Breaking News

Dua Sejoli Tua Digrebek Warga Lagi Gituan di Toilet Masjid

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
  • visibility 175
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Kenapa sih selalu ketemu soal gituan. Belum hilang kisah kiyai yang jadi predator anak di bawah umur, muncul lagi kasus baru tak kalah hebohnya. Dua sejoli udah bangkotan, eh malah bercocok tanam di toilet masjid. Duh, negeriku. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Sebuah video memperlihatkan aksi penggerebekan aksi mesum seorang bapak dan emak oleh warga. Tak dijelaskan lokasinya, dan nama pelakunya. Dengar logat, sepertinya di Jawa. Yang jelas videonya viral.

 

Lokasinya di area masjid yang sedang direnovasi. Orang lain sibuk angkut semen. Ngecor lantai. Pasang keramik. Keringat bercucuran demi memperindah rumah ibadah. Tapi di sudut yang lain… ada dua insan rupanya sedang sibuk membangun proyek yang berbeda. Bukan dinding. Bukan kubah. Tapi gelombang nafsu yang susah dicor dengan semen susila.

 

Video viral itu dimulai dengan aksi dua pemuda berjalan perlahan menuju toilet masjid. Langkah mereka pelan, penuh curiga. Seperti detektif kehilangan sandal jepit. Ada kawannya yang memvideokannya, merekam diam-diam. Mereka mendengar dari dalam toilet bunyi nafas terengah-engah, seperti naik kuda. Dirasa timingnya pas, pintu toilet didobrak.

 

Lalu…

BRAK!

Pintu langsung jebol. Semesta seperti mendadak berhenti sebentar.

 

Di dalam bilik toilet yang sempit itu, tampak sepasang manusia paruh baya sedang kepergok di tengah musim yang rupanya datang terlalu cepat. Musim bercocok tanam.

 

Lelakinya memakai baju serba merah. Merah menyala. Merah berani. Merah yang kalau dilihat dari jauh seperti lampu tanda bahaya sedang berkedip-kedip.

 

Perempuannya seorang emak-emak. Memakai baju warna krem dengan jilbab merah yang masih melingkar di kepala. Kombinasi warnanya serasi. Seolah tadi pagi berangkat dengan niat biasa… tapi malam harinya terseret ke lumpur penuh dosa.

 

Keduanya panik bukan main. Wajah kaget. Gerakan lagi gituan, buyar. Tangan sibuk ke sana-sini. Yang satu menarik baju. Yang satu membetulkan kain. Semua serba tergesa.

Seperti orang menutup warung saat hujan badai datang tiba-tiba.

 

Warga yang merekam langsung berteriak memanggil yang lain. Orang-orang berdatangan dari berbagai arah. Dalam hitungan detik toilet masjid itu berubah jadi pusat keramaian melebihi antrean daging kurban. Lalu keduanya digiring keluar. Setengah bugil. Masih belum sepenuhnya rapi.

Baju belum selesai pada tempatnya.

Kain belum sepenuhnya kembali ke tugas semula.

 

Mereka berjalan di tengah kerumunan dengan wajah tertunduk, seperti tikus disiram air comberan.

 

Si lelaki berbaju merah itu seperti kehilangan seluruh keberanian warnanya. Si emak berjilbab merah menunduk rapat. Puluhan warga mengepung.

 

Suasana gaduh. Ada yang marah. Ada yang teriak. Ada yang geleng kepala. Ada pula yang sibuk merekam dari berbagai sudut, seolah kameramen infotainment sedang rebutan angle terbaik.

 

Netizen tentu langsung bekerja lembur tanpa dibayar. Kolom komentar meledak seperti jagung kena minyak panas.

 

Ada yang bilang, “Masjidnya direnovasi… hatinya rupanya ikut dibongkar total.”

Ada yang menulis, “Merahnya bukan tanda berhenti… rupanya tanda bahaya.”

Ada yang paling tajam berkomentar, “Kalau birahi sudah ke ubun-ubun, toilet pun bisa terasa seperti kamar pengantin VIP.”

Astaga.

 

Memang hidup kadang sulit diterjemahkan.

Ada orang datang ke masjid membawa sajadah. Ada yang datang membawa niat ibadah. Ada pula yang datang membawa bara yang ternyata terlalu lama disimpan di dada.

 

Ketika Mr P dan V sulit dikendalikan, logika kadang keluar duluan lewat ventilasi. Hilang semua apa itu moral, yang ada asusila. Tinggallah manusia bersama degup jantung…

keringat dingin…dan sebuah pintu toilet yang ternyata tak terkunci rapat.

 

Peringatan buat seluruh kader dan simpatisan Partai Koptagul, janganlah bercocok tanam di toilet masjid. Malu, wak! Bercocoktanamlah di ladang dan landasan yang sudah sah. Oke..!

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Agung Prawibowo
    • visibility 304
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia. Jejak Sejarah dan Penyebaran Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap […]

  • Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 284
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Garut–Bandung, berdiri sebuah tugu kecil yang kerap luput dari pandangan. Tak mencolok, tak ramai dikunjungi, bahkan sering diselimuti rumput liar. Namun di sanalah, sejarah berdarah Garut pernah ditulis.   Tugu itu dikenal sebagai Tugu Pertempuran Kubang. Bagi sebagian orang, ia hanya penanda jalan. Tapi bagi […]

  • Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    Simpang Lima Garut, Persimpangan yang Lebih Tua dari Ingatan Warganya

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 364
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Jika persimpangan bisa berbicara, Simpang Lima Garut mungkin sudah lelah bercerita. Setiap hari ia menelan klakson, langkah kaki, teriakan pedagang, dan deru mesin kendaraan. Namun sedikit yang tahu, persimpangan ini adalah salah satu saksi paling setia perjalanan sejarah Kota Garut. Jauh sebelum lampu lalu lintas berdiri dan kemacetan menjadi rutinitas, Simpang Lima sudah […]

  • Harlah NU ke-103 di Pasirwangi, Warga Nahdliyin Sinergi Bangun Daerah

    Harlah NU ke-103 di Pasirwangi, Warga Nahdliyin Sinergi Bangun Daerah

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 266
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Pasirwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut mengapresiasi peran strategis Nahdlatul Ulama (NU) sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan merawat tradisi Islam yang moderat (wasathiyah). Hal ini disampaikan dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) NU yang dilaksanakan di Lapangan Desa Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jum’at (23/1/2026). Staf Ahli Bupati Garut, Maskut […]

  • Hasan Mustofa: Penghulu, Pujangga, dan Jiwa Sunda yang Berpikir

    Hasan Mustofa: Penghulu, Pujangga, dan Jiwa Sunda yang Berpikir

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 751
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tanah Garut yang dingin dan subur oleh doa serta kabut, lahirlah seorang lelaki yang kelak menjadi jembatan antara langit spiritual Islam dan bumi budaya Sunda. Namanya Raden Haji Hasan Mustofa—lebih dikenal sebagai Hasan Mustofa, seorang penghulu, ulama, sekaligus pujangga yang menulis dengan hati dan berpikir dengan akar. Ia tidak lahir sebagai tokoh […]

  • Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    Bahagianya Sepasang Sandal dari Garut Digunakan Charlie Chaplin

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 244
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Setelah menginap di Bandung, rombongan Charlie Chaplin melanjutkan perjalanan menuju Garut, 25 Maret 1936. Charlie dalam kunjungannya ke Pulau Jawa yang kedua kali tersebut ditemani oleh Paulette dan ibunya, Alta Mae Goddard. Sejak mendarat di Cililitan Batavia, mereka melakukan perjalanan menggunakan mobil melewati Puncak. Lagi-lagi, Hotel Preanger menjadi tempat singgah Chaplin sekaligus menginap. […]

expand_less