Breaking News

Makin Marak Demo Tandingan, Apakah Posisi Prabowo Aman?

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
  • visibility 97
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Lupakan sekejab kisah Roy Suryo dan dr Tifa. Kita kembali fokus pada demo. Mulai marak aksi demo tandingan. Muncul pertanyaan, apakah fenomena ini mengindikasi posisi Prabowo tidak aman? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Munculnya BEM Bersatu beberapa waktu lalu sudah membuat banyak orang mengernyitkan dahi sampai hampir menyentuh ubun-ubun. Belum habis publik mencerna kemunculan mereka, kini muncul lagi gelombang dukungan lebih besar. Ribuan orang dari berbagai kelompok turun ke jalan mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemerintahan Prabowo.

 

Pertanyaannya sederhana. Kalau memang semuanya aman, kenapa tiba-tiba ramai sekali yang harus turun ke jalan membela?

 

Ini bukan tuduhan. Ini pertanyaan. Sebab dalam ilmu fisika sosial ala warung kopi, semakin banyak pagar dipasang, biasanya semakin banyak orang bertanya apa yang sedang dijaga.

 

Jumat, 19 Juni 2026, Jakarta seperti sedang menggelar festival demonstrasi nasional. Ada lima titik aksi sekaligus. Ada petani, nelayan, pedagang, mahasiswa, pemuda, hingga berbagai organisasi masyarakat. Polres Jakarta Pusat mencatat aksi tersebar dari Monas, Patung Kuda, Tugu Tani, Kementerian Keuangan hingga DPR.

 

Yang paling mencolok adalah aksi dukungan terhadap MBG dan Prabowo. Sekitar 7.000 orang hadir. Jumlah yang tidak kecil. Mereka membawa poster bertuliskan “Mahasiswa Bersama Prabowo”, “MBG Menyelamatkan Petani”, dan “Jangan Mau Diadu Domba”.

 

Secara resmi, aksi itu disebut murni dukungan rakyat yang merasakan manfaat program pemerintah. Ketua Tani Merdeka Indonesia, Don Muzakir menjelaskan, petani merasa terbantu karena hasil panen terserap untuk program MBG dan akses pupuk menjadi lebih mudah.

 

Penjelasan itu masuk akal.

 

Tapi netizen adalah makhluk tidak pernah puas dengan sesuatu yang masuk akal. Mereka selalu bertanya lebih jauh.

 

Kenapa muncul sekarang? Kenapa saat mahasiswa sedang gencar mengkritik MBG? Kenapa setelah berbagai kampus mulai bergerak? Kenapa setelah muncul gelombang penolakan yang semakin luas Pertanyaan-pertanyaan itu beterbangan di media sosial seperti nyamuk musim hujan.

 

Sementara itu, mahasiswa Trisakti datang membawa “Tritura Kembali”. Mahasiswa Esa Unggul menuntut audit korupsi MBG. Kelompok mahasiswa lain berdemo di Bundaran HI dan Tugu Tani.

 

Di sinilah menariknya. Di satu sisi pemerintah ingin menunjukkan masih banyak rakyat yang mendukung. Di sisi lain mahasiswa ingin menunjukkan masih banyak rakyat yang kecewa.

 

Akhirnya yang terjadi bukan lagi perang argumen. Sudah seperti lomba pengeras suara nasional. Yang satu membawa toa. Yang satu membawa toa lebih besar. Yang satu membawa spanduk. Yang satu membawa spanduk lebih panjang.

 

Kalau begini terus, tahun depan mungkin ada lomba desain poster antarpendemo dengan hadiah utama paket MBG setahun.

 

Lalu muncul pertanyaan yang lebih besar. Apakah posisi Prabowo aman?

 

Kalau melihat peta kekuasaan formal, jawabannya masih sangat aman. DPR relatif terkonsolidasi. Kabinet masih solid. Aparat negara masih bekerja normal. Tidak ada tanda-tanda ancaman politik langsung yang bisa menggoyang kursi kekuasaan.

 

Tetapi politik tidak selalu ditentukan oleh gedung parlemen. Kadang politik ditentukan oleh persepsi. Persepsi publik sedang bergerak.

 

Masalahnya, persepsi tidak bisa ditangkap polisi. Tidak bisa diborgol. Tidak bisa dibubarkan.

 

Ia hidup di warung kopi, kampus, grup WA ormas, TikTok, Facebook, dan kolom komentar lebih ganas dari hutan Amazon.

 

Apalagi pada hari yang sama Kejagung menetapkan tersangka baru dalam dugaan korupsi tata kelola MBG. Glory Harimas Sihombing diduga menjual titik dapur SPPG kepada calon mitra dengan tarif sekitar Rp100 juta per lokasi.

 

Kasus ini menjadi bensin yang disiram ke api yang sudah menyala.

 

Kemudian muncul lagi kabar distribusi MBG dihentikan sementara selama libur sekolah untuk penataan tata kelola.

 

Netizen tentu langsung bekerja lembur. Mereka menyambung satu titik ke titik lain. Menghubungkan satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Membuat teori konspirasi dengan kecepatan yang membuat kecerdasan buatan minder.

 

Ada bilang negara sedang panik. Ada bilang negara sedang melakukan konsolidasi. Ada bilang ini strategi komunikasi. Ada bilang ini strategi pengalihan. Ada pula bilang ini hanya kebetulan. Di republik ini, kebetulan pun sering dicurigai sebagai rapat rahasia.

 

Yang jelas, semakin banyak demo dukungan bermunculan, semakin banyak pula pertanyaan muncul. Karena dalam politik, dukungan yang terlalu sepi bisa dianggap lemah.

 

Tetapi dukungan terlalu ramai juga bisa membuat orang bertanya, sebenarnya siapa yang sedang diyakinkan?

 

Pemerintah? Rakyat? Atau justru dirinya sendiri?

 

Nah, itu pertanyaan yang jawabannya mungkin hanya diketahui para dewa politik yang konon bermarkas di balik awan Istana.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu

    Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api,
    • visibility 456
    • 0Komentar

    “Untuk kelima kalinya, saya melakukan perjalanan dari Tjitjalengka ke Garoet. Di sepanjang jalan pos lama, saya menyaksikan begitu banyak kuda yang menderita, kegelisahan dan kesengsaraan para penumpang;”[1] TIGARUT.COM — Satu dari sekian banyak jalur kereta api mati yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah di tahun 2019 ini adalah jalur antara Cibatu dan Garut. Dahulu, jalur […]

  • Asyiknya Bubur Garut Pasar Desa Sentolo Kuliner Tradisional Kaya Manfaat

    Asyiknya Bubur Garut Pasar Desa Sentolo Kuliner Tradisional Kaya Manfaat

    • calendar_month Minggu, 26 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 138
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Bubur Garut menjadi salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan ditengah menjamurnya makanan modern. Di pasar Desa Sentolo yang berada di jalan raya Sentolo-Pengasih km.1 Sentolo Kulon Progo, Bu Sutinem setia menjajakan bubur Garut yang telah menjadi langganan masyarakat selama bertahun-tahun.   Setiap hari Bu Sutinem berjualan disudut pasar yang berada dipinggir jalan.. […]

  • Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    Nah Ini Dia! 6 Keunikan Domba Cibuluh Garut Tampil Beda

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 335
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Domba Cibuluh Garut semakin dikenal sebagai salah satu domba unggulan lokal yang memiliki ciri khas berbeda dibandingkan domba pada umumnya. Berasal dari wilayah Cibuluh, Kabupaten Garut, domba ini tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri yang membuatnya diminati peternak dan pecinta domba aduan.   Berikut enam keunikan Domba Cibuluh Garut:   […]

  • Nah Ini Dia! 5 Curug Indah dan Terkenal di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Curug Indah dan Terkenal di Garut

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 292
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut dikenal bukan hanya sebagai kota dodol dan pegunungan, tetapi juga sebagai surga air terjun alami yang tersebar dari utara hingga selatan. Curug-curug di Garut menawarkan pesona yang beragam: dari air terjun tinggi yang megah, aliran sungai bertebing eksotis, hingga lokasi tersembunyi yang masih sangat alami. Keindahan ini menjadikan Garut destinasi favorit bagi […]

  • Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 675
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — PENDIRI Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah mengajar anak-anak di desa Mekartani, Singajaya, Garut, Jumat 3 Februari 2017 lalu. Opik bersama sukarelawan lainnya membangun kampung literasi dengan membuat perpustakaan keliling.* Kali ini kami sampaikan cerita tentang Opik, pendiri Komunitas Ngejah di Garut. “Tahun 2010, Garut menjadi satu dari dua daerah tertinggal di Jawa Barat. […]

  • Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

    Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 219
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelang magrib di Garut selalu ada rasa yang berbeda. Udara pegunungan yang sejuk pelan-pelan berubah hangat oleh keramaian langkah orang-orang yang menanti adzan. Ngabuburit di kota ini bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi seperti ritual kecil untuk menyapa senja dan diri sendiri. Di pelataran Garut Town Square, anak-anak berlari kecil, remaja duduk melingkar sambil bercanda, […]

expand_less