Breaking News

Keluar dari Kapitalisme

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
  • visibility 186
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, terutama dari para pemikir dan aktivis Islam. Sekarang, secara mengejutkan, Tempo Media mengangkatnya. Diantara semua media, Tempo adalah yang paling sadar dan paling waras.

Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, tapi harus disadari bahwa sedikit yang paham betapa dalam, kapitalisme sudah mencengkram alam pikiran kita dan sistem sosial politik kita. Betapa sudah dalam kita sudah hidup di dalamnya.

Harus dipahami sejujurnya bahwa tidak ada “pintu keluar total” dari kapitalisme dalam waktu dekat. Yang ada itu mengurangi ketergantungan dan menciptakan alternatif di dalamnya. Kalau ada yang bilang “keluar total”, biasanya itu slogan, bukan rencana kerja.

Sekarang kita jawab “keluar dari kapitalisme” itu dengan kepala dingin, bukan emosi.

Pertama, kapitalisme itu sistem bukan tombol ON/OFF

Kapitalisme bukan cuma soal uang atau perusahaan. Ia mencakup cara produksi (siapa punya alat produksi), cara distribusi (pasar bebas), dan cara berpikir (kompetisi, profit, efisiensi). Makanya, keluar dari kapitalisme itu bukan kayak pindah rumah tapi mengubah cara hidup satu ekosistem. Tokoh seperti Karl Marx dulu mengusulkan revolusi total. Tapi realitanya? Banyak percobaan justru melahirkan masalah baru.

Kedua, Ada 4 jalur realistis berupa kombinasi, bukan tunggal

1. Reformasi dari dalam

Ini paling realistis. Bukan keluar, tapi “menjinakkan” seperti pajak progresif, jaminan sosial dan regulasi korporasi. Contoh pendekatan ini dekat dengan pemikiran John Maynard Keynes. Ini yang dipakai banyak negara. Bukan anti-kapitalis, tapi kapitalisme yang dikasih rem.

2. Bangun ekonomi alternatif

Bikin sistem paralel seperti koperasi, ekonomi berbasis komunitas, sharing ekonomi yang bukan kapitalistik, bukan hanya versi aplikasi. Di sini, kepemilikan tidak terpusat. Profit dibagi. Ini cara “diam-diam keluar”, tanpa nunggu revolusi.

3. Negara mengambil peran lebih besar

Ini mendekati sosialisme, sektor vital dikuasai negara, pendidikan & kesehatan publik kuat. Tokoh seperti Friedrich Engels mendukung arah ini bersama Karl Marx. Tapi kudu hati-hati, kalau negara terlalu dominan bisa jadi birokrasi kaku atau otoriter.

4. Transformasi budaya

Ini yang paling sering dilupakan. Selama manusia masih konsumtif, penuh gengsi, hidup buat status dll, kapitalisme ya akan terus hidup, bahkan tanpa disuruh.

Perubahan terbesar justru dari perubahan gaya hidup cukup (bukan rakus), produksi bermakna (bukan sekadar profit) dan solidaritas sosial

Ekonomi Syari’ah sebagai Alternatif:
Potensi dan Tantangan

Di antara berbagai tawaran alternatif, ekonomi syari’ah sering disebut sebagai sistem yang memiliki fondasi moral dan struktural untuk keluar dari kapitalisme. Secara prinsip, ekonomi Islam menolak riba, menekankan keadilan distribusi, serta mendorong aktivitas ekonomi berbasis sektor riil. Selain itu, ia memiliki instrumen sosial seperti zakat, wakaf, dan sedekah yang berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan.

Pemikir seperti Muhammad Baqir al-Sadr bahkan menegaskan bahwa Islam memiliki sistem ekonomi tersendiri yang tidak dapat direduksi menjadi kapitalisme maupun sosialisme. Dalam kerangka ini, ekonomi syari’ah bukan sekadar variasi, melainkan alternatif paradigma.

Namun di sinilah persoalan muncul. Dalam praktik kontemporer, banyak institusi ekonomi syari’ah justru beroperasi dalam kerangka kapitalisme global. Bank syari’ah, misalnya, sering kali tetap berorientasi pada maksimalisasi keuntungan, dengan akad-akad yang secara teknis sesuai syari’ah tetapi secara substansi masih mengikuti logika pasar kapitalistik. Akibatnya, yang terjadi adalah fenomena “formalisasi syari’ah” tanpa transformasi sistemik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa label syari’ah saja tidak cukup untuk menjadikan suatu sistem benar-benar alternatif. Jika orientasi dasarnya masih akumulasi kapital, maka perbedaannya hanya terletak pada bentuk, bukan substansi.

Agar ekonomi syari’ah benar-benar menjadi jalan keluar, diperlukan lompatan yang lebih mendasar. Pertama, ia harus melampaui sekadar pelarangan riba menuju sistem yang secara aktif mencegah eksploitasi dan ketimpangan. Kedua, instrumen seperti zakat dan wakaf harus ditempatkan sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap. Dalam skala besar, pengelolaan zakat yang efektif bahkan berpotensi menjadi sistem jaminan sosial yang kuat.

Ketiga, pengembangan model usaha kolektif seperti koperasi syari’ah dan Baitul Maal wat Tamwil perlu diperkuat sebagai alternatif nyata terhadap korporasi kapitalistik. Di sini, semangat kebersamaan dan keadilan ekonomi bertemu dengan nilai-nilai spiritual.
Namun yang paling mendasar adalah perubahan mentalitas. Tanpa transformasi nilai—dari orientasi pada keuntungan menuju orientasi pada keberkahan dan keadilan—ekonomi syari’ah berisiko hanya menjadi kapitalisme dengan label religius.

Dengan demikian, ekonomi syari’ah memang memiliki potensi besar sebagai alternatif terhadap kapitalisme. Namun potensi itu baru akan terwujud jika ia mampu keluar dari bayang-bayang sistem yang ingin ia gantikan, dan benar-benar membangun tatanan ekonomi yang berakar pada keadilan, solidaritas, dan nilai-nilai kemanusiaan.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 270
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Raden Dewi Sartika dikenal sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Jawa Barat. Beliau dengan segenap hatinya memperjuangkan dunia pendidikan bagi kaum wanita untuk dapat menikmati rasanya bersekolah seperti kaum laki-laki. Namun, bukan hanya Raden Dewi Sartika yang telah berjasa memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita di Jawa Barat. Deri Eka Firman (Duta Bahasa […]

  • Prabowo, Oligarki, dan Mahasiswa

    Prabowo, Oligarki, dan Mahasiswa

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Analisis Paradoks Politik Indonesia Saat Ini TIGARUT.COM — Indonesia hari ini sedang berada dalam situasi yang unik sekaligus rumit. Di satu sisi, Presiden Prabowo menghadapi kritik dan tekanan dari kalangan mahasiswa yang kecewa terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Di sisi lain, ia juga berhadapan dengan kepentingan-kepentingan oligarki yang selama puluhan tahun telah mengakar kuat dalam politik dan […]

  • Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
    • visibility 595
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan. […]

  • Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    Antara Bisa Membaca Kitab dan Layak Menjadi Pewaris Pondok

    • calendar_month Minggu, 12 Apr 2026
    • account_circle Lubab Zaman, Pemilik Channel Drama @lindtivi
    • visibility 174
    • 0Komentar

    Prompt:   Modal bisa baca kitab, sudah sah jadi “pewaris pondok”. Karena sealim-alimnya calon kiai, sia-sia saja mengajar kitab kalau masih “translit Jawa sentris”. Maka, dengarkan ketika “anak kiai” mulai mengajar kitab! Pertama, apakah hanya fokus translit? Kedua, apakah bisa menerjemahkan dalam bahasa lisannya sendiri? Ketiga, tanpa melihat kitab, apakah mampu menyampaikan matan-matan kitab?   […]

  • Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan Perkuat Pesantren dan NKRI

    Spirit Kiai Wahab Hasbullah Relevan Perkuat Pesantren dan NKRI

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 141
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Kementerian Agama menegaskan pentingnya menghidupkan kembali spirit perjuangan KH. Abdul Wahab Hasbullah sebagai fondasi penguatan moderasi beragama, transformasi pesantren, dan penguatan kebangsaan di tengah tantangan sosial keagamaan saat ini.   Penegasan tersebut mengemuka dalam kegiatan bedah buku KH. Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI bertema The Mastermind of Movement: Mengupas Tuntas Seni […]

  • Mangkuk Hangat yang Menyatukan, 5 Keseruan di Festival Baso Aci Garut

    Mangkuk Hangat yang Menyatukan, 5 Keseruan di Festival Baso Aci Garut

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 110
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada aroma yang sulit ditolak ketika semangkuk baso aci baru saja diangkat dari panci. Uapnya mengepul, kuahnya menggoda, sementara aroma bawang goreng, daun bawang, dan jeruk limau seolah memanggil siapa saja untuk segera menyendoknya. Di Garut, aroma itu tidak hanya berasal dari satu warung, melainkan berkumpul dalam satu perayaan besar: Festival Baso Aci Garut. […]

expand_less