Breaking News

Asyik Deh, Minat Baca Naik, Tapi Toko Buku, Kok, Sepi Ya!

  • account_circle Sukron Abdilah
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • visibility 1.248
  • print Cetak

Habermas dan Rak Buku Kosong

Dulu, sebagai mahasiswa, saya sering mengaitkan teori Habermas dengan kehidupan sehari-hari. Ia bicara soal “ruang publik” (public sphere): tempat orang berdiskusi rasional untuk mencapai kesepahaman. Dulu, ruang publik itu bisa berupa kafe kampus, warung kopi, atau forum diskusi buku.

Sekarang? Mungkin ruang publik itu bernama kolom komentar Twitter — tempat di mana rasionalitas sering kali tersesat sebelum sempat berdialog. Dan, kalau Habermas hidup di zaman ini, mungkin dia akan menulis buku baru: The Structural Transformation of the Bookstore. Karena toko buku, yang dulu jadi ruang publik bagi para pencinta wacana, kini berubah jadi ruang kontemplasi pegawai kasir yang bosan.

Saya pernah mampir ke sebuah toko buku besar di Bandung. Musiknya lembut, AC-nya dingin, dan aroma buku baru masih sama menggoda. Tapi pengunjung hanya dua: saya dan seorang anak SMA yang lagi cari novel wajib baca dari gurunya. Pegawainya tersenyum sopan, seolah berkata: “Terima kasih sudah datang, walau cuma lihat-lihat.”

Di sisi lain, harus diakui: membaca memang sedang tren lagi. Timeline media sosial penuh dengan konten “Bookfluencer” yang membahas buku-buku keren. Ada yang mereview Sapiens dalam satu menit, ada yang mengutip Rumi sambil pasang musik sendu. Literasi tampak hidup — tapi dengan wajah baru: digital, cepat, dan gratis.

Sebagian orang membaca PDF dari sumber tak jelas, sebagian lagi menunggu versi e-book murah, dan sebagian besar… membaca ringkasannya saja. Bukan karena malas, tapi karena waktu kita kini lebih padat oleh notifikasi daripada oleh refleksi.

Tapi di sinilah paradoks itu terasa lucu. Kita punya minat baca tinggi, tapi tidak punya kebiasaan membeli. Buku kini menjadi seperti gebetan lama: kita kagumi dari jauh, sering kita like fotonya, tapi tak pernah benar-benar kita datangi.

  • Penulis: Sukron Abdilah
  • Editor: SAB

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    Mengenal Taufik Hidayat, Lelaki Paling Kejam Abad Ini

    • calendar_month Rabu, 24 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 100
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kita lanjutkan cerita Taufik Hidayat yang ini (bukan yang itu). Saya sudah beberkan kekejaman monster berwajah manusia ini sebelumnya. Sekarang, ada baiknya kita mengenal psikopat ini lebih dalam lagi. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Taufik Hidayat, monster berwajah manusia berusia 30 tahun. Ia lahir 14 Juni 1996 di Bandung. Ia telah mengubah […]

  • 5 Tips Mudik Aman dan Nyaman ke Garut

    5 Tips Mudik Aman dan Nyaman ke Garut

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 271
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang perayaan Idul Fitri, perjalanan mudik ke Garut menjadi momen yang dinanti banyak perantau. Kota yang dikenal dengan udara sejuk dan kuliner khasnya ini selalu ramai dikunjungi saat Lebaran. Namun, meningkatnya arus kendaraan menuju Garut sering kali menimbulkan kemacetan dan perjalanan yang lebih panjang dari biasanya.   Agar perjalanan mudik tetap aman dan nyaman, […]

  • Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 246
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Setelah menginap di Bandung, rombongan Charlie Chaplin melanjutkan perjalanan menuju Garut, 25 Maret 1936. Charlie dalam kunjungannya ke Pulau Jawa yang kedua kali tersebut ditemani oleh Paulette dan ibunya, Alta Mae Goddard. Sejak mendarat di Cililitan Batavia, mereka melakukan perjalanan menggunakan mobil melewati Puncak. Lagi-lagi, Hotel Preanger menjadi tempat singgah Chaplin sekaligus menginap. […]

  • Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

    Datang, Curhat, Joget, Buka Baju, Pulang

    • calendar_month Senin, 4 Mei 2026
    • account_circle Nury Sybli, Alumni UIN Jakarta
    • visibility 160
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — “Don’t Judging” — Catatan Pagi dari Obrolan Anak SD   Pagi ini di sela-sela ribetnya siap berangkat sekolah, Ni Luh tiba-tiba nanya, “Mom, waktu aku bayi gendut ya?” “Iya… tapi cantik dan menggemaskan,” jawabku cepat.   Dia diam sebentar, lalu lanjut, “Nanti pas aku Junior High School, aku nggak tahu wajahku jadi gimana. […]

  • Program BK-mu Selama Ini Cuma Asumsi

    Program BK-mu Selama Ini Cuma Asumsi

    • calendar_month Kamis, 14 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 154
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lagi latihan bikin program BK yang insyaallah mendekati bener,, karena selama ini semua aspek pengen dimasukin akhirnya tidak terukur..   Kita mulai dari yang spesifik dulu 3 prioritas layanan, karena di sekolahku anak2nya kurang disiplin, nilainya pada jelek dan sopan santun yg kureng.. kita masukkan prioritas layanan 1. Kurang disiplin (tanggung jawab sosial) […]

  • Suka dan Cinta

    Suka dan Cinta

    • calendar_month Rabu, 29 Apr 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • visibility 208
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, apa bedanya “aku menyukaimu” dan “aku mencintaimu”?   Ketika engkau menyukai bunga, kau petik ia sekejap—rupanya memikat, semerbaknya kau hirup diam-diam, lalu ia gugur bersama waktu yang engkau abaikan.   Ketika engkau mencintai bunga, kau sirami ia setiap hari, kau rawat tanahnya, kau jaga akarnya, kau temani tumbuhnya—dan dari kuncup yang perlahan merekah, […]

expand_less