Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Minggu, 28 Des 2025
- print Cetak

Komunitas Ngejah di Garut.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
”Kalau mau baca buku harus ke perpustakaan daerah di perkotaan Garut, ongkosnya Rp 30.000,” ujar Opik.
Tergerak ingin mengatasi masalah itu, pada warsa 2010, Opik membuka taman bacaan masyarakat di rumahnya. Masyarakat bisa membaca dan meminjam buku kapan saja, tanpa membayar sepeser pun. Pada awalnya, buku-buku yang ada di taman bacaan merupakan buku koleksi Opik kala kuliah. Semakin lama, buku-buku itu pun bertambah dari berbagai pihak yang peduli terhadap kebiasaan membaca.
Dengan adanya taman bacaan, masyarakat menjadi dekat dengan buku. Suasana di Desa Sukawangi pun kental dengan kebiasaan membaca buku. Siang itu, empat anak asyik membaca buku di saung yang dibangun Opik di halaman rumahnya. Beberapa anak lain memilih meminjam buku dari taman bacaan hatta dibaca di rumah. Kini, taman bacaan itu sudah memiliki 2.000 anggota. Tak hanya anak-anak, pemuda dan orangtua pun kerap membaca buku dari taman bacaan.
Melihat perkembangan taman bacaannya, Opik berharap, buku-bukunya dapat membangun intelektualitas masyarakat desa karena buku merupakan gudang ilmu. Anak-anak pun berani mempunyai cita-cita setinggi langit.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Editor: Tim Redaksi tigarut
- Sumber: HU Pikiran Rakyat, 24 Maret 2017
