Breaking News

Guru Muda Maju, Guru Tua Mundur:

  • account_circle Wijaya Kusumah - omjay
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • visibility 97
  • print Cetak

Saatnya Memberi Ruang, Bukan Menghilang

 

“Guru muda maju, guru tua mundur.”

TIGARUT.COM — Kalimat itu saya dengar dalam sebuah pertemuan guru. Sebagian orang menafsirkannya sebagai tanda bahwa guru senior sudah waktunya menepi. Ada pula yang menganggapnya sebagai ajakan agar generasi muda mengambil alih panggung pendidikan.

 

Saya tersenyum mendengarnya.

 

Dalam hati saya berkata, “Guru tua memang boleh mundur, tetapi bukan untuk berhenti berkarya. Guru tua mundur agar guru muda memiliki ruang untuk tumbuh, berani mencoba, dan percaya diri memimpin masa depan.”

 

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyaksikan pergantian generasi terjadi berkali-kali. Dahulu saya adalah guru muda yang penuh semangat. Saya datang ke sekolah dengan ide-ide baru, ingin mengubah banyak hal, bahkan terkadang merasa cara guru senior sudah tidak relevan lagi. Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa keberanian saya saat itu lahir karena ada guru-guru senior yang rela memberikan kesempatan.

 

Mereka tidak iri ketika kami tampil. Mereka tidak takut kehilangan nama. Mereka justru berdiri di belakang kami, menguatkan ketika kami salah melangkah dan menepuk bahu ketika kami berhasil.

 

Kini giliran kami menjadi guru senior.

 

Sudah saatnya kami belajar memberi panggung kepada generasi berikutnya. Jangan sampai pengalaman yang begitu panjang berubah menjadi tembok yang menghalangi kreativitas anak-anak muda. Pengalaman seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang.

 

Saya percaya setiap generasi memiliki kelebihan masing-masing. Guru muda memiliki energi yang luar biasa. Mereka cepat belajar, akrab dengan teknologi, berani bereksperimen, dan tidak takut mencoba pendekatan baru dalam pembelajaran. Mereka tumbuh bersama dunia digital sehingga lebih mudah memahami karakter peserta didik zaman sekarang.

 

Sebaliknya, guru senior memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh siapa pun, yaitu pengalaman. Pengalaman menghadapi berbagai karakter siswa, menghadapi perubahan kurikulum, menghadapi tantangan dunia pendidikan, hingga menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.

 

Bayangkan jika energi guru muda bertemu dengan kebijaksanaan guru senior. Pendidikan akan melahirkan kekuatan yang luar biasa.

 

Sayangnya, dalam kenyataan, ego sering kali menjadi penghalang. Ada guru senior yang masih ingin menjadi pusat perhatian. Semua kegiatan ingin dipimpin sendiri. Semua keputusan ingin ditentukan sendiri. Semua penghargaan ingin diterima sendiri. Tanpa sadar, ruang bagi guru muda menjadi semakin sempit.

 

Akibatnya, banyak guru muda kehilangan keberanian. Mereka memiliki ide, tetapi takut menyampaikan. Mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah diberi kesempatan. Mereka hanya menjadi pelaksana, bukan penggerak.

 

Padahal seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang selalu berada di depan. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

 

Saya teringat pesan seorang guru yang sangat saya hormati. Beliau berkata, “Kalau suatu hari muridmu lebih hebat daripada dirimu, jangan sedih. Justru itulah keberhasilan seorang guru.”

 

Kalimat sederhana itu terus saya pegang sampai sekarang.

 

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Ketika guru muda mampu berbicara di seminar, menjadi narasumber pelatihan, memimpin komunitas belajar, atau menghasilkan karya yang lebih baik daripada guru senior, jangan pernah merasa tersaingi. Bersyukurlah. Itu berarti estafet pendidikan berjalan dengan baik.

 

Guru tua tidak kehilangan kehormatan ketika memberi kesempatan kepada guru muda. Justru di situlah kehormatan itu semakin tinggi. Sebab kebesaran seseorang tidak diukur dari berapa lama ia berdiri di atas panggung, melainkan dari berapa banyak orang yang berhasil ia dorong naik ke atas panggung.

 

Saya sering melihat guru muda yang sebenarnya sangat berbakat, tetapi kurang percaya diri. Mereka takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap belum berpengalaman.

 

Di sinilah peran guru senior menjadi sangat penting. Bukan mengambil alih pekerjaan mereka, melainkan mendampingi. Bukan menggantikan langkah mereka, melainkan menguatkan. Bukan memadamkan semangat mereka, melainkan meniupkan keberanian.

 

Percayalah, kepercayaan adalah hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seorang guru muda.

 

Ketika seorang guru senior berkata, “Silakan kamu yang memimpin rapat ini,” atau “Presentasi kali ini biar kamu yang menyampaikan,” sesungguhnya ia sedang menanamkan rasa percaya diri yang akan tumbuh sepanjang karier guru muda tersebut.

 

Begitulah seharusnya estafet kepemimpinan berlangsung.

 

Guru tua mundur bukan karena kalah. Guru tua mundur karena bijaksana. Guru tua mundur bukan karena tidak mampu. Guru tua mundur karena ingin melihat generasi berikutnya tumbuh lebih tinggi.

 

Pendidikan bukan perlombaan mencari siapa yang paling hebat. Pendidikan adalah perjalanan panjang menyiapkan penerus yang lebih baik daripada pendahulunya.

 

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika saya sudah tidak lagi aktif mengajar di kelas, saya ingin melihat murid-murid dan guru-guru muda yang pernah saya dampingi berdiri dengan penuh percaya diri. Mereka berbicara di depan ribuan peserta, menulis buku, menciptakan inovasi pembelajaran, dan menginspirasi banyak orang.

 

Saat itulah saya akan tersenyum.

 

Saya tidak merasa kehilangan panggung. Saya justru merasa berhasil.

 

Karena sesungguhnya kebahagiaan seorang guru bukan ketika namanya terus dikenang, melainkan ketika murid dan generasi penerusnya mampu melampaui segala pencapaiannya.

 

Mari kita jadikan sekolah sebagai taman yang memberi ruang bagi semua generasi untuk bertumbuh. Guru muda melangkah dengan semangat, guru senior mendampingi dengan kebijaksanaan. Yang muda membawa harapan, yang tua menebarkan pengalaman.

 

Jika keduanya berjalan bergandengan tangan, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga rendah hati.

 

Guru muda, melangkahlah dengan penuh percaya diri.

 

Guru tua, mundurlah selangkah agar lahir seribu langkah kemajuan.

 

Sebab dalam dunia pendidikan, kemuliaan bukanlah tentang siapa yang paling lama berdiri di depan, melainkan siapa yang paling ikhlas menuntun orang lain hingga mampu berdiri lebih tinggi.Artikel ini cocok untuk Kompasiana karena memadukan refleksi pribadi, pesan moral, dan ajakan kolaborasi antargenerasi dengan gaya bertutur khas Kisah Omjay yang hangat dan menyentuh.

 

  • Penulis: Wijaya Kusumah - omjay

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Bukan Sekadar Baper

    Bukan Sekadar Baper

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 164
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Simpan dulu, praktek kemudian ☺   Tujuan Layanan (Siswa mampu…)   ✅Mengidentifikasi 3 tanda fisiologis tubuh saat marah, cemas, atau sedih. ✅Membedakan antara “merasa” dan “bertindak” – bahwa emosi boleh dirasakan, tapi perilaku bisa dipilih. ✅Mempraktikkan minimal satu teknik regulasi emosi (misal: 5-4-3-2-1 grounding atau Zona Kendali).   Alat dan Bahan yang Diperlukan […]

  • Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

    • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 143
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pagi tadi saya seperti manusia yang sedang ditarik dua dunia. Dunia orang hidup yang masih sibuk menghitung jam keberangkatan, dan dunia kematian yang tak pernah peduli jadwal manusia. Saya ingin pulang kampung pukul 07.00 WIB. Ingin cepat. Ingin sekali ikut memandikan abang kandung saya, Iskar Dinata. Ingin ikut menyolatkan. Ingin ikut menguburkan. Tapi manusia […]

  • Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

    • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
    • account_circle Sukron Abdilah, penulis Leupas
    • visibility 193
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu fase dalam hidup yang terasa seperti eksperimen psikologi tanpa kita sadari: Lebaran sebelum menikah. Kita datang sebagai tamu, pulang sebagai… tersangka (setidaknya di batin sendiri). Di antara semua variabel sosial—basa-basi, pertanyaan “kapan nyusul?”, hingga strategi duduk agar tidak terlalu dekat dengan om yang cerewet—ada satu objek kecil yang diam-diam mengendalikan alur cerita: […]

  • 5 Gunung Terkenal di Garut, Daya Tarik Wisata Alam dan Pendakian

    5 Gunung Terkenal di Garut, Daya Tarik Wisata Alam dan Pendakian

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 456
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang kaya akan pesona alam pegunungan. Deretan gunung yang mengelilingi wilayah ini tidak hanya menawarkan panorama indah, tetapi juga menjadi tujuan favorit para pendaki dan wisatawan. Berikut lima gunung terkenal di Garut yang memiliki daya tarik tersendiri. 1. Gunung Cikuray Gunung Cikuray merupakan […]

  • 5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    5 Madrasah Pilihan di Garut, Lengkap dengan Alamatnya

    • calendar_month Senin, 10 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 101
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut memiliki banyak pilihan lembaga pendidikan berbasis Islam yang bisa menjadi pertimbangan orang tua untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya. Madrasah tidak hanya memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memadukannya dengan pendidikan agama dan pembentukan karakter. Karena itu, madrasah menjadi salah satu pilihan menarik bagi keluarga di Garut. Berikut lima madrasah negeri di Garut yang bisa menjadi […]

  • 5 Fakta Unik tentang Razia Rambut di SMKN 2 Garut

    5 Fakta Unik tentang Razia Rambut di SMKN 2 Garut

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pagi di sebuah sekolah kejuruan seperti SMKN 2 Garut sering dimulai dengan rutinitas yang tak jauh berbeda: barisan rapi, seragam lengkap, dan tatapan guru yang teliti. Namun, ada momen tertentu yang selalu menghadirkan suasana berbeda—razia rambut. Bagi sebagian siswa, ini mungkin sekadar penertiban biasa. Tapi bagi yang lain, ini bisa jadi momen mendebarkan, bahkan […]

expand_less