Breaking News

Semua Akan Mati, Termasuk Kalian

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Selasa, 19 Mei 2026
  • visibility 144
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Pagi tadi saya seperti manusia yang sedang ditarik dua dunia. Dunia orang hidup yang masih sibuk menghitung jam keberangkatan, dan dunia kematian yang tak pernah peduli jadwal manusia. Saya ingin pulang kampung pukul 07.00 WIB. Ingin cepat. Ingin sekali ikut memandikan abang kandung saya, Iskar Dinata. Ingin ikut menyolatkan. Ingin ikut menguburkan. Tapi manusia hanya bisa berencana. Taksi penuh. Yang tersedia hanya pukul 09.00 WIB. Saya pasrah.

 

Kadang kita terlalu sombong mengatur hidup, seolah malaikat maut harus antre dulu di ruang tamu. Seolah kematian bisa diajak kompromi. Padahal liang lahat tak pernah menunggu kesiapan siapa pun.

 

Saya menulis kegelisahan itu. Hanya tulisan biasa. Tulisan seorang adik yang sedang kehilangan separuh sejarah hidupnya. Tak disangka, tulisan itu dibaca seseorang dari Kalimantan Utara. Saya tak pernah bertemu dengannya. Bahkan tak pernah berjabat tangan. Ia hanya pembaca tulisan saya. Pengagum tulisan yang mungkin selama ini diam-diam membaca setiap kalimat yang saya buat sambil menyeruput kopi. Ia sempat meminta nomor saya lewat DM.

 

Subuh tadi, ia menelepon sampai enam kali. HP saya silent. Saya masih tidur dengan mata sembab dan hati yang seperti ditusuk-tusuk jarum. Ia lalu mengirim pesan. Ia sudah menyiapkan mobil carter lengkap dengan sopir. Jangan pikirkan biayanya, katanya. Tinggal saya mau atau tidak.

 

Saya terdiam lama.

 

Di zaman sekarang, ketika banyak manusia lebih cepat menghina dari menolong, masih ada orang yang diam-diam menjadi tangan Allah untuk membantu sesama. Di tengah dunia yang sibuk flexing ibadah di media sosial, ternyata masih ada manusia yang amalnya bekerja tanpa kamera.

 

Saya sempat ragu. Maklum, tak kenal. Hanya kenal lewat dunia online yang penuh tipu-tipu, penuh topeng, penuh manusia bermulut ayat tapi berhati karat. Tapi hati kecil saya berkata, “Bismillah. Saya yakin ia orang baik.”

 

Saya jawab singkat. Siap. Terima kasih.

 

Pesanan taksi jam 09.00, langsung saya batalkan.

 

Pukul 06.00 WIB, mobil dan sopir sudah berada di depan rumah. Tepat waktu. Tidak banyak bicara. Saya berangkat menuju kampung dengan hati yang campur aduk. Sepanjang perjalanan saya hanya memandang jalan. Kadang diam. Kadang istigfar. Kadang menahan air mata.

 

Kematian memang begitu. Ia membuat manusia sadar, semua yang kita kejar selama ini ternyata tak ada apa-apanya. Jabatan tak ikut turun ke kubur. Mobil mewah hanya berhenti di parkiran pemakaman. Rekening miliaran tak bisa menyuap malaikat Munkar dan Nakir. Bahkan followers TikTok yang ribuan itu tak satu pun bisa menggantikan posisi kita di liang lahat.

 

Begitu tiba di kampung, jenazah abang saya baru saja dimandikan.

 

Allah masih memberi kesempatan.

 

Tak lama azan Asar berkumandang. Usai Asar, abang saya langsung disalatkan. Masjid penuh. Saf rapat. Semua menunduk. Semua khusyuk. Semua tahu, suatu hari nanti posisi di depan itu akan berganti. Hari ini Iskar Dinata. Besok mungkin saya. Besok mungkin kalian yang sedang membaca tulisan ini sambil rebahan, sambil tertawa, sambil merasa umur masih panjang.

 

Lalu jenazah dibawa ke pemakaman muslim Desa Simpang Empat.

 

Sebagai adik, itulah terakhir kali saya melihat jasad abang saya.

 

Tubuh yang dulu berjalan ke mana-mana. Tubuh yang dulu tertawa. Tubuh yang dulu bekerja mencari nafkah. Kini diam terbujur. Tak lagi menjawab panggilan. Tak lagi membuka mata.

 

Saya melihat istrinya menaburkan bunga dan air untuk terakhir kali. Tangannya gemetar. Air matanya jatuh seperti hujan yang kehilangan langit. Jenazah abang saya perlahan masuk ke dalam tanah. Kembali ke asalnya. Kembali menjadi penghuni bumi.

 

Manusia memang lucu. Sewaktu hidup berebut dunia seperti hidup seribu tahun. Sikut sana-sini. Fitnah sana-sini. Pamer sana-sini. Padahal ujungnya hanya dibungkus kain putih. Ukuran rumah terakhir pun sempitnya cuma cukup untuk satu badan.

 

Setelah itu saya membuka Facebook dan TikTok. Subhanallah. Puluhan ribu netizen mendoakan abang saya. Saya tercekat. Ternyata di balik kerasnya dunia maya, masih banyak hati yang lembut. Masih banyak manusia yang mau mengirim Al-Fatihah untuk orang yang bahkan tak mereka kenal.

 

Barusan ini tahlilan digelar. Jamaah masjid datang. Keluarga berkumpul. Yasin dibaca. Tahlil dilantunkan. Doa-doa naik ke langit malam.

 

Begitulah hidup. Pada akhirnya kita semua akan pulang.

 

Tak ada yang bisa menolak kematian. Tak ada yang bisa sembunyi. Tak ada yang bisa menyogok ajal. Malaikat maut tak pernah salah alamat.

 

Termasuk saya. Termasuk kalian yang membaca tulisan ini.

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • 5 Ponpes Terbaik di Garut yang Layak Diketahui

    5 Ponpes Terbaik di Garut yang Layak Diketahui

    • calendar_month Sabtu, 22 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 52
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut tidak hanya dikenal dengan wisata alam dan kulinernya, tetapi juga memiliki tradisi pendidikan pesantren yang kuat. Dari pesantren modern, salafiyah, hingga lembaga yang memadukan pendidikan agama dan sekolah formal, pilihannya sangat beragam. Berikut lima pondok pesantren di Garut yang dikenal luas dan layak menjadi referensi pendidikan bagi masyarakat. 1. Pondok Pesantren Darussalam […]

  • Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    Cerpen “Air Keras di Tengah Malam Jakarta”

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 230
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Malam Jakarta sering terlihat biasa saja. Lampu jalan berdiri seperti penjaga yang kelelahan, angin membawa bau aspal, dan kota raksasa itu pura-pura tidur. Padahal Jakarta jarang benar-benar tidur. Ia hanya menunggu tragedi berikutnya muncul di tikungan jalan.   Kamis malam, 12 Maret 2026.   Sekitar pukul 23.37 WIB, Andrie Yunus melaju sendirian dengan motor […]

  • Nah Ini Dia! 13 Fakta Menarik tentang Achdiat K. Mihardja

    Nah Ini Dia! 13 Fakta Menarik tentang Achdiat K. Mihardja

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 515
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Barangkali banyak anak sekarang yang tidak lagi mengenal nama Achdiat K. Mihardja. Namun, coba tanyakan kepada orangtua mereka. Pasti orang tua mereka mengenalnya sebagai pengarang novel Atheis yang sangat fenomenal di zamannya. Bahkan, novel itu pernah menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Malaysia. Dalam artikel yang ditulis Spoila menghadirkan beberapa fakta yang perlu […]

  • 5 Tips Jitu agar Tidak Terseret Ombak di Pantai Karang Papak Garut

    5 Tips Jitu agar Tidak Terseret Ombak di Pantai Karang Papak Garut

    • calendar_month Minggu, 30 Agt 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 58
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pantai Karang Papak di Kecamatan Cikelet, Garut, menjadi salah satu tujuan wisata pesisir yang menarik. Namun, keindahan pantai tetap perlu diimbangi kewaspadaan. Apalagi, pada Maret 2026, empat wisatawan sempat terseret ombak di Pantai Karangpapak dan berhasil diselamatkan petugas Polairud. Berikut lima tips penting bagi wisatawan: 1. Jangan memaksakan berenang saat ombak besar Kenali […]

  • Tingkatkan Mutu Pendidikan, Garut Gandeng UPI Latih 400 Pendidik

    Tingkatkan Mutu Pendidikan, Garut Gandeng UPI Latih 400 Pendidik

    • calendar_month Minggu, 19 Jul 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 71
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan kompetensi tenaga pendidik. Salah satu langkah yang disiapkan ialah menggandeng Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) untuk memberikan pelatihan kepada 400 pendidik guna memperkuat kemampuan, khususnya di bidang literasi dan numerasi. Hal tersebut disampaikan Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, saat menghadiri sekaligus memberikan arahan dalam […]

  • Nah Ini Dia! 5 Tempat Ziarah Terkenal di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Tempat Ziarah Terkenal di Garut

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 345
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM –Kabupaten Garut tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga memiliki berbagai destinasi wisata religi yang sarat nilai sejarah dan spiritual. Tempat-tempat ziarah di Garut banyak dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah untuk berdoa sekaligus mengenang jasa para tokoh penyebar agama Islam. Berikut adalah lima tempat ziarah terkenal di Garut yang sering menjadi rekomendasi. […]

expand_less