Breaking News
dark_mode

Reduksi Makna Pendidikan

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Kritik Epistemologis terhadap Statemen “Kebijakan Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri”

TIGARUT.COM — Wacana yang digulirkan oleh petinggi salah satu kementerian terkait penutupan program studi yang dianggap tidak selaras dengan kebutuhan industri merupakan sebuah simplifikasi yang berbahaya atas makna pendidikan. Karena dilontarkan oleh pejabat publik (sekalipun plt), narasi ini mencerminkan kegagalan pengelola negara dalam memahami amanat UUD 1945 yang secara eksplisit menugaskan negara untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”, bukan sekadar “mempekerjakan kehidupan bangsa”.

 

Ketika sebuah institusi pendidikan tinggi mengorientasikan seluruh aktivitasnya murni untuk menyuplai lapangan pekerjaan, maka institusi tersebut sejatinya telah kehilangan ruh akademisnya dan mengalami degradasi wujud menjadi sekadar balai pelatihan kerja (BLK). Pandangan utilitarian ini tidak hanya mereduksi esensi manusia pada aspek “labor” (pekerja) dan “work” (pekerjaan) semata, tetapi juga merampas ruang bagi “role-play” (peran) dan “action”, yakni kebebasan, tanggung jawab, dan kemungkinan terjadinya pembaruan sosial (social transformation) di tengah masyarakat.

 

Sekalipun kata “industri” dapat dimaknai secara luas, kelemahan paling fundamental dari argumen “kebutuhan industri” adalah asumsi bahwa industri memiliki kepastian arah. Kenyataannya, industri sendiri sering kali belum mengetahui ke mana arah masa depannya. Misalnya, laporan dari lembaga global seperti “World Economic Forum” dan “McKinsey & Company” secara konsisten mengingatkan bahwa banyak pekerjaan masa depan yang saat ini bahkan belum eksis.

 

Oleh karena itu, jika kampus dipaksa untuk sibuk menyesuaikan diri dengan trend kebutuhan industri hari ini, institusi pendidikan sejatinya sedang menyiapkan lulusan untuk sebuah dunia yang sudah lewat dan usang. Baik itu konsep yang bersifat “market-driven” (dikendalikan pasar) maupun “market-driving” (mengendalikan pasar), keduanya tetap terjebak dalam logika sempit yang sama, yakni menempatkan pasar sebagai penentu kebenaran tunggal.

 

Dalam logika pasar yang terkadang kehilangan kompas ini, disiplin ilmu humaniora selalu menjadi korban pertama karena dianggap tidak praktis. Program studi seperti Filsafat, Sejarah, Sastra, Antropologi, hingga studi agama-agama serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir terancam ditutup. Padahal ilmu-ilmu inilah memiliki posisi esensial dalam membangun kecakapan berpikir, kekuatan mentalitas, kematangan bersikap, dan kejelian memahami warisan budaya dan peradaban. Tanpa disiplin ilmu tersebut, sistem pendidikan akan kehilangan arah dan gagal melahirkan manusia yang holistik.

 

Manusia seutuhnya hanya bisa dibentuk jika negara menjamin keseimbangan pendidikan dan pembinaan antara “Heart” (akhlak karimah dan integritas moral), “Head” (daya pikir dan kekayaan pengetahuan), dan “Hand” (keterampilan dan kecakapan teknis). Pada tataran normatif, acuannya tersedia, namun pada tataran praktisnya seakan “ngeblur” begitu saja. Kehilangan program studi dasar dan humaniora berarti mematikan dimensi “Heart” dan “Head”, menyisakan generasi yang hanya memiliki “Hand” (skill) untuk menjadi sekrup-sekrup mekanis di dalam mesin industri.

 

Pada akhirnya, “ancaman” penutupan program studi ini hanyalah jalan pintas yang salah diagnosis. Masalah utama pendidikan tinggi di Indonesia sesungguhnya bersarang pada tata kelola yang masih menyisakan “bolong-bolong”. Menjamurnya program studi sering kali didorong oleh latah tren, tingginya peminat, dan orientasi pemasukan finansial, bukan didasari oleh sebuah visi pendidikan yang kokoh. Menutup program studi dari atas ibarat memotong daun tanpa pernah menyentuh akar masalahnya.

 

Hal yang sangat dibutuhkan saat ini bukanlah penutupan sepihak berdasarkan kacamata industri, melainkan kebijakan tata kelola (termasuk pendanaan) berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, serta keberanian negara untuk menjaga ilmu yang mungkin tidak “laku” dijual namun mutlak diperlukan. Kampus diharapkan dipertahankan fungsinya untuk melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri, bukan hanya melatih tenaga kerja yang terombang-ambing perubahan zaman.

Komentar
  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Rekomendasi

  • Bupati Garut Ajak Muslimat NU Berkolaborasi Atasi Permasalahan di Garut

    Bupati Garut Ajak Muslimat NU Berkolaborasi Atasi Permasalahan di Garut

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Diskominfo Kab. Garut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Tarogong Kaler – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menghadiri acara Konferensi Cabang (Konfercab) XII Pimpinan Cabang Muslimat Nahdatul Ulama (NU) Garut Tahun 2025 yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Huda, Jalan Otista, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut, Sabtu (27/12/2025). Bupati Garut, menekankan bahwa kehadiran Muslimat NU memiliki peran strategis sebagai mitra pemerintah dalam menghadapi tantangan […]

  • Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Sah! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).   “Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari 2026,” […]

  • Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    Giliran Mahasiswa ITB Berotak Mesum, Goyang Erika

    • calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ini ada apa sih dengan mahasiswa kita. Kok pada otak mesum sih (oknum). Sebelumnya ada 16 mahasiswa FH UI, sekarang giliran mahasiswa ITB pula. Amit-amit kalau kena mahasiswa saya. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!   Selamat datang di era keemasan intelektual Indonesia tahun 2026, di mana mahasiswa dari kampus paling top seperti […]

  • 5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    5 Rekomendasi Pantai di Garut Asyik Liburan Idul Fitri

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Libur Idul Fitri selalu membawa kita pada satu kata yang sederhana namun dalam: pulang. Bukan sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi kembali pada ketenangan yang sering hilang di tengah rutinitas. Di Garut, pulang bisa berarti menyusuri jalan menuju pantai selatan—tempat di mana debur ombak seolah menghapus penat, dan angin laut membawa rasa syukur […]

  • Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    Pemkab Garut Apresiasi Exploring IPB 2026, Cetak SDM Unggul untuk Ketahanan Pangan Daerah

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM, Garut Kota – Pemerintah Kabupaten Garut memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif Himpunan Mahasiswa Garut Institut Pertanian Bogor (HIMAGA IPB) yang menyelenggarakan kegiatan Exploring IPB 2026. Acara yang berlangsung di Gedung Pendopo, Kecamatan Garut Kota, Sabtu (17/1/2026) ini bertujuan memperkenalkan dunia perkuliahan dan menjaring minat siswa SMA/SMK sederajat di Garut untuk melanjutkan studi ke salah […]

  • Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    Jejak Sejarah Julukan Garut Kota Intan dari Sukarno untuk Swiss van Java

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut bukan sekadar kota sejuk di kaki Gunung Cikuray. Ia bukan hanya hamparan sawah, kebun teh, dan pasar tradisional yang riuh tiap pagi. Garut adalah kota yang pernah diberi mahkota simbolik oleh Presiden pertama Republik Indonesia: “Kota Intan.” Sebuah julukan yang lahir bukan dari brosur pariwisata, tetapi dari kesan mendalam seorang Sukarno terhadap […]

expand_less