Breaking News

Naasnya Si Kue Nastar Pas Lebaran

  • account_circle Sukron Abdilah, penulis Leupas
  • calendar_month Senin, 23 Mar 2026
  • visibility 196
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Ada satu fase dalam hidup yang terasa seperti eksperimen psikologi tanpa kita sadari: Lebaran sebelum menikah. Kita datang sebagai tamu, pulang sebagai… tersangka (setidaknya di batin sendiri).

Di antara semua variabel sosial—basa-basi, pertanyaan “kapan nyusul?”, hingga strategi duduk agar tidak terlalu dekat dengan om yang cerewet—ada satu objek kecil yang diam-diam mengendalikan alur cerita: toples nastar.

Bahan kue nastar terlihat sederhana: tepung terigu, mentega, gula halus, kuning telur, dan selai nanas sebagai isian. Namun, di balik rasa lembut dan aroma harumnya, tersimpan energi yang cukup besar.

Satu butir nastar rata-rata mengandung sekitar 70–90 kalori, tergantung ukuran dan komposisinya. Ini bisa menghabiskan 1,2 km perjalanan untuk membakarnya supaya jadi otot, bukan menjadi lemak tubuh.

Mentega dan gula menjadi penyumbang utama kalori, sementara selai nanas menambah gula alami sekaligus cita rasa. Tak heran, dalam beberapa gigitan, asupan kalori bisa melonjak tanpa terasa.

Inilah yang membuat nastar kecil namun berdaya besar dalam urusan energi dan kenikmatan. Karena itu, menikmatinya perlu kesadaran, agar lezatnya tidak berubah menjadi kelebihan yang diam-diam menumpuk di tubuh kita sehari-hari.

Kue Lebaran Heuheuy Sekaligus Deudeuh

Nastar itu kue yang heuheuy sekaligus deudeuh. Heuheuy, karena hampir mustahil menemukan rumah tanpa dia, seolah-olah ada regulasi tak tertulis dalam konstitusi Lebaran: “Setiap ruang tamu wajib menyediakan nastar.” Deudeuh, karena dia adalah biang kerok diet yang paling sering dijadikan kambing hitam. Padahal, kalau jujur, yang salah bukan nastarnya—melainkan relasi kita yang terlalu intim dengannya.

Pengalaman saya sederhana, tapi seperti mimpi yang sulit dijelaskan secara rasional. Saya duduk di ruang tamu, awalnya berniat sopan: ambil satu, kunyah perlahan, senyum. Lalu satu lagi—untuk menyeimbangkan rasa. Lalu satu lagi—untuk memastikan konsistensi kualitas produksi. Tanpa sadar, waktu melar seperti karet. Obrolan jadi latar belakang yang kabur. Yang tersisa hanya saya dan toples itu.

Sigmund Freud pernah menulis dalam The Interpretation of Dreams bahwa mimpi adalah “jalan utama menuju alam bawah sadar” (the royal road to the unconscious). Kalau Freud hidup di Indonesia dan sempat Lebaran, mungkin dia akan menambahkan satu catatan kaki: “Dan nastar adalah pintu daruratnya.”

Karena jujur saja, apa yang terjadi saat kita tanpa sadar menghabiskan satu toples itu terasa seperti kerja alam bawah sadar yang mengambil alih kendali.

Dalam kondisi itu, ego tampak cuti. Superego—yang biasanya berbisik “ingat kalori, ingat harga diri”—entah ke mana. Yang tersisa hanya id: dorongan purba untuk mengunyah, merasakan manis, dan mencari kepuasan instan. Setiap gigitan seperti afirmasi eksistensial: aku makan, maka aku ada.

Yang menarik, peristiwa ini hampir selalu berujung pada fase kedua: tidur. Bagi orang dewasa, ini semacam konsekuensi metafisik. Setelah gula dan mentega bekerja sama secara sistematis, tubuh menyerah. Kita tertidur di sofa, dengan perasaan samar bersalah yang belum sempat diproses sepenuhnya.

Di titik ini, Freud kembali relevan. Mimpi yang muncul seringkali absurd: kita dikejar toples raksasa, atau berada di ruang tamu tanpa pintu keluar, atau lebih halus—kita bermimpi membuka toples yang selalu penuh kembali. Alam bawah sadar, seperti kata Freud, sedang bekerja: menyamarkan rasa bersalah, mengemas hasrat, dan mungkin juga memberi pembenaran.

Namun, teori ini tampaknya tidak berlaku universal. Anak kecil adalah anomali dalam sistem ini. Mereka bisa makan nastar sebanyak kita—atau bahkan lebih—tanpa drama eksistensial dan tanpa tidur mendadak. Bedanya sederhana tapi krusial: mereka bergerak. Lari, lompat, kejar-kejaran. Kalori tidak sempat menjadi filsafat; langsung dibakar menjadi keringat.

Sementara kita? Kita duduk. Kita merenung. Kita menumpuk bukan hanya kalori, tapi juga narasi. Kita menjadikan satu toples nastar sebagai kisah batin yang kompleks, lengkap dengan konflik, klimaks, dan resolusi berupa tidur siang yang berat.

Dan ketika bangun, ada satu momen sunyi yang sangat jujur: mata terbuka perlahan, pandangan mencari toples itu—yang kini kosong atau sudah diganti posisi oleh tuan rumah. Kita pura-pura tidak tahu. Mereka mungkin juga pura-pura tidak tahu. Sebuah kesepakatan sosial yang halus, hampir seperti mimpi yang disepakati bersama.

Lebaran sebelum menikah memang penuh misteri kecil seperti ini. Dan nastar, dengan segala heuheuy dan deudeuh-nya, bukan sekadar kue. Ia adalah medium—antara sadar dan bawah sadar, antara niat dan tindakan, antara satu biji… dan satu toples yang hilang tanpa jejak.***

  • Penulis: Sukron Abdilah, penulis Leupas
  • Editor: SAB

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Guru juga Manusia

    Guru juga Manusia

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Yayu Resti Purwitasari, Guru Bimbingan dan Konseling SMKN 1 Garut
    • visibility 171
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM —   “Guru juga manusia.” Kalimat ini terdengar sederhana, tapi sering kali paling mudah dilupakan saat sebuah kasus pendidikan viral di media sosial.   Belakangan ini banyak orang membahas soal cara guru menegakkan disiplin, ada yang fokus pada kesalahan tindakannya, ada yang membela aturan sekolah, ada juga yang langsung menghakimi pribadi gurunya.   Menurutku, […]

  • Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 284
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan sekadar kota sejuk di kaki Gunung Cikuray. Ia bukan hanya hamparan sawah, kebun teh, dan pasar tradisional yang riuh tiap pagi. Garut adalah kota yang pernah diberi mahkota simbolik oleh Presiden pertama Republik Indonesia: “Kota Intan.” Sebuah julukan yang lahir bukan dari brosur pariwisata, tetapi dari kesan mendalam seorang Sukarno terhadap […]

  • Yazid bin Muawiyah, Otak di Balik Pembantaian Husein bin Ali

    Yazid bin Muawiyah, Otak di Balik Pembantaian Husein bin Ali

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 281
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Tulisan ke-19 Edisi Ramadan. Kita lanjutkan tokoh paling kontroversial dalam Islam, Yazid bin Muawiyah. Beliau lah otak di balik pembantaian Husein bin Ali, cucu Rasulullah, di Karbala. Simak narasinya sambil seruput Koptagul usai sahur, wak! Tahun 646 M, di wilayah Suriah, lahirlah Yazid bin Muawiyah. Ayahnya, Muawiyah bin Abi Sufyan, pendiri Dinasti Umayyah, politisi […]

  • Waspada Pungli di Pantai Garut Saat Libur Lebaran

    Waspada Pungli di Pantai Garut Saat Libur Lebaran

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 160
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Lebaran selalu membawa berkah bagi sektor wisata Garut, terutama kawasan pantai selatan seperti Sayang Heulang, Santolo, dan Rancabuaya. Namun di balik ramainya wisatawan, muncul persoalan klasik yang kembali viral: dugaan pungutan liar (pungli). Dalam beberapa hari terakhir, keluhan wisatawan tentang tarif masuk yang tidak jelas kembali ramai di media sosial, bahkan menjadi perhatian […]

  • Nah Ini Dia! 6 Tradisi Imlek yang Masih Dilestarikan Masyarakat

    Nah Ini Dia! 6 Tradisi Imlek yang Masih Dilestarikan Masyarakat

    • calendar_month Minggu, 15 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 221
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Perayaan Tahun Baru Imlek kembali disambut meriah oleh masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia. Momentum pergantian tahun dalam kalender lunar ini bukan hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga sarat makna budaya dan nilai kebersamaan. Berikut enam tradisi Imlek yang masih dilestarikan hingga kini. 1. Membersihkan dan Menghias Rumah Menjelang Imlek, masyarakat biasanya […]

  • Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    Yuk Kenali Tokoh Intelektual, Raden Ayu Lasminingrat

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 269
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Raden Dewi Sartika dikenal sebagai Pahlawan Nasional Wanita Indonesia dari Jawa Barat. Beliau dengan segenap hatinya memperjuangkan dunia pendidikan bagi kaum wanita untuk dapat menikmati rasanya bersekolah seperti kaum laki-laki. Namun, bukan hanya Raden Dewi Sartika yang telah berjasa memperjuangkan hak pendidikan bagi kaum wanita di Jawa Barat. Deri Eka Firman (Duta Bahasa […]

expand_less