Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!
- account_circle Sukron Abdilah
- calendar_month Minggu, 28 Des 2025
- print Cetak

Ilustrasi membaca. Foto: Shuterstock
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Sebagai alumnus Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung yang pernah berjuang memahami teori Jürgen Habermas sambil ngopi sachetan di kos, fenomena ini terasa menarik — dan sedikit lucu. Karena katanya masyarakat makin suka membaca, tapi buku fisik malah “nganggur” pembeli di rak. Mungkin kita sedang menyaksikan bentuk baru dari “komunikasi tanpa tindakan” — versi digitalnya Habermas di era TikTok dan e-book gratisan.
Dulu, waktu masih kuliah, kunjungan ke toko buku adalah ritual spiritual. Begitu masuk Gramedia atau Palasari, rasanya seperti ziarah intelektual: tangan ini otomatis ingin menyentuh semua buku, walau dompet hanya cukup buat beli satu. Kita membaca blurb di sampul belakang dengan khidmat, menimbang-nimbang apakah membeli novel Laskar Pelangi atau buku Filsafat Kebudayaan — padahal ujung-ujungnya beli pulpen.
Sekarang, semuanya berubah. Buku sudah pindah ke layar. Orang membaca bukan dari lembaran kertas, tapi dari notifikasi Instagram atau carousel di LinkedIn. Kita tak perlu lagi ke toko, cukup buka aplikasi baca gratis. “Minat baca” naik, iya. Tapi “minat beli” menurun drastis.
Buku kini dikonsumsi seperti konten di tiktok: cepat, ringkas, dan harus bisa di-swipe dalam waktu tiga detik. Seperti kata Habermas, komunikasi modern sering kali bergeser dari “tindakan komunikatif” menuju “tindakan instrumental.” Tujuannya bukan lagi saling memahami, tapi sekadar mendapatkan informasi secepat mungkin — bahkan kalau bisa, tanpa membaca seluruh paragraf.
- Penulis: Sukron Abdilah
- Editor: SAB
