Breaking News

Guru BK

  • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • visibility 102
  • print Cetak

“Bu… kok anak-anak yang ke ruang BK bisa cerita banyak sama ibu? Kalau di rumah saya ditanya malah jawabnya ‘gak apa-apa’.”

 

Percaya nggak…

 

Pertanyaan itu sering banget aku dengar dari orang tua.

 

Dulu aku juga sempat berpikir, jangan-jangan memang remaja itu susah diajak ngobrol.

 

Tapi setelah bertahun-tahun mendampingi anak SMP dan SMK, akupun sedikit demi sedikit belajar mengenal pola komunikasi dengan remaja…

 

Ternyata Bukan karena mereka tidak mau cerita.

 

Mereka sedang memilih, siapa yang cukup aman untuk mendengar cerita mereka, karena kadang mereka sudah bisa menebak kalau cerita ke mamah pasti ujung-ujungnya… …. … …. (Misal dimarahin, diceramahin).

 

Nah… mumpung lagi liburan sekolah, aku mau kasih PR buat Ayah dan Bunda ya. 😁

 

Siswanya libur…

Orang tuanya yang belajar dulu. đŸ€­

 

Karena kalau dipikir-pikir, sebelum menjadi orang tua kan kita tidak pernah sekolah menjadi orang tua, tidak ada mata pelajaran “cara berkomunikasi dengan remaja”. Jadi kalau selama ini masih sering salah, tidak apa-apa, yang penting kita mau belajar memperbaikinya.

 

Kalau aku boleh berbagi, ini tiga hal yang selalu aku usahakan saat berkomunikasi dengan anak-anak.

 

Pertama, aku menjaga kata-kataku.

 

Karena satu kalimat yang menurut kita biasa saja, bisa diingat anak bertahun-tahun.

 

Makanya aku juga sering mengingatkan diri sendiri.

 

Apakah tanpa sadar aku sedang meremehkan?

Menyuruh tanpa memberi pilihan?

Membandingkan?

Memberi label?

Mengancam?

Atau terlalu cepat menasihati?

 

Kadang anak memilih diam bukan karena tidak punya cerita.

 

Tapi karena mereka takut ceritanya akan dibalas dengan ceramah.

 

Kedua, aku belajar mendengar dengan mata / peka terhadap bahasa tubuh..

 

Karena remaja sering kali tidak mengatakan, “Aku sedang sedih.”

 

Tapi mereka menunjukkannya.

 

Mukanya murung.

Jawabannya singkat.

Langsung masuk kamar.

Atau tiba-tiba lebih banyak diam.

 

Di situ aku belajar untuk tidak langsung bertanya, “Kamu kenapa sih?”

 

Tapi lebih memilih berkata,

 

“Ibu lihat kamu hari ini kelihatannya capek banget. Ada sesuatu yang bikin kepikiran ya?”

 

Kadang satu kalimat yang membuat mereka merasa diperhatikan jauh lebih ampuh daripada sepuluh pertanyaan.

 

Dan yang ketiga… ini yang paling penting.

 

Aku tidak langsung mengejar ceritanya.

 

Aku mengejar perasaannya.

 

Karena saat anak sedang marah, kecewa, malu, atau sedih…

 

Sebenarnya mereka belum siap menerima nasihat.

 

Bayangkan saat kita sendiri sedang menangis.

 

Lalu orang di depan kita langsung berkata,

“Makanya jangan begitu.”

 

Rasanya pasti tidak enak, kan?

 

Anak juga begitu.

 

Maka sebelum bertanya siapa yang salah, sebelum memberi solusi, sebelum memberi nasihat…

 

Temani dulu emosinya, mencoba merasakan kalau kita berada diposisinya ..

 

“Pasti berat ya…”

 

“Ibu bisa ngerti kenapa kamu kecewa.”

 

“Kalau ada di posisi kamu, mungkin Ibu juga akan sedih.”

 

Bukan berarti kita membenarkan semua perilakunya.

 

Kita hanya sedang mengatakan,

 

“Perasaanmu valid. Kamu tidak sendirian.”

 

Dan justru setelah anak merasa dipahami, mereka akan lebih terbuka.

 

Lebih siap berdiskusi.

 

Lebih mudah menerima arahan.

 

Karena ternyata…

 

Anak tidak selalu membutuhkan orang tua yang punya semua jawaban.

 

Kadang mereka hanya membutuhkan orang tua yang mau duduk, mendengarkan, dan membuat mereka merasa aman.

 

Yuk, anggap ini PR liburan kita.

 

Semoga nanti saat sekolah masuk lagi, bukan hanya anak yang membawa pengalaman baru.

 

Tapi kita sebagai orang tua juga membawa cara baru untuk mencintai mereka—lewat komunikasi yang lebih hangat. đŸ€

 

Kalau aku jadi walas,, aku pasti share ini ke grup orangtua siswa 😁😁😁

  • Penulis: Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Soal BK

    Soal BK

    • calendar_month Kamis, 18 Jun 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 143
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — “Kalau ada satu dokumen yang paling saya tunggu setelah siswa lulus, itu bukan rekap nilai. Tapi hasil refleksi mereka.” đŸ€­ Serius. Setiap tahun, menjelang perpisahan kelas 9, saya selalu menyempatkan membuat formulir refleksi untuk siswa. Isinya pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang perjalanan mereka selama SMP, tentang diri mereka, tentang masa depan, dan tentu saja tentang […]

  • Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    Dodol Garut Aja Picnic, Yuk Liburan Ke Sini

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 934
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Siapa pun yang pernah lahir, tumbuh, atau sekadar ngan saukur ngopi bari ngaku-ngaku jadi urang Garut, pasti punya hubungan emosional dengan Dodol Garut. Hubungan yang aneh tapi sah. Lengket, manis, kadang bikin capek ngunyah, tapi selalu dicari. Dodol bukan cuma makanan; ia adalah arsip ingatan kolektif. Ia menyimpan bau dapur kampung, suara kayu […]

  • Desa Ciela, Kampung Tua di Tanah Timbanganten

    Desa Ciela, Kampung Tua di Tanah Timbanganten

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 34
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jauh sebelum nama Desa Ciela dikenal seperti sekarang, sebuah nama telah muncul dalam catatan kolonial Belanda abad ke-19:   TJIËLA   Pada tahun 1858, kontrolir Belanda J.C. Lammers van Toorenburg, bersama Kepala Penghulu Limbangan Raden Haji Moehamad Moesa, menemukan sejumlah benda kuno di Kampung TjiĂ«la, Distrik Panembong.   Di antara benda tersebut terdapat sebuah […]

  • Tips Ngobrol dengan Siswa

    Tips Ngobrol dengan Siswa

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 290
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Awalnya saya pikir, makin pintar kita di depan siswa, makin mereka respek, nyatanya, yang sering terjadi malah sebaliknya: siswa jadi diam, defensif, dan cuma mengangguk tanpa benar-benar terbuka.   Saya baru sadar, di usia SMP SMA, yang mereka butuhkan bukan guru yang selalu benar, tapi guru yang mau turun level tanpa menurunkan wibawa. […]

  • Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 156
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini ada apa sih dengan mahasiswa kita. Kok pada otak mesum sih (oknum). Sebelumnya ada 16 mahasiswa FH UI, sekarang giliran mahasiswa ITB pula. Amit-amit kalau kena mahasiswa saya. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!   Selamat datang di era keemasan intelektual Indonesia tahun 2026, di mana mahasiswa dari kampus paling top seperti […]

  • Nah Ini Dia! 5 Rekomendasi Toko Fesyen Muslim Merek Ternama di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Rekomendasi Toko Fesyen Muslim Merek Ternama di Garut

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 1.410
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan hanya dikenal dengan dodol dan pemandangan alamnya, tetapi juga perlahan tumbuh sebagai kota yang mengikuti dinamika gaya hidup generasi muda. Dalam beberapa tahun terakhir, tren fesyen Muslim modern mengalami lonjakan signifikan, terutama di kalangan Gen Z dan Milenial. Mereka tidak hanya mencari busana yang syar’i, tetapi juga stylish, nyaman, dan relevan […]

expand_less