Breaking News
dark_mode

Keluar dari Kapitalisme

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, terutama dari para pemikir dan aktivis Islam. Sekarang, secara mengejutkan, Tempo Media mengangkatnya. Diantara semua media, Tempo adalah yang paling sadar dan paling waras.

Banyak yang bicara keluar dari kapitalisme, tapi harus disadari bahwa sedikit yang paham betapa dalam, kapitalisme sudah mencengkram alam pikiran kita dan sistem sosial politik kita. Betapa sudah dalam kita sudah hidup di dalamnya.

Harus dipahami sejujurnya bahwa tidak ada “pintu keluar total” dari kapitalisme dalam waktu dekat. Yang ada itu mengurangi ketergantungan dan menciptakan alternatif di dalamnya. Kalau ada yang bilang “keluar total”, biasanya itu slogan, bukan rencana kerja.

Sekarang kita jawab “keluar dari kapitalisme” itu dengan kepala dingin, bukan emosi.

Pertama, kapitalisme itu sistem bukan tombol ON/OFF

Kapitalisme bukan cuma soal uang atau perusahaan. Ia mencakup cara produksi (siapa punya alat produksi), cara distribusi (pasar bebas), dan cara berpikir (kompetisi, profit, efisiensi). Makanya, keluar dari kapitalisme itu bukan kayak pindah rumah tapi mengubah cara hidup satu ekosistem. Tokoh seperti Karl Marx dulu mengusulkan revolusi total. Tapi realitanya? Banyak percobaan justru melahirkan masalah baru.

Kedua, Ada 4 jalur realistis berupa kombinasi, bukan tunggal

1. Reformasi dari dalam

Ini paling realistis. Bukan keluar, tapi “menjinakkan” seperti pajak progresif, jaminan sosial dan regulasi korporasi. Contoh pendekatan ini dekat dengan pemikiran John Maynard Keynes. Ini yang dipakai banyak negara. Bukan anti-kapitalis, tapi kapitalisme yang dikasih rem.

2. Bangun ekonomi alternatif

Bikin sistem paralel seperti koperasi, ekonomi berbasis komunitas, sharing ekonomi yang bukan kapitalistik, bukan hanya versi aplikasi. Di sini, kepemilikan tidak terpusat. Profit dibagi. Ini cara “diam-diam keluar”, tanpa nunggu revolusi.

3. Negara mengambil peran lebih besar

Ini mendekati sosialisme, sektor vital dikuasai negara, pendidikan & kesehatan publik kuat. Tokoh seperti Friedrich Engels mendukung arah ini bersama Karl Marx. Tapi kudu hati-hati, kalau negara terlalu dominan bisa jadi birokrasi kaku atau otoriter.

4. Transformasi budaya

Ini yang paling sering dilupakan. Selama manusia masih konsumtif, penuh gengsi, hidup buat status dll, kapitalisme ya akan terus hidup, bahkan tanpa disuruh.

Perubahan terbesar justru dari perubahan gaya hidup cukup (bukan rakus), produksi bermakna (bukan sekadar profit) dan solidaritas sosial

Ekonomi Syari’ah sebagai Alternatif:
Potensi dan Tantangan

Di antara berbagai tawaran alternatif, ekonomi syari’ah sering disebut sebagai sistem yang memiliki fondasi moral dan struktural untuk keluar dari kapitalisme. Secara prinsip, ekonomi Islam menolak riba, menekankan keadilan distribusi, serta mendorong aktivitas ekonomi berbasis sektor riil. Selain itu, ia memiliki instrumen sosial seperti zakat, wakaf, dan sedekah yang berfungsi sebagai mekanisme redistribusi kekayaan.

Pemikir seperti Muhammad Baqir al-Sadr bahkan menegaskan bahwa Islam memiliki sistem ekonomi tersendiri yang tidak dapat direduksi menjadi kapitalisme maupun sosialisme. Dalam kerangka ini, ekonomi syari’ah bukan sekadar variasi, melainkan alternatif paradigma.

Namun di sinilah persoalan muncul. Dalam praktik kontemporer, banyak institusi ekonomi syari’ah justru beroperasi dalam kerangka kapitalisme global. Bank syari’ah, misalnya, sering kali tetap berorientasi pada maksimalisasi keuntungan, dengan akad-akad yang secara teknis sesuai syari’ah tetapi secara substansi masih mengikuti logika pasar kapitalistik. Akibatnya, yang terjadi adalah fenomena “formalisasi syari’ah” tanpa transformasi sistemik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa label syari’ah saja tidak cukup untuk menjadikan suatu sistem benar-benar alternatif. Jika orientasi dasarnya masih akumulasi kapital, maka perbedaannya hanya terletak pada bentuk, bukan substansi.

Agar ekonomi syari’ah benar-benar menjadi jalan keluar, diperlukan lompatan yang lebih mendasar. Pertama, ia harus melampaui sekadar pelarangan riba menuju sistem yang secara aktif mencegah eksploitasi dan ketimpangan. Kedua, instrumen seperti zakat dan wakaf harus ditempatkan sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap. Dalam skala besar, pengelolaan zakat yang efektif bahkan berpotensi menjadi sistem jaminan sosial yang kuat.

Ketiga, pengembangan model usaha kolektif seperti koperasi syari’ah dan Baitul Maal wat Tamwil perlu diperkuat sebagai alternatif nyata terhadap korporasi kapitalistik. Di sini, semangat kebersamaan dan keadilan ekonomi bertemu dengan nilai-nilai spiritual.
Namun yang paling mendasar adalah perubahan mentalitas. Tanpa transformasi nilai—dari orientasi pada keuntungan menuju orientasi pada keberkahan dan keadilan—ekonomi syari’ah berisiko hanya menjadi kapitalisme dengan label religius.

Dengan demikian, ekonomi syari’ah memang memiliki potensi besar sebagai alternatif terhadap kapitalisme. Namun potensi itu baru akan terwujud jika ia mampu keluar dari bayang-bayang sistem yang ingin ia gantikan, dan benar-benar membangun tatanan ekonomi yang berakar pada keadilan, solidaritas, dan nilai-nilai kemanusiaan.***

Komentar
  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi

  • Nilai TKA Jangan Diposting?

    Nilai TKA Jangan Diposting?

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Mereka bilang, “Nilai TKA jangan diposting. Kasihan yang nilainya rendah.”   Sebagai guru, aku paham maksudnya. Tidak semua anak mendapat hasil sesuai harapan.   Tapi sebagai guru yang setiap hari melihat proses siswa, aku juga tahu ada anak-anak yang belajar sungguh-sungguh selama berbulan-bulan. Ada yang rela mengurangi waktu bermain, ada yang berkali-kali mengerjakan […]

  • Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu

    Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api,
    • 0Komentar

    “Untuk kelima kalinya, saya melakukan perjalanan dari Tjitjalengka ke Garoet. Di sepanjang jalan pos lama, saya menyaksikan begitu banyak kuda yang menderita, kegelisahan dan kesengsaraan para penumpang;”[1] TIGARUT.COM — Satu dari sekian banyak jalur kereta api mati yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah di tahun 2019 ini adalah jalur antara Cibatu dan Garut. Dahulu, jalur […]

  • 3 Rekomendasi Kartini Masa Kini Asal Garut

    3 Rekomendasi Kartini Masa Kini Asal Garut

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Dalam semangat Raden Ajeng Kartini yang terus hidup melampaui zaman, perempuan Garut hari ini menunjukkan kiprah yang tak kalah inspiratif. Dari panggung musik internasional hingga ruang akademik dan pengabdian masyarakat, lahir sosok-sosok tangguh yang membawa perubahan nyata. Mereka adalah representasi “Kartini masa kini” yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga konsisten berkarya dan memberi dampak […]

  • Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    Trump Bingung oleh Peradaban Spiritualitas Islam 

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — 20 juta lebih rakyat Iran yang hadir dan menangis sedih karena pemimpin yang dicintainya syahid, dikatakan Trump sebagai “air mata palsu.” ODGJ gini pantesnya diapain gaess? Ini sudah penghinaan. Tapi wajar sih, karena itu memang stupidity (kebodohan).   Kalimat presiden negara besar seperti ini menyimbolkan betapa spritualitas Amerika Serikat benar-benar kosong, garing, nihil dari […]

  • Indahnya Puncak Guha, Tempat Camping Tepi Laut

    Indahnya Puncak Guha, Tempat Camping Tepi Laut

    • calendar_month Sabtu, 24 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut adalah daerah yang masuk ke dalam administrasi Provinsi Jawa Barat. Ada banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi ketika berada di Garut. Salah satu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat adalah Puncak Guha Garut. Tempat wisata ini menyuguhkan pemandangan yang indah dan memanjakan mata. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa melakukan berbagai kegiatan […]

  • Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pesona Lapangan Golf Ngamplang menjadi tempat berolahraga dan wisata keluarga favorit di Kabupaten Garut. Tak hanya untuk bermain golf, sebagian lapangan di sini dibuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat wisata. Saat berwisata di sini, pengunjung tidak perlu lagi khawatir terkena lemparan bola golf yang keras, karena lapangan tempat bermain golf dan lapangan yang […]

expand_less