Breaking News

Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 624
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Fenomena ini memang kontradiktif namun nyata. Meski data menunjukkan minat baca atau konsumsi literasi meningkat, toko buku fisik (konvensional) menghadapi tantangan besar karena perubahan perilaku konsumen di era digital.

Berikut adalah 5 alasan mengapa minat baca naik tetapi toko buku tetap sepi:

  1. Migrasi ke E-commerce dan Marketplace

Banyak pembaca beralih membeli buku secara daring melalui platform seperti Shopee atau Tokopedia. Harga di marketplace seringkali lebih murah karena diskon besar, promo ongkir, dan biaya operasional penjual yang lebih rendah dibanding toko fisik di mal.

  1. Popularitas E-book dan Audio Book

Peningkatan minat baca banyak terjadi di ranah digital. Aplikasi seperti Gramedia Digital, Google Play Books, hingga platform baca gratis seperti Ipusnas dari Perpustakaan Nasional memudahkan orang membaca tanpa harus memiliki fisik bukunya.

  1. Pergeseran Fungsi Toko Buku (Showrooming)

Muncul fenomena showrooming, di mana konsumen datang ke toko buku fisik hanya untuk melihat-lihat, membaca sekilas, atau memotret judul yang menarik, namun akhirnya membelinya secara daring untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

  1. Konsumsi Konten di Platform Menulis Daring

Minat baca generasi muda banyak terserap ke platform seperti Wattpad, Fizzo, atau Webtoon. Mereka tetap “membaca” dalam jumlah banyak, namun konten tersebut tidak tersedia dalam bentuk buku fisik yang dijual di toko buku konvensional.

  1. Aksesibilitas Taman Bacaan dan Komunitas

Kini semakin banyak perpustakaan komunitas, kafe buku, dan ruang publik yang menyediakan akses bacaan gratis atau sistem pinjam yang lebih santai, sehingga membeli buku baru di toko bukan lagi satu-satunya pilihan untuk memuaskan hobi membaca.

Industri buku tidak sedang mati, melainkan sedang bertransformasi. Toko buku yang bertahan saat ini biasanya adalah mereka yang mampu berubah menjadi “ruang ketiga” (menyediakan kafe, tempat acara, atau suasana estetik) bukan sekadar tempat penyimpanan rak buku.***

  • Penulis: Redaksi Tigarut
  • Editor: Tim Redaksi Tigarut
  • Sumber: google.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 2 Kelompok Kritis Sekarang

    2 Kelompok Kritis Sekarang

    • calendar_month Kamis, 11 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 114
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kita perhatikan, sekarang ini ada dua kelompok kritis dalam panggung politik nasional yang sedang berlangsung. Pertama, kelompok kritis pada kebijakan-kebijakan pemerintah dan program-program Presiden Prabowo, seperti soal MBG, melemahnya rupiah dll. Kelompok kritis ini murni suara rakyat sebagai kontrol kekuasaan. Kedua, kelompok kritis yang melihat bahwa kritik-kritik pada pemerintah bukan lagi kritik pada program […]

  • Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 246
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Setelah menginap di Bandung, rombongan Charlie Chaplin melanjutkan perjalanan menuju Garut, 25 Maret 1936. Charlie dalam kunjungannya ke Pulau Jawa yang kedua kali tersebut ditemani oleh Paulette dan ibunya, Alta Mae Goddard. Sejak mendarat di Cililitan Batavia, mereka melakukan perjalanan menggunakan mobil melewati Puncak. Lagi-lagi, Hotel Preanger menjadi tempat singgah Chaplin sekaligus menginap. […]

  • Bekas Jembatan Kereta Api Bayongbong

    Bekas Jembatan Kereta Api Bayongbong

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Jejak Perkeretaapian Garut yang Masih Berdiri TIGARUT.COM — Di tengah hijaunya kawasan Bayongbong, Garut, masih berdiri salah satu jejak perjalanan panjang perkeretaapian Garut: bekas jembatan kereta api Bayongbong. Jembatan ini merupakan bagian dari jalur Garut–Cikajang, yang menjadi perpanjangan dari jalur Cibatu–Garut. Jalur Cibatu–Garut sendiri mulai beroperasi pada 14 Agustus 1889, sedangkan jalur Garut–Cikajang resmi dibuka untuk […]

  • 5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 105
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut memiliki banyak pilihan lembaga pendidikan berbasis Islam yang bisa menjadi pertimbangan orang tua untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya. Madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memadukannya dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter. Karena itu, madrasah menjadi salah satu pilihan menarik bagi keluarga di Garut. Berikut lima madrasah negeri di Garut yang bisa menjadi […]

  • 5 Tradisi Muludan di Garut, Warisan Islam dan Kearifan Lokal

    5 Tradisi Muludan di Garut, Warisan Islam dan Kearifan Lokal

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 47
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bulan Rabiul Awal atau yang akrab disebut bulan Mulud menjadi salah satu momentum penting bagi masyarakat Muslim di Garut. Peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW tidak hanya diwujudkan melalui pengajian dan pembacaan selawat, tetapi juga hadir dalam beragam tradisi lokal yang diwariskan lintas generasi. Berikut 5 tradisi Muludan di Garut yang menarik untuk diketahui: 1. […]

  • Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 675
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — PENDIRI Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah mengajar anak-anak di desa Mekartani, Singajaya, Garut, Jumat 3 Februari 2017 lalu. Opik bersama sukarelawan lainnya membangun kampung literasi dengan membuat perpustakaan keliling.* Kali ini kami sampaikan cerita tentang Opik, pendiri Komunitas Ngejah di Garut. “Tahun 2010, Garut menjadi satu dari dua daerah tertinggal di Jawa Barat. […]

expand_less