Ngangon, Kurikulum Langit dari Universitas Padang Rumput
- account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
- calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada halaqah kali ini, sepenggal kilas balik mengingatkan pada tradisi “ngangon” (menggembala) yang biasa dijalankan anak-anak pedesaan mala lalu. Mungkin kebiasaan ini masih dijalankan oleh anak-anak masa kini. Kebiasaan ini yang nampak “rendahan” dan “sederhana”, namun makna di baliknya memiliki enigma berharga yang kokoh dan solid.
Kadang kita lupa, “ngangon” itu merupakan kurikulum pendidikan paling kuno di muka bumi ini, walau tak pernah mencetak selembar pun ijazah kertas. Pendidikan itu tidak diukur dari menterengnya gedung kampus, rentetan gelar, atau tebalnya literatur. Bagi sebagian orang, urusan ini mungkin hanya dianggap pekerjaan kasar yang bergelut dengan lumpur dan kotoran. Namun, dalam kacamata spiritualitas, ia adalah sebuah universitas kehidupan. Kurikulum itu bernama tradisi ngangon—menggembala.
Di sanalah ego disembelih, kesabaran ditumbuhkan, dan pintu-pintu langit dibuka lebar-lebar.
—
Dari Hutan Bangkalan Menuju Futuh Ilmu dan Futuh Ruhani
Mari kita buka lembaran sejarah Nusantara. Ada kisah seorang santri bernama Ahmad Shobari—yang kelak masyhur kita kenal sebagai KH Ahmad Shobari (1870-1930) atau Mama Ciwedus, ulama besar karismatik dari Kuningan.
Saat dinilai matang keilmuan dasar keagamaan dan kanoragan, Ahamd Shobari diminta untuk nyantri kepada Waliyullah Syaikhona Kholil (1835-1925) di Bangkalan, Madura. Dengan diantar sang ayah, Ahmad Shobari menguatkan diri untuk “nyuprih ilmu” di pondoknya Kyai Kholil. Namun, apakah beliau disuruh duduk di saf depan dengan kitab kuning tebal di pangkuan? Ternyata, Tidak.
Syaikhona Kholil, dengan ketajaman mata batinnya, justru memberikan tugas yang secara akal syariat tampak tidak lazim: Ahmad Shobari disuruh masuk hutan, menggembala dan mengurus hewan ternak sang Kiai. Dengan berbekal kitab-kitab yang dibawanya dari rumah dan pemahaman terhadap ilmu-ilmu dasar yang diperolehnya dari sang ayah, Ahmad Shobari remaja menjalani perintah sang guru untuk ngangon ternak milik sang guru dengan penuh khidmat, kepatuhan, dan kepasrahan.
Tidak tanggung-tanggung, riyadhah (latihan spiritual) ini berlangsung selama 12 tahun. Bayangkan, dua belas tahun tidak memegang pena, melainkan memegang tongkat gembala; tidak menatap huruf-huruf Arab, melainkan menatap tingkah laku kambing dan hamparan alam liar. Ia sangat sedikit mendengarkan kalam lahiriyah gurunya, namun pertemuan ruhaninya sangatlah intens.
Namun, di tengah keheningan hutan dan rutinitas ngangon itulah, jiwa Ahmad Shobari ditempa habis-habisan. Egonya luruh. Ia belajar memahami bahasa alam, menahan amarah saat ternaknya berlarian tak tentu arah, dan menyandarkan kelelahannya hanya kepada Dzat Yang Maha Kuasa.
Hasilnya? Beliau mengalami futuh—terbukanya hijab ilmu dan batin. Saat dijemput sang ayah untuk kembali ke masyarakat, kedalaman ilmunya melampaui mereka yang puluhan tahun hanya berkutat pada teks. Ilmu Mama Ciwedus mengurat-nadi bersama denyut semesta.
—
Jejak Ngangon dari Para Utusan Langit
Apa yang dilakukan Syaikhona Kholil bukanlah keisengan. Sang Kiai sedang menyambungkan sanad tarbiyah santrinya dengan sanad para utusan langit. Jauh sebelum Mama Ciwedus menginjakkan kaki di hutan Bangkalan, manusia paling agung, Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, telah terlebih dahulu lulus dari “universitas padang rumput” ini.
Tradisi ngangon adalah kurikulum wajib bagi para Nabi. Rasulullah SAW sendiri menegaskannya:
> مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ، فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan ia pernah menggembala kambing.” Para sahabat bertanya, “Dan engkau juga?” Beliau menjawab, “Ya, aku dulu menggembalakannya dengan upah beberapa qirath milik penduduk Makkah.” (HR. Bukhari no. 2262)
Al-Qur’an juga merekam indahnya tradisi ini lewat kisah Nabi Musa AS. Setelah lari dari kejaran Firaun, Musa tidak ujug-ujug diberi kekuatan membelah lautan. Ia justru “dipekerjakan” oleh Nabi Syu’aib AS di Madyan untuk ngangon ternaknya selama bertahun-tahun (QS. Al-Qasas: 27).
Bahkan, saat Musa akhirnya berdialog langsung dengan Allah di Bukit Thur, tongkat gembala itulah yang menjadi saksi bisu.
> قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى
“Musa menjawab: ‘Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku memukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.'” (QS. Thaha: 18)
Tongkat seorang penggembala yang lusuh itu, kelak diubah Tuhan menjadi mukjizat penakluk arogansi Firaun.
—
Membaca Argumentasi Filosofis
Tentu ada rahasia besar mengapa padang rumput dipilih sebagai laboratorium kepemimpinan para kekasih Allah. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, dalam kitab “Fathul Bari”, menyingkap tabir ini dengan indah:
> قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحِكْمَةُ فِي إِلْهَامِ الْأَنْبِيَاءِ رَعْيَ الْغَنَمِ قَبْلَ النُّبُوَّةِ أَنْ يَحْصُلَ لَهُمُ التَّمَرُّنُ بِرَعْيِهَا عَلَى مَا يُكَلَّفُونَهُ مِنَ الْقِيَامِ بِأَمْرِ أُمَّتِهِمْ، وَلِأَنَّ فِي مُخَالَطَتِهَا مَا يُحَصِّلُ لَهُمُ الْحِلْمَ وَالشَّفَقَةَ
“Para ulama berkata: Hikmah di balik diilhamkannya para Nabi untuk menggembala kambing sebelum masa kenabian adalah agar mereka mendapatkan latihan dengan menggembalakannya, sebagai persiapan atas tugas mengurus urusan umat. Dan karena dalam pergaulan dengan hewan ternak itu, akan menghasilkan sifat santun (hilm) dan kasih sayang (syafaqah)…”
Dari penjelasan itu, kita menangkap tiga fondasi utama yang dibangun lewat laku ngangon:
Pertama, Membunuh Kesombongan (Tawadhu): Tidur beralas tanah, terpapar panas-hujan, dan mengurus kotoran hewan adalah cara paling ampuh menyadari kehambaan.
Kedua, Seni Mengelola Keragaman (Siyasah): Kambing memiliki tabiat unik—ada yang penurut, ada yang liar menyendiri. Menggembala mengajarkan seni merangkul, mengarahkan tanpa menyakiti, dan melindungi kawanan dari serigala. Ini adalah prototipe kepemimpinan sejati.
Ketiga, Ruang Tafakkur (Kontemplasi): Di padang sepi yang jauh dari hiruk-pikuk manusia, seorang penggembala dihadapkan pada kanvas langit yang tak bertepi; melahirkan kedekatan batin dengan Sang Pencipta.
—
Madrasah Ramadan dan Ujian Puncak sang Penggembala
Hari ini, kita mungkin tidak lagi memegang tongkat bambu dan menggiring domba di perbukitan. Namun, filosofi ngangon ini menemukan momentum puncaknya justru di hari-hari akhir bulan suci Ramadan.
Sadar atau tidak, selama sebulan penuh ini Allah sedang menyuruh kita menjadi penggembala. Apa yang kita gembalakan? Bukan ternak, melainkan hewan buas yang bersemayam di dalam diri kita sendiri: hawa nafsu.
Sejak terbit fajar hingga tenggelam matahari, kita memegang erat “tongkat gembala” berupa syariat puasa. Kita menahan lapar, dahaga, amarah, dan syahwat agar “ternak” nafsu kita tidak berlarian merusak kebun pahala.
> الصِّيَامُ جُنَّةٌ، فَإِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ
“Puasa adalah perisai. Maka apabila salah seorang dari kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan janganlah bertindak bodoh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sama seperti Mama Ciwedus yang ditempa 12 tahun untuk mencapai futuh, kita pun sedang menjalani riyadhah di madrasah Ramadan. Kita diajarkan tawadhu saat menahan lapar bersama si miskin, kita dilatih siyasah saat mengatur ritme ibadah, dan kita diberi ruang tafakkur saat beri’tikaf di penghujung malam.
Kini, wangi kemenangan Idul Fitri sudah mulai tercium. Namun, ujian sesungguhnya bagi seorang penggembala bukan saat kawanannya berada di dalam kandang karantina, melainkan apa yang terjadi setelahnya. Setelah Ramadan pergi dan “tongkat” puasa wajib diletakkan, apakah nafsu yang sudah kita jinakkan sebulan ini akan kembali liar dan buas?
Mari kita gemakan kembali amanat luhur ini di dalam dada:
> كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin (penggembala), dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang digembalakannya.” (HR. Bukhari & Muslim)
Bahwa untuk menggapai langit kemenangan, kadang kita harus berani merendah ke bumi, bersabar menuntun jiwa kita sendiri agar tak tersesat dari jalan-Nya. Selamat merampungkan tugas ngangon di sisa Ramadan ini. Semoga kelak kita kembali menemu fitrah, seutuhnya takluk pada Sang Maha Pencipta.
Sebagai penutup dari perenungan di “Universitas Padang Rumput” ini, mari kita resapi dalam-dalam kalam hikmah dari seorang tokoh sufi besar, Syekh Abu Ali ad-Daqqaq rahimahullah, yang mencakup seluruh esensi dari laku ngangon dan riyadhah di bulan suci ini:
> مَنْ زَيَّنَ ظَاهِرَهُ بِالْمُجَاهَدَةِ، حَسَّنَ اللَّهُ سِرَّهُ بِالْمُشَاهَدَةِ
“Barangsiapa menghiasi lahiriahnya dengan mujahadah (kesungguhan menundukkan nafsu), maka Allah akan memperindah batinnya dengan musyahadah (keterbukaan mata batin untuk memandang keagungan-Nya).”
Laku ngangon adalah mujahadah kita di alam zahir. Menahan lapar dan dahaga puasa adalah mujahadah kita di bulan Ramadan. Dan bagi mereka yang telaten menjadi penggembala bagi nafsunya sendiri, Allah telah menyiapkan hadiah terindah di alam batinnya: musyahadah, sebuah futuh di mana hijab-hijab duniawi disingkapkan, dan jiwa kembali pulang merengkuh rida Tuhannya.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
