Breaking News
dark_mode

Nah Ini Dia! 5 Fakta Unik Kampung Amsterdam di Garut

  • account_circle Redaksi Tigarut
  • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Deretan fakta unik Kampung Amsterdam di Garut ini tidak boleh kamu lewatkan. Berada di kaki Gunung Cikuray, Kampung Amsterdam ini menyimpan bukti sejarah kehidupan bangsa Belanda di Kabupaten Garut.

Kini, Kampung Amsterdam ini masuk dalam jajaran obyek wisata favorit yang ada di Kabupaten Garut. Simak fakta unik Kampung Amsterdam di Garut berikut ini.

Fakta Unik Kampung Amsterdam

1. Objek Wisata

Kampung Amsterdam merupakan salah satu objek wisata baru di Kabupaten Garut yang tengah digandrungi oleh wisatawan. Berada di kaki Gunung Cikuray, objek wisata ini memiliki keindahan alam khas pegunungan serta udara yang sejuk.

Sejak mulai dikelola pada 2016 lalu, pihak pengelola Kampung Amsterdam menyulap sedikit area perkebunan teh yang berada di depan kampung untuk dijadikan tempat beristirahat oleh para wisatawan yang datang.

Terdapat beberapa balai, seperti balai pohon serta balai berbentuk perahu yang bisa dimanfaatkan sebagai objek berswafoto.

2. Peninggalan Belanda

Di Kampung Amsterdam ini memiliki sekitar 12 rumah yang dihuni oleh 24 orang warga. Uniknya, rumah yang ditempati tersebut merupakan rumah peninggalan Belanda yang belum pernah direnovasi.

Rumah-rumah tersebut berdiri di tanah seluas 7 hektar dan dibangun semi permanen dengan perpaduan bilik rajutan kayu dan tembok.

Rata-rata bangunan bekas Belanda di Kampung Amsterdam ini dibuat tahun 1913, meski begitu beberapa diantaranya masih berfungsi dengan baik. Selain itu rumah, terdapat pula saluran air sepanjang 300 meter di tempat ini.

3. Dihuni Keturunan Belanda

Tak hanya bangunannya, jejak peninggalan Belanda juga bisa kita ketahui dari para penghuninya. Di Kampung Amsterdam ini dihuni oleh penduduk keturunan Belanda.

Hal ini diketahui saat seorang YouTuber membagikan keseruannya saat membagikan Kampung Amsterdam ini. Di sana, YouTuber tersebut disambut oleh dua wanita lanjut usia keturunan Belanda.

4. Lokasi

Kampung Amsterdam ini berada di Kawasan Perkebunan Teh Dayeuh Manggung. Lokasinya berjarak sekitar 19 kilometer dari pusat Kota Garut. Jarak tempuh dari pusat kota menuju ke kampung ini membutuhkan waktu sekitar 45 menit perjalanan menggunakan kendaraan motor maupun mobil.

5. Hal yang Bisa Dilakukan

Banyak hal yang bisa kamu lakukan saat mengunjungi Kampung Amsterdam ini. Diantaranya adalah berkemah, hiking, hingga tracking. Kampung Amsterdam ini sangat cocok untuk liburan dengan budget minim karena tiket masuknya hanya Rp5.000/orang.

Nah, itulah lima fakta unik kampung Amsterdam yang berada di Garut, Jawa Barat.

Komentar

Rekomendasi

  • Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Lubab Zaman, Pemilik Channel Drama @lindtivi
    • 0Komentar

    Prompt:   Modal bisa baca kitab, sudah sah jadi “pewaris pondok”. Karena sealim-alimnya calon kiai, sia-sia saja mengajar kitab kalau masih “translit Jawa sentris”. Maka, dengarkan ketika “anak kiai” mulai mengajar kitab! Pertama, apakah hanya fokus translit? Kedua, apakah bisa menerjemahkan dalam bahasa lisannya sendiri? Ketiga, tanpa melihat kitab, apakah mampu menyampaikan matan-matan kitab?   […]

  • 5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    5 Tips Jitu Aman dari Pungli di Pantai Garut

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur ke pantai selatan Garut seperti Santolo, Sayang Heulang, dan Rancabuaya memang selalu menggoda. Namun di tengah ramainya wisatawan saat Lebaran, isu pungutan liar (pungli) kembali jadi sorotan, terutama setelah viral dugaan tarif tak jelas di Pantai Sayang Heulang. Pemkab Garut bahkan sedang menyiapkan e-ticketing untuk meminimalkan praktik tersebut.   5 tips jitu agar […]

  • Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    Cuma Indonesia yang punya 4 “Choke Point” ini. Tapi So What?

    • calendar_month 9 jam yang lalu
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama ini, ketika mendengar istilah choke point, pikiran kita langsung tertuju pada Selat Hormuz, Selat Malaka, atau Terusan Suez. Dalam geopolitik klasik, choke point adalah jalur sempit yang mengendalikan arus perdagangan dan energi dunia. Siapa yang menguasainya memiliki daya tawar yang sangat besar.   Iran adalah contoh paling menarik. Negara itu tidak memiliki ekonomi […]

  • Misi Rahasia Gen Z di Muka Bumi, Tetap Survive Pokoknya mah!

    Misi Rahasia Gen Z di Muka Bumi, Tetap Survive Pokoknya mah!

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bayangkan sebuah film superhero, tapi tanpa CGI, tanpa soundtrack Hans Zimmer, dan tanpa kostum keren. Superheronya? Ya, kita—para Gen Z. Senjata kita bukan kekuatan super, tapi koneksi Wi-Fi, resume di Canva, dan kemampuan multitasking antara kerja, kuliah, dan healing. Misi kita? Menyelamatkan Indonesia dari jebakan usia produktif—menjadi agen bonus demografi. Gen Z lahir […]

  • Kisah Dermaga Santolo

    Kisah Dermaga Santolo

    • calendar_month Sabtu, 25 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Jejak Lengkap Kejayaan Rempah Zaman Belanda di Garut TIGARUT.COM — Sebuah dermaga tua peninggalan kolonial masih berdiri di kawasan Pantai Santolo, Kabupaten Garut. Keberadaannya bukan sekadar bangunan tua, tetapi bagian dari sejarah panjang jalur perdagangan rempah di pesisir selatan Jawa Barat. Berdasarkan laporan dari Merdeka com, dermaga ini dibangun pada awal abad ke-20, sekitar tahun […]

  • 5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    5 Konsekuensi Bila Jabar Berganti Nama Menjadi Tatar Sunda atau Pasundan

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Sebagai warisan dan identitas budaya, orang Sunda pasti suka kesundaan disebutkan sebagai nama propinsi ketimbang “Jawa Barat” sebagai warisan administrasi kolonial. Saya saja suka walaupun bukan Sunda pituin alias blasteran Sunda-Makasaar, apalagi yang Sunda asli.   Tapi, mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda atau Provinsi Pasundan memiliki konsekuensi yang luas, bukan […]

expand_less