Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa
- account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- visibility 602
- print Cetak

Dari amatan selayang pandang Hawe Setiawan dalam Kata Pengatar menguraikan atas gugusan gagasan dalam bunga rampai ini, terlihat adanya tiga kecenderungan tematis; Pertama, penafsiran Gibson atas permenungan tasawuf almarhum HHM (1852-1930), penghulu Islam di Aceh, kemudian di Bandung pada zaman kolonial serta penyair mistik Sunda terbesar. Kedua, pemikiran Gibson mengenai masalah-masalah umum menyangkut hubungan antara Sunda sebagai lingkungan budaya dan Islam sebagai keyakinan religious yang biasanya terwakili oleh fase “Sunda-Islam” serta pemikirannya mengenai berbagai aspek dari sosok orang Sunda. Ketiga, perenungan Gibson sebagai muslim atas sikap, pandangan dan perilaku keberagamaan di Indonesia.
Meskipun, kecenderungan pertama dapat dapat dikatakan lebih menonjol daripada dua kecenderungan berikutnya. Jika pada kecenderungan pertama HHM dibaca sebagai pokok permenungan, maka pada dua kecenderungan berikutnya HHM seringkali disinggung-singgung sebagai salah satu bahan rujukan. (h. viii)
Sehubungan dengan gayanya, tulisan-tulisan Gibson dalam buku ini dapat dibagi ke dalam dua kecenderungan; gaya impersonal di satu pihak dan gaya personal pihak lain. Tentu, sebagaimana lazimnya bunga rampai, nada yang diperdengarkan dan suasanayang dibangun oleh tulisan-tulisan dalam buku ini tidak seragam. Sebagian besar tulisan Gibson dalam buku ini mengandalkan gaya impersonal yang mengajak pembaca untuk berdiskusi dalam suasana diskursif. Sebagiankecil tulisannya di sini mengandalkan gaya personal, bahkan dengan menekankan sudut pandang orang pertama, hingga mendekati semacam pernyataan diri, misalnya “Akuingin jadi Mualaf” dan “Kuring Urang Sunda” ¾ dan justru kelompok tulisan inilah yang bagi saya sendiri lebih menarik ketimbang kelompok tulisannya yang disebutkan lebih dulu. (h. ix)
Jika benar bahwa HHM merupakan refresentasi ideal budayawan dan pencetus konsep ideal manusia Sunda, maka untuk mengkaji persoalaan kesundaan, persiapan dan bekal yang harus dipersiapkan dan dimiliki kurang lebih sama. Oleh karena itu, keberadaan konsorsium sebagai alat dan sistem kajian untuk mengorek mutiara dari khazanah budaya Sunda yang dipendam dan terpendam menjadi prasyarat yang mutlak adanya. (h. 6)
Kiranya, tembang Pop Sunda “Urang Sunda” harus kita teriakkan supaya orang Sunda bangun untuk berlomba-lomba mencari jati diri Ki Sunda. Gancang geura hudang buka ceuli buka mata Geura tembongkeun urang sunda oge bisa Tembongkeun urang ge bisa mela nagara Tembongkeun urang ge bisa jadi pamimpin Urang ge bisa nangtung ajeg jeung kawasa Lain saukur bisa unggut jeung kumawula. Walhasil, jangan ngaku orang Sunda kalau belum membaca buku ini. Setuju? Selamat membaca!
Judul : Filsafat Manusia Sunda, Kumpulan Esai HHM, Teosofi dan Filsafat
Penulis : Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M. Ag
Pengantar : Hawe Setiawan
Editor : Absurditas Malka
Cetakan : 1, November 2012
Penerbit : SkylArt Publisher
Hal : x + 200, 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-18908-2-0
- Penulis: Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://www.hanyawacana.id

Saat ini belum ada komentar