Breaking News
dark_mode

Guru Muda Maju, Guru Tua Mundur:

  • account_circle Wijaya Kusumah - omjay
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saatnya Memberi Ruang, Bukan Menghilang

 

“Guru muda maju, guru tua mundur.”

TIGARUT.COM — Kalimat itu saya dengar dalam sebuah pertemuan guru. Sebagian orang menafsirkannya sebagai tanda bahwa guru senior sudah waktunya menepi. Ada pula yang menganggapnya sebagai ajakan agar generasi muda mengambil alih panggung pendidikan.

 

Saya tersenyum mendengarnya.

 

Dalam hati saya berkata, “Guru tua memang boleh mundur, tetapi bukan untuk berhenti berkarya. Guru tua mundur agar guru muda memiliki ruang untuk tumbuh, berani mencoba, dan percaya diri memimpin masa depan.”

 

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya menyaksikan pergantian generasi terjadi berkali-kali. Dahulu saya adalah guru muda yang penuh semangat. Saya datang ke sekolah dengan ide-ide baru, ingin mengubah banyak hal, bahkan terkadang merasa cara guru senior sudah tidak relevan lagi. Namun, seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa keberanian saya saat itu lahir karena ada guru-guru senior yang rela memberikan kesempatan.

 

Mereka tidak iri ketika kami tampil. Mereka tidak takut kehilangan nama. Mereka justru berdiri di belakang kami, menguatkan ketika kami salah melangkah dan menepuk bahu ketika kami berhasil.

 

Kini giliran kami menjadi guru senior.

 

Sudah saatnya kami belajar memberi panggung kepada generasi berikutnya. Jangan sampai pengalaman yang begitu panjang berubah menjadi tembok yang menghalangi kreativitas anak-anak muda. Pengalaman seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang.

 

Saya percaya setiap generasi memiliki kelebihan masing-masing. Guru muda memiliki energi yang luar biasa. Mereka cepat belajar, akrab dengan teknologi, berani bereksperimen, dan tidak takut mencoba pendekatan baru dalam pembelajaran. Mereka tumbuh bersama dunia digital sehingga lebih mudah memahami karakter peserta didik zaman sekarang.

 

Sebaliknya, guru senior memiliki sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh siapa pun, yaitu pengalaman. Pengalaman menghadapi berbagai karakter siswa, menghadapi perubahan kurikulum, menghadapi tantangan dunia pendidikan, hingga menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.

 

Bayangkan jika energi guru muda bertemu dengan kebijaksanaan guru senior. Pendidikan akan melahirkan kekuatan yang luar biasa.

 

Sayangnya, dalam kenyataan, ego sering kali menjadi penghalang. Ada guru senior yang masih ingin menjadi pusat perhatian. Semua kegiatan ingin dipimpin sendiri. Semua keputusan ingin ditentukan sendiri. Semua penghargaan ingin diterima sendiri. Tanpa sadar, ruang bagi guru muda menjadi semakin sempit.

 

Akibatnya, banyak guru muda kehilangan keberanian. Mereka memiliki ide, tetapi takut menyampaikan. Mereka memiliki kemampuan, tetapi tidak pernah diberi kesempatan. Mereka hanya menjadi pelaksana, bukan penggerak.

 

Padahal seorang pemimpin sejati bukanlah orang yang selalu berada di depan. Pemimpin sejati adalah orang yang mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru.

 

Saya teringat pesan seorang guru yang sangat saya hormati. Beliau berkata, “Kalau suatu hari muridmu lebih hebat daripada dirimu, jangan sedih. Justru itulah keberhasilan seorang guru.”

 

Kalimat sederhana itu terus saya pegang sampai sekarang.

 

Begitu pula dalam dunia pendidikan. Ketika guru muda mampu berbicara di seminar, menjadi narasumber pelatihan, memimpin komunitas belajar, atau menghasilkan karya yang lebih baik daripada guru senior, jangan pernah merasa tersaingi. Bersyukurlah. Itu berarti estafet pendidikan berjalan dengan baik.

 

Guru tua tidak kehilangan kehormatan ketika memberi kesempatan kepada guru muda. Justru di situlah kehormatan itu semakin tinggi. Sebab kebesaran seseorang tidak diukur dari berapa lama ia berdiri di atas panggung, melainkan dari berapa banyak orang yang berhasil ia dorong naik ke atas panggung.

 

Saya sering melihat guru muda yang sebenarnya sangat berbakat, tetapi kurang percaya diri. Mereka takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap belum berpengalaman.

 

Di sinilah peran guru senior menjadi sangat penting. Bukan mengambil alih pekerjaan mereka, melainkan mendampingi. Bukan menggantikan langkah mereka, melainkan menguatkan. Bukan memadamkan semangat mereka, melainkan meniupkan keberanian.

 

Percayalah, kepercayaan adalah hadiah terbesar yang dapat diberikan kepada seorang guru muda.

 

Ketika seorang guru senior berkata, “Silakan kamu yang memimpin rapat ini,” atau “Presentasi kali ini biar kamu yang menyampaikan,” sesungguhnya ia sedang menanamkan rasa percaya diri yang akan tumbuh sepanjang karier guru muda tersebut.

 

Begitulah seharusnya estafet kepemimpinan berlangsung.

 

Guru tua mundur bukan karena kalah. Guru tua mundur karena bijaksana. Guru tua mundur bukan karena tidak mampu. Guru tua mundur karena ingin melihat generasi berikutnya tumbuh lebih tinggi.

 

Pendidikan bukan perlombaan mencari siapa yang paling hebat. Pendidikan adalah perjalanan panjang menyiapkan penerus yang lebih baik daripada pendahulunya.

 

Saya membayangkan suatu hari nanti, ketika saya sudah tidak lagi aktif mengajar di kelas, saya ingin melihat murid-murid dan guru-guru muda yang pernah saya dampingi berdiri dengan penuh percaya diri. Mereka berbicara di depan ribuan peserta, menulis buku, menciptakan inovasi pembelajaran, dan menginspirasi banyak orang.

 

Saat itulah saya akan tersenyum.

 

Saya tidak merasa kehilangan panggung. Saya justru merasa berhasil.

 

Karena sesungguhnya kebahagiaan seorang guru bukan ketika namanya terus dikenang, melainkan ketika murid dan generasi penerusnya mampu melampaui segala pencapaiannya.

 

Mari kita jadikan sekolah sebagai taman yang memberi ruang bagi semua generasi untuk bertumbuh. Guru muda melangkah dengan semangat, guru senior mendampingi dengan kebijaksanaan. Yang muda membawa harapan, yang tua menebarkan pengalaman.

 

Jika keduanya berjalan bergandengan tangan, pendidikan Indonesia akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas, tetapi juga rendah hati.

 

Guru muda, melangkahlah dengan penuh percaya diri.

 

Guru tua, mundurlah selangkah agar lahir seribu langkah kemajuan.

 

Sebab dalam dunia pendidikan, kemuliaan bukanlah tentang siapa yang paling lama berdiri di depan, melainkan siapa yang paling ikhlas menuntun orang lain hingga mampu berdiri lebih tinggi.Artikel ini cocok untuk Kompasiana karena memadukan refleksi pribadi, pesan moral, dan ajakan kolaborasi antargenerasi dengan gaya bertutur khas Kisah Omjay yang hangat dan menyentuh.

 

Komentar
  • Penulis: Wijaya Kusumah - omjay

Rekomendasi

  • Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

    Efek KDM, Kepala Daerah Lain Sering Dirujak Rakyatnya Sendiri

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selamat datang di era baru, era di mana rakyat tak lagi bisu. Kepala daerah tak lagi bisa pura-pura tuli. Ini bukan sekadar perubahan gaya kepemimpinan. Ini revolusi mental pakai sandal jepit yang keras, cepat, dan langsung kena muka.   Sejak muncul gaya KDM, yang tiap ada masalah langsung turun, dobrak, beres di tempat, standar […]

  • Gara-gara MBG, 13 Pondok Pesantren Kena Tipu

    Gara-gara MBG, 13 Pondok Pesantren Kena Tipu

    • calendar_month Jumat, 8 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Baru juga kita bahas tiga WNI menipu di Tanah Suci, eh sekarang muncul episode baru, lebih lokal tapi efeknya global ke dompet. Ada 13 kiai dari 13 pondok pesantren di Jawa Barat kena tipu gara-gara program MBG. Ini bukan sekadar lanjutan cerita, ini sudah masuk season dua, Penipuan Naik Kelas.   Kalau ada yang […]

  • Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    Nah Ini Dia! 8 Pesona Papandayan, Gunung Api Ramah Pendaki

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kawasan wisata alam Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan. Kabupaten Garut, Jawa Barat. Dari pusat kota Garut, arahkan kendaraan menuju barat daya. Perjalanan sekitar satu jam dengan kendaraan bermotor. Gunung vulkanik ini terletak di antara dua desa, Sirnajaya dan Kramatwangi. Gunung ini merupakan salah satu tempat wisata unggulan di kabupaten yang terkenal dengan domba […]

  • Hore! Jumlah Kopi Shop Indonesia Terbanyak di Dunia, Lho

    Hore! Jumlah Kopi Shop Indonesia Terbanyak di Dunia, Lho

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Neila Fithriana
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Indonesia mencatatkan pencapaian mengejutkan di industri gaya hidup global. Berdasarkan data lembaga riset internasional di sektor makanan dan minuman, jumlah coffee shop di Indonesia disebut menjadi yang terbanyak di dunia, melampaui negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China. Menurut postingan Instagram Specialty Coffee Association of Indonesia @aksi_scai data yang terekam untuk riset industri […]

  • Di Saat Semua Senang Timnas Menang, Eh… Pertamax Naik Rp16.250

    Di Saat Semua Senang Timnas Menang, Eh… Pertamax Naik Rp16.250

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Baru semalam Indonesia seperti baru menemukan tambang kebahagiaan. Timnas senior menang dua kali beruntun. Oman dihajar 3-0. Mozambique ditumbangkan 1-0. Ranking FIFA naik. Garuda Muda U-19 menyingkirkan Vietnam dengan skor 2-1. Malaysia juga ikut tersingkir. Media sosial berubah menjadi taman bermain nasional. Bahkan netizen yang biasanya bertengkar soal politik mendadak akur seperti kucing dan […]

  • Membedah Arti Sebuah Nama

    Membedah Arti Sebuah Nama

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Lagi heboh Al Ghazali, anaknya Ahmad Dhani ngasih nama Soleil Zephora Ghazali. Nama itu sangat asing di telinga orang kita. Ini yang mau saya bedah, arti sebuah pemberian nama. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Di tengah ribut soal ‘Pesta Babi”, tiba-tiba lahirlah seorang bayi dengan nama Soleil Zephora Ghazali. Seketika rakyat Indonesia […]

expand_less