Bersama Komunitas Ngejah, Saatnya Bangun Literasi dari Kampung Sendiri
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Minggu, 28 Des 2025
- print Cetak

Komunitas Ngejah di Garut.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — PENDIRI Komunitas Ngejah Nero Taopik Abdillah mengajar anak-anak di desa Mekartani, Singajaya, Garut, Jumat 3 Februari 2017 lalu. Opik bersama sukarelawan lainnya membangun kampung literasi dengan membuat perpustakaan keliling.*
Kali ini kami sampaikan cerita tentang Opik, pendiri Komunitas Ngejah di Garut.
“Tahun 2010, Garut menjadi satu dari dua daerah tertinggal di Jawa Barat. Sebagai anak muda, saat itu, saya berpikir, harus lakukan sesuatu. Karena tak bisa membantu membangun fisik, saya membangun pemikiran masyarakat,” ucap seorang pemuda di suatu desa terpencil tentang hasratnya untuk membangun intelektual masyarakat Kabupaten Garut.
Opik, begitu nama pemuda tersebut. Siang itu, Jumat 3 Februari 2017, kami menemui Opik di rumahnya yang dipenuhi buku. Ada 16.000 buku tersusun rapi di rak yang menempel ke dinding rumah, mulai dari buku cerita Donal Bebek, novel sastra, hingga ensiklopedia.
Lewat buku, pria 33 tahun itu ingin membangun intelektualitas masyarakat Kabupaten Garut yang ia mulai dari masyarakat desanya. Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya –tempat tinggal Opik—terletak 60 kilometer dari pusat kota Kabupaten Garut. Letaknya yang jauh dari perkotaan, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya, membuat akses masyarakat Desa Sukawangi terhadap buku sangat sulit.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Editor: Tim Redaksi tigarut
- Sumber: HU Pikiran Rakyat, 24 Maret 2017
