya pikir, makin pintar kita di depan siswa, makin mereka respek, nyatanya, yang sering terjadi malah sebaliknya: siswa jadi diam, defensif, dan cuma mengangguk tanpa benar-benar terbuka.   Saya baru sadar, di usia SMP SMA, yang mereka butuhkan bukan guru yang selalu benar, tapi guru yang mau turun level tanpa menurunkan wibawa. […]

  • Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    Asyiknya Ngabuburit di Cimanuk Garut

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang waktu berbuka puasa, kawasan Cimanuk selalu dipadati warga yang ingin menikmati suasana sore Ramadan. Sungai yang membelah kota ini menjadi salah satu titik favorit untuk ngabuburit bersama keluarga, sahabat, maupun komunitas. Hamparan tepian sungai yang kini lebih tertata membuat masyarakat nyaman duduk santai sambil menikmati semilir angin sore. Anak-anak tampak bermain, remaja berburu […]

  • Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Di Saung Sampireun, pelajaran itu terasa makin jelas. Tempat ini tidak memaksa jadi mewah dengan cara kota besar. Ia elegan dengan caranya sendiri. Kayu, air, saung, dan kesunyian yang ramah. Sama seperti dodol yang tidak perlu topping aneh-aneh untuk merasa cukup. Dalam keheningan itu, saya sering refleksi: mungkin kita terlalu sering ingin jadi “bukan diri […]

  • 5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai warisan dan identitas budaya, orang Sunda pasti suka kesundaan disebutkan sebagai nama propinsi ketimbang “Jawa Barat” sebagai warisan administrasi kolonial. Saya saja suka walaupun bukan Sunda pituin alias blasteran Sunda-Makasaar, apalagi yang Sunda asli.   Tapi, mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda atau Provinsi Pasundan memiliki konsekuensi yang luas, bukan […]

expand_less