Breaking News

Tradisi Buka Puasa Bersama Semakin Membumi

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
  • visibility 238
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Ramadan itu unik. Siangnya kita menahan lapar, haus, dan godaan. Malamnya kita menahan diri untuk tidak menambah dua piring lagi. Di antara dua kutub itu, lahirlah satu tradisi yang makin hari makin sakral, buka puasa bersama. Bukber. Sebuah ritual sosial yang kadang lebih heboh dari rapat paripurna, lebih ramai dari seminar nasional, dan lebih strategis dari lobi politik kelas kakap.

 

Dalam dua hari terakhir, saya ikut dua episode “drama kolosal” itu.

 

Pertama, di Hotel Orchardz Pontianak. Diundang oleh H. Ahmad Kholil, bos Muzdalifah Tour and Travel. Saya melangkah masuk dengan perasaan seperti mahasiswa baru nyasar ke ruang dosen besar. Di ruangan itu berkumpul para pemilik travel umrah ternama. Orang-orang yang tiap musim bisa memberangkatkan ribuan jamaah ke Tanah Suci. Mereka berbicara tentang kuota, visa, tiket, hotel, regulasi. Bukan obrolan receh. Itu obrolan yang kalau dikonversi ke rupiah, mungkin bunyinya bisa bikin dompet saya minta perlindungan saksi.

 

Saya? Kang ngopi. Duduk manis. Nyempil di belakang. Berada di tengah orang-orang tajir yang mungkin omzetnya bisa bikin grafik ekonomi naik sendiri tanpa bantuan doa qunut. Tapi di situlah letak keindahannya. Saya belajar, bisnis umrah bukan sekadar spanduk pelepasan dan koper seragam. Di baliknya ada manajemen rapi, kalkulasi kurs dolar yang bisa naik-turun seperti emosi netizen, ada strategi menghadapi regulasi, ada seni menjaga kepercayaan jamaah. Mengantar orang beribadah ternyata butuh kecerdasan finansial, kecermatan hukum, dan ketahanan mental. Saya kagum. Ternyata dunia ini digerakkan oleh orang-orang yang bekerja dalam sunyi, tapi dampaknya sampai ke langit.

 

Bukber kedua tak kalah mengguncang batin. Undangan datang dari jajaran Kementerian Kehutanan yang menjalankan Forest Programme di Kabupaten Sanggau, Kalbar. Lokasinya di Kafe Periok, Jalan Sungai Raya Dalam, Kubu Raya. Awalnya saya tak kenal siapa-siapa. Saya datang dengan niat sederhana, silaturahmi dan jangan salah ambil minuman orang.

 

Ternyata yang mengundang adalah Pak Julmansyah. Beliau ingin kenalan. Katanya, beliau penggemar tulisan-tulisan saya. Saya senyum, antara terharu dan takut geer. Lebih mengejutkan lagi, ada anak buahnya yang hafal istilah “Koptagul”. Saya pikir istilah itu cuma berseliweran di kepala pembaca setia. Ternyata sudah menembus dinding kantor kementerian. Dunia literasi memang tak kenal sekat.

 

Pak Julmansyah sendiri seorang penulis buku. Di momen itu beliau menghadiahi saya buku tebal berjudul Sumbawa-Masyarakat dan Budaya. Tebalnya seperti skripsi yang tidak mengenal kata ringkas. Isinya tentang masyarakat dan budaya, tentang denyut kehidupan yang sering luput dari headline. Saya menerimanya dengan rasa hormat. Di meja bukber itu, ilmu pengetahuan duduk berdampingan dengan es buah dan gorengan. Peradaban memang sering lahir di antara remah-remah makanan.

 

Lalu ada Dr. Desy Ekawati, S.Hut., M.Sc., yang menjalankan Forest Programme. Ia dan Pak Jul menginginkan saya menuliskan proyek perhutanan sosial dalam bentuk buku, dengan gaya camanewak. Ringan, renyah, asyik. Nuan bayangkan, hutan yang biasanya dibahas dengan bahasa teknis penuh terminologi, ingin diterjemahkan menjadi bacaan yang bisa dipahami orang kampung sampai profesor. Saya langsung berpikir, ini bukan sekadar proyek menulis. Ini jembatan. Menghubungkan kebijakan dengan rakyat, teori dengan dapur rumah tangga, karbon dengan kehidupan sehari-hari.

 

Mereka mengenal saya lewat Pak Jumtani, sesama anggota Pokja REDD+ Kalbar. Lagi-lagi terbukti, rezeki sering datang lewat kawan. Bukan lewat status galak, bukan lewat sindiran tajam, tapi lewat jaringan persahabatan. Dalam satu meja bukber, bisa lahir kolaborasi. Dalam satu gelas jeruk hangat, bisa muncul gagasan buku. Dalam satu undangan sederhana, bisa terbuka pintu masa depan.

 

Orang boleh saja menyindir bukber sebagai ajang pamer outfit atau lomba foto paling estetik. Silakan. Tapi bagi yang mau melihat lebih dalam, bukber adalah ruang belajar sosial. Tempat ekonomi, budaya, kehutanan, literasi, dan spiritualitas berpelukan tanpa canggung. Ia bukan sekadar makan setelah azan. Ia adalah simpul pertemuan takdir.

 

Sudah dua kali saya bukber. Biasanya menjelang Idulfitri, jadwal makin padat. Kafe, hotel, rumah makan penuh. Orang-orang datang membawa lapar dan pulang membawa cerita. Saya semakin yakin, di balik riuh sendok beradu dan suara azan magrib, Tuhan sedang menulis skenario yang jauh lebih indah dari yang kita rencanakan.

 

Bukber bukan cuma tradisi. Ia adalah laboratorium kehidupan. Kadang, di sanalah kita sadar, yang membuat kita besar bukan hanya apa yang kita makan, tapi siapa yang duduk semeja dengan kita.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Nah Ini Dia! 5 Tradisi Membangun Sahur di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Tradisi Membangun Sahur di Garut

    • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 247
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Selama bulan Ramadan, masyarakat di Garut memiliki berbagai cara unik untuk membangunkan warga agar sahur tepat waktu. Tradisi-tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat waktu sahur, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya dan kebersamaan antarwarga. Berikut lima tradisi membangun sahur yang masih hidup di Garut: 1. Ngadulag (Mukul Bedug Keliling) Tradisi ini […]

  • Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    Nah Ini Dia! Keunikan 5 Kecamatan “Ci” di Garut

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 267
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Dalam rangka memperingati Hari Jadi Garut (HJG) ke-213, Kabupaten Garut mengawali rangkaian acara pokok dengan menghadirkan kegiatan “Ngarawat Ci Garut”, yang mulai dilaksanakan pada 12 Februari 2025. Kegiatan ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga dan melestarikan sumber daya air sebagai bagian penting dari kehidupan, sejarah, dan jati diri masyarakat Garut. Nilai tersebut tercermin […]

  • 5 Alasan Festival Seni Budaya Sayang Heulang Jadi Pesona Garut Selatan

    5 Alasan Festival Seni Budaya Sayang Heulang Jadi Pesona Garut Selatan

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 170
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM –Festival Seni Budaya Sayang Heulang bukan sekadar panggung hiburan, tetapi menjadi wajah baru kebangkitan pariwisata Garut Selatan. Digelar di kawasan Bukit Teletubbies Pantai Sayang Heulang, Pameungpeuk, festival ini memadukan panorama laut selatan dengan kekayaan seni tradisi yang hidup di tengah masyarakat. Kehadirannya menjadi bukti bahwa pesona Garut Selatan tidak hanya terletak pada alam, tetapi […]

  • Geopolitik Energi

    Geopolitik Energi

    • calendar_month Jumat, 26 Jun 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, journalist
    • visibility 100
    • 0Komentar

    Gagalnya “Energy Lockdown” Amerika Serikat: Mengapa Perang Iran dan Venezuela Tak Mampu Menjepit China? TIGARUT.COM — Perundingan damai AS-Iran masih berlangsung. Operation Epic Furry AS-Israel tampaknya gagal melumpuhkan Iran. Dari segi geopolitik energi, serangan ke Iran adalah langkah kedua Washington setelah sukses menekuk Venezuela untuk mengunci jalur energi China.   Washington berharap dengan melumpuhkan Venezuela dan […]

  • Ritel Fesyen Sungguh Sangat Menarik Hati

    Ritel Fesyen Sungguh Sangat Menarik Hati

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Tedi Taufiqrahman, Penulis Leupas
    • visibility 241
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Baca laporan dari McKinsey tentang masa depan industri retail fashion 2026 memang sangat menarik. Berbekal laporan yang kaya gini saja, biasanya bikin orang jadi paling tahu masa depan. Paling pintar bernubuat. Dan kita sebagai orang paling bisa berdecak kagum; Oh ya? Akan seperti itu? Tahun kemarin, 2024 saya dengar ada seseorang meramalkan bahwa […]

  • Umrah Akbar Santri Angkatan Ke-5 Ma’had Darul Arqam Garut

    Umrah Akbar Santri Angkatan Ke-5 Ma’had Darul Arqam Garut

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 281
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ma’had Darul Arqam Muhammadiyah Daerah Garut kembali menyelenggarakan umrah akbar santri angkatan ke-5. Umrah akbar merupakan program unggulan Ma’had Darul Arqam yang dikhususkan untuk santri yang bisa menuntaskan pendidikannya selama 6 tahun. Jamaah yang diberangkatkan tahun ini sejumlah 221 orang, terdiri dari 88 orang santri putra, 97 orang santri putri dan 36 orang […]

expand_less