Breaking News
dark_mode

Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

  • account_circle Sukron Abdilah, penulis Leupas
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Ada satu fase dalam hidup yang terasa seperti eksperimen psikologi tanpa kita sadari: Lebaran sebelum menikah. Kita datang sebagai tamu, pulang sebagai… tersangka (setidaknya di batin sendiri).

Di antara semua variabel sosial—basa-basi, pertanyaan “kapan nyusul?”, hingga strategi duduk agar tidak terlalu dekat dengan om yang cerewet—ada satu objek kecil yang diam-diam mengendalikan alur cerita: toples nastar.

Bahan kue nastar terlihat sederhana: tepung terigu, mentega, gula halus, kuning telur, dan selai nanas sebagai isian. Namun, di balik rasa lembut dan aroma harumnya, tersimpan energi yang cukup besar.

Satu butir nastar rata-rata mengandung sekitar 70–90 kalori, tergantung ukuran dan komposisinya. Ini bisa menghabiskan 1,2 km perjalanan untuk membakarnya supaya jadi otot, bukan menjadi lemak tubuh.

Mentega dan gula menjadi penyumbang utama kalori, sementara selai nanas menambah gula alami sekaligus cita rasa. Tak heran, dalam beberapa gigitan, asupan kalori bisa melonjak tanpa terasa.

Inilah yang membuat nastar kecil namun berdaya besar dalam urusan energi dan kenikmatan. Karena itu, menikmatinya perlu kesadaran, agar lezatnya tidak berubah menjadi kelebihan yang diam-diam menumpuk di tubuh kita sehari-hari.

Kue Lebaran Heuheuy Sekaligus Deudeuh

Nastar itu kue yang heuheuy sekaligus deudeuh. Heuheuy, karena hampir mustahil menemukan rumah tanpa dia, seolah-olah ada regulasi tak tertulis dalam konstitusi Lebaran: “Setiap ruang tamu wajib menyediakan nastar.” Deudeuh, karena dia adalah biang kerok diet yang paling sering dijadikan kambing hitam. Padahal, kalau jujur, yang salah bukan nastarnya—melainkan relasi kita yang terlalu intim dengannya.

Pengalaman saya sederhana, tapi seperti mimpi yang sulit dijelaskan secara rasional. Saya duduk di ruang tamu, awalnya berniat sopan: ambil satu, kunyah perlahan, senyum. Lalu satu lagi—untuk menyeimbangkan rasa. Lalu satu lagi—untuk memastikan konsistensi kualitas produksi. Tanpa sadar, waktu melar seperti karet. Obrolan jadi latar belakang yang kabur. Yang tersisa hanya saya dan toples itu.

Sigmund Freud pernah menulis dalam The Interpretation of Dreams bahwa mimpi adalah “jalan utama menuju alam bawah sadar” (the royal road to the unconscious). Kalau Freud hidup di Indonesia dan sempat Lebaran, mungkin dia akan menambahkan satu catatan kaki: “Dan nastar adalah pintu daruratnya.”

Karena jujur saja, apa yang terjadi saat kita tanpa sadar menghabiskan satu toples itu terasa seperti kerja alam bawah sadar yang mengambil alih kendali.

Dalam kondisi itu, ego tampak cuti. Superego—yang biasanya berbisik “ingat kalori, ingat harga diri”—entah ke mana. Yang tersisa hanya id: dorongan purba untuk mengunyah, merasakan manis, dan mencari kepuasan instan. Setiap gigitan seperti afirmasi eksistensial: aku makan, maka aku ada.

Yang menarik, peristiwa ini hampir selalu berujung pada fase kedua: tidur. Bagi orang dewasa, ini semacam konsekuensi metafisik. Setelah gula dan mentega bekerja sama secara sistematis, tubuh menyerah. Kita tertidur di sofa, dengan perasaan samar bersalah yang belum sempat diproses sepenuhnya.

Di titik ini, Freud kembali relevan. Mimpi yang muncul seringkali absurd: kita dikejar toples raksasa, atau berada di ruang tamu tanpa pintu keluar, atau lebih halus—kita bermimpi membuka toples yang selalu penuh kembali. Alam bawah sadar, seperti kata Freud, sedang bekerja: menyamarkan rasa bersalah, mengemas hasrat, dan mungkin juga memberi pembenaran.

Namun, teori ini tampaknya tidak berlaku universal. Anak kecil adalah anomali dalam sistem ini. Mereka bisa makan nastar sebanyak kita—atau bahkan lebih—tanpa drama eksistensial dan tanpa tidur mendadak. Bedanya sederhana tapi krusial: mereka bergerak. Lari, lompat, kejar-kejaran. Kalori tidak sempat menjadi filsafat; langsung dibakar menjadi keringat.

Sementara kita? Kita duduk. Kita merenung. Kita menumpuk bukan hanya kalori, tapi juga narasi. Kita menjadikan satu toples nastar sebagai kisah batin yang kompleks, lengkap dengan konflik, klimaks, dan resolusi berupa tidur siang yang berat.

Dan ketika bangun, ada satu momen sunyi yang sangat jujur: mata terbuka perlahan, pandangan mencari toples itu—yang kini kosong atau sudah diganti posisi oleh tuan rumah. Kita pura-pura tidak tahu. Mereka mungkin juga pura-pura tidak tahu. Sebuah kesepakatan sosial yang halus, hampir seperti mimpi yang disepakati bersama.

Lebaran sebelum menikah memang penuh misteri kecil seperti ini. Dan nastar, dengan segala heuheuy dan deudeuh-nya, bukan sekadar kue. Ia adalah medium—antara sadar dan bawah sadar, antara niat dan tindakan, antara satu biji… dan satu toples yang hilang tanpa jejak.***

Komentar
  • Penulis: Sukron Abdilah, penulis Leupas
  • Editor: SAB

Rekomendasi

  • Garut, Surganya Para Penikmat Kopi! Inilah 5 Merek Kopi Garut yang Bikin Bangga Warganya

    Garut, Surganya Para Penikmat Kopi! Inilah 5 Merek Kopi Garut yang Bikin Bangga Warganya

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Menjelajahi Garut tak lengkap tanpa mencicipi kekayaan aromanya. Kota intan ini bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan rumah bagi biji kopi berkualitas tinggi yang telah mendunia. Dari lereng pegunungan yang subur, hadirlah cita rasa unik yang memadukan tradisi dan inovasi dalam setiap seduhannya. Mari mengenal lebih dekat beberapa merek kopi lokal kebanggaan masyarakat […]

  • Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi yang Tumbuh di Lereng Gunung Papandayan

    Nah Ini Dia! 5 Keutamaan Kopi yang Tumbuh di Lereng Gunung Papandayan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Gunung Papandayan di Garut bukan hanya terkenal dengan panorama kawah dan padang edelweisnya, tetapi juga dengan kopi yang tumbuh di lereng-lerengnya. Kopi Papandayan memiliki karakter unik yang lahir dari perpaduan tanah vulkanik subur, udara sejuk pegunungan, dan tradisi petani lokal yang penuh dedikasi. Berikut adalah 5 keutamaan kopi dari Papandayan yang membuatnya layak […]

  • Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    Lapangan Golf Ngamplang Dibangun Belanda Tahun 1912, Jadi Tempat Healing Penuh Sejarah

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pesona Lapangan Golf Ngamplang menjadi tempat berolahraga dan wisata keluarga favorit di Kabupaten Garut. Tak hanya untuk bermain golf, sebagian lapangan di sini dibuka untuk umum dan dijadikan sebagai tempat wisata. Saat berwisata di sini, pengunjung tidak perlu lagi khawatir terkena lemparan bola golf yang keras, karena lapangan tempat bermain golf dan lapangan yang […]

  • Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Garut–Bandung, berdiri sebuah tugu kecil yang kerap luput dari pandangan. Tak mencolok, tak ramai dikunjungi, bahkan sering diselimuti rumput liar. Namun di sanalah, sejarah berdarah Garut pernah ditulis.   Tugu itu dikenal sebagai Tugu Pertempuran Kubang. Bagi sebagian orang, ia hanya penanda jalan. Tapi bagi […]

  • 3 Rekomendasi Kartini Masa Kini Asal Garut

    3 Rekomendasi Kartini Masa Kini Asal Garut

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Dalam semangat Raden Ajeng Kartini yang terus hidup melampaui zaman, perempuan Garut hari ini menunjukkan kiprah yang tak kalah inspiratif. Dari panggung musik internasional hingga ruang akademik dan pengabdian masyarakat, lahir sosok-sosok tangguh yang membawa perubahan nyata. Mereka adalah representasi “Kartini masa kini” yang tidak hanya berani bermimpi, tetapi juga konsisten berkarya dan memberi dampak […]

  • Si Kabayan Jadi Driver Ojek Online

    Si Kabayan Jadi Driver Ojek Online

    • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan geus resmi jadi mitra ojol. Manéhna gaya pisan maké jaket héjo nu rada sereg dina beuteungna. “Iteung, Akang ayeuna mah moal deui dicarékan ku Abah. Akang geus jadi ‘Ksatria Jalanan’! Tinggal nungguan ‘bip-bip’ dina hapé, duit datang sorangan,” ceuk Kabayan bari ngusapan hélemna. “Enya Kang, tapi ulah kalah ‘ngetéyép’ saré dina jok […]

expand_less