Jati Diri Manusia Sunda Sejati ala Haji Hasan Mustofa
- account_circle Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- calendar_month Senin, 29 Des 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Diakui atau tidak, keberadaan Ki Sunda (bahasa, aksara, sastra, agama) tinggal menanti sang penjemput ajal tiba. Ibarat pepatah, hidup enggan mati tak mau. Pasalnya, kehadiran mojang-jajaka selaku generasi penerus sekaligus penjaga khazanah kesundaan tak mau belajar kesundaan. Sekadar contoh, kawula muda bangga berkomunikasi dengan memakai bahasa persatuan (Indonesia ala Betawi) di Tanah Pasundan.
Ini yang dikeluhkan oleh Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M.Ag, dosen Filsafat Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung dalam bukunya, Filsafat Manusia Sunda, Kumpulan Esai HHM, Teosofi dan Filsafat (November, 2012) dengan mengajukan pertanyaan melalui judul; “Basa Indung” dan “Basa Lulugu” dalam Kurikulum Lokal Bahasa Indonesia (Fragmen 16); Kuring Urang Sunda (?) (Fragmen 16).
Bila dalam judul “Basa Indung” dan “Basa Lulugu” dalam Kurikulum Lokal Bahasa Indonesia menuliskan, Basa Indung orang Sunda adalah bahasa Sunda, hal ini tidak lagi perlu diperdebatkan. Akan tetapi bahasa Sunda yang mana? Apakah bahasa Sunda yang dikenal dan dipakai oleh masyarakat Sunda Priangan? (Bandung, Cianjur, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis), ataukah basa Sunda non-Priangan lainnya seperti bahasa Sunda dengan dialek yang digunakan oleh masyarakat di wilayah seperti Cirebob, Banten, Bogor dan wilayah Sunda lainnya? (h. 113)
Pada tulisan Kuring Urang Sunda (?) menerangkan, lahir dari Rahim keluarga Sunda pituin, sejak kecil hidup dalam lingkungan masyarakat Sunda. Karena biasa, maka tidak ada hal yang menarik untuk diperhatikan berkenaan dengan ke-Sunda-anku. Setelah sadar bahwa selama ini atmosfer budaya asing lebih dominan membentuk perilaku dan konstruk nilai budaya yang hidup dalam pikiran dan pengalaman batin, aku bertanya-tanya, siapa aku? Betulkah saya orang Sunda?
Ngan nangtayungkeun pikukuh,
Mun enya tariking angina,
Kodrat irodat pangeran,
Nu mindahkeun birit aing,
Lahaola wala kuwata,
Aing nu hajating aing.
Jangan-jangan “Kuring lain urang Sunda?” Apalagi ada yang menyebut bahwa orang Sunda harus malu bila tidak bisa main kecapi, suling, serta alat-alat music Sunda lainnya. Atau, berbahasa Sunda dengan baik (ala Mataram). Aku memang merasa malu, tak ada satu alat music Sunda pun yang bisa kumainkan. Tak ada satu pun yang menjadi bagian dari kehidupanku. Sampai sekarang aku hanya menjadi penikmat seni music, tapi tidak pernah memiliki kemampuan (kabisa) untuk memainkan alat-alat musik. (h. 193-194). Sungguh perlu kita mengajukan pertanyakan; Adakah manusia Sunda sejati itu?
- Penulis: Ibn Ghifarie, Penulis dan Peneliti Agama dan Media
- Editor: Tim Redaksi Tigarut
- Sumber: https://www.hanyawacana.id
