Breaking News
dark_mode

Transportasi Garut dan Priangan Tempo Dulu

  • account_circle Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api,
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Untuk kelima kalinya, saya melakukan perjalanan dari Tjitjalengka ke Garoet. Di sepanjang jalan pos lama, saya menyaksikan begitu banyak kuda yang menderita, kegelisahan dan kesengsaraan para penumpang;”[1]

TIGARUT.COM — Satu dari sekian banyak jalur kereta api mati yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah di tahun 2019 ini adalah jalur antara Cibatu dan Garut. Dahulu, jalur ini merupakan bagian dari rencana besar perusahaan kereta api negara bernama Staatsspoorwegen (SS) untuk menghubungkan Batavia dengan Surabaya. Sebuah upacara yang cukup meriah yang dihadiri oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda sekitar 130 tahun yang lalu, menandai dibukanya jalur Cicalengka-Garut pada tanggal 14 Agustus 1889[2].

Nama Garut muncul secara tidak sengaja, ketika salah seorang panitia pencari tempat bagi ibukota baru untuk Kabupaten Limbangan tergores tangannya oleh semak belukar berduri. Dalam bahasa Sunda, proses ini diberi istilah “kakarut” atau “gagarut” dalam lidah Belanda. Tanaman yang menggores itu kemudian diberi nama Ki Garut dan telaga yang ada di sana diberi nama Ci Garut. Setelah didirikan, Garut pun direstui untuk menjadi ibu kota baru bagi kabupaten yang memiliki tanah subur dan kaya akan hasil bumi itu di tahun 1821[3].

Celah Kaledong, berada di antara gunung Kaledong dan Mandalawangi. Jalan ini menghubungkan Nagreg, Kab. Bandung dan Kadungora, Kab. Garut. Gambar: NMVW Collectie.

Seperti halnya tempat lain di Priangan, masalah angkutan menjadi sesuatu masalah yang mengganggu. Kondisi geografis Garut yang ada di daerah pegunungan menyulitkan angkutan penumpang dan juga hasil bumi di sana. Keadaan ini membuat harga distribusi teh, kopi, kina, dan hasil pertanian menjadi mahal[4].

Sebelum menggunakan jalan darat, jaringan transportasi di Priangan masa lalu menggunakan sungai-sungai besar, seperti Ci Tarum, Ci Manuk, dan Ci Tanduy. Sungai-sungai ini pun sering dipakai untuk pengangkutan kopi dan garam[5].

Setelah kekuasaan berpindah dari kongsi dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) kepada pemerintah Hindia Belanda, Gubernur Jenderal Daendels membuat jalan Raya Pos Anyer-Panarukan yang melewati Kabupaten Bandung di tahun 1809. Transportasi antara Bandung, Cianjur, dan Batavia semakin membaik, walaupun masih sering dipotong jalan oleh kawanan harimau atau badak[6]. Menurut catatan P.P. Roorda, setidaknya 33 orang tewas diterkam harimau di Priangan di sekitar tahun 1830-an.

Untuk itu, para pejabat pemerintah yang melakukan inspeksi ke Priangan dilengkapi angklung dan tambur untuk memberi rasa takut kepada para hewan buas yang selalu siap menerkam kapan saja[7]. Cara lain untuk melakukan perjalanan melewati gunung dan hutan di Priangan adalah dengan membentuk rombongan. Cara ini dipakai oleh para pedagang dari Pasar Baru saat melakukan perjalanan ke Jawa Tengah untuk membeli batik. Dalam setiap perjalanan, puluhan orang naik kuda bersama-sama dengan dikawal begundal[8] bersenjata lengkap berupa tombak dan klewang[9].

Jalan yang sudah dibuat di Priangan saat itu belum bisa dikatakan layak untuk dilewati. Ini membuat kendaraan yang biasanya ditarik kuda harus berjalan pelan-pelan. Di tahun 1836, tersebutlah cerita tentang Luitenant Du Bus, seorang perwira KNIL di Semarang yang mengambil cuti dan bertamasya ke Cirebon. Di kota pelabuhan itu, Du Bus mendapat luka tembak. Karena ketiadaan dokter bedah, perwira ini harus dilarikan ke Batavia menggunakan Kereta Pos. Malangnya, perjalanan Cirebon dan Bogor dan Batavia saat itu memakan waktu 3 hari. Di hari ketiga itulah, Du Bus menghembuskan nafas terakhirnya sebelum memasuki Batavia[10].

Jalur jalan raya antara Bandung dan Garut sendiri tercatat sebagai bagian dari jalur militer yang menghubungkan Bandung dengan Jawa Tengah melewati Banjar. Jalan ini mengalami perluasan di pertengahan abad 19. Dari Bandung, jalur ini dibuat melewati Nagreg, Garut, dan Tasikmalaya[11]. Walaupun mengalami proses perbaikan dan perluasan, jalan-jalan ini masih belum dapat dikatakan layak. Selain masih jauh dari layak, kondisi alam Priangan yang bergunung menyulitkan orang saat melakukan perjalanan. Mereka akan menemukan beberapa fenomena yang bisa jadi hanya akan ditemukan di Priangan.

Salah satu fenomena unik yang muncul saat itu adalah fenomena bernama “soronger”. Salah seorang penulis Koran Bataviaasch Nieuwsblad menuliskan beratnya perjalanan dari Bandung menuju Garut melewati celah Nagreg di tahun 1889, sesaat sebelum jalur kereta api dibuka di sana. Dalam artikel yang menjadi 3 tulisan itu, penulis menggambarkan perjalanan Bandung Garut yang penuh dengan penderitaan bagi kuda-kuda dan perjalanan yang penuh kecemasan dan menyedihkan[12].

Dalam kamus Bahasa Sunda yang dikeluarkan Lembaga Basa jeung Sastra Sunda (LBSS), “Sorong” artinya dorong atau mendorong barang yang menggelinding seperti gerobak, mobil, dan lainnya[13]. Sedangkan dalam Kamus R.A. Danadibrata, sorong atau nyorong adalah kata kerja mendorong barang besar dari bagian depan supaya mundur[14].

Fenomena soronger ini memperlihatkan bagaimana sulitnya medan di antara dua kota di dataran tinggi Priangan tersebut. Para soronger berjaga di tanjakan dan turunan untuk mendorong dan menghentikan laju kereta kuda. Selain itu, mereka menggunakan batang bambu yang ujungnya diberi jeruk yang dipakai untuk menekan roda sebagai rem.

Kegiatan ini bisa jadi berlanjut sampai sekarang. Jika dulu mereka menggunakan bambu dan jeruk sebagai rem, kini para soronger di jalur-jalur berat Priangan menyediakan ganjal yang terbuat kayu untuk menghentikan kendaraan bermotor yang tidak kuat naik di tanjakan.

Keadaan ini tidak hanya terjadi di Garut saja. Fenomena lain muncul pula di Cihea, di Jalan Raya Pos lama dekat Rajamandala. Di sana muncul fenomena bernama Cidaweung, yaitu sebuah tanjakan yang sulit untuk ditaklukkan. Sulitnya menaklukkan tanjakan ini sudah berlangsung sejak dari zaman dahulu kala. Dalam tulisannya di buku Rambles in Java and The Straits in 1852, seorang petualang dari Inggris bernama Charles Walter Kinloch menggambarkan kesulitan-kesulitan saat melintasi Sungai Ci Tarum di daerah tersebut.

Rakit penyeberangan di Cihea, perbatasan Kab. Bandung dan kab. Cianjur. Para pengguna Jalan Raya Pos harus menggunakan rakit-rakit ini untuk menyeberangi Sunagi Ci Tarum. Sumber gambar: KITLV.

Saat rombongan kereta kuda mendekati Ci Tarum yang berjarak sekitar 15 mil dari Kota Cianjur, jalan mulai menuruni bukit. Seperti para soronger di Garut, sebanyak 20 sampai 30 kuli memegang tali yang diikat untuk menahan laju kereta kuda sebelum mendekati sungai. Di sana, sebuah rakit (perahu) sudah bersiap untuk mengantarkan mereka ke seberang.

Sementara di seberang, sebanyak 4 buah kerbau sudah disiapkan. Empat kerbau tersebut diikat pada kereta kuda dan membantu kereta itu saat menaiki bukit. Saking beratnya, Kinloch  mengatakan bahwa tanjakan ini merupakan bagian yang paling berbahaya selama perjalannya dari Batavia menuju Bandung.

Penulis dengan nama alias Bengal Civilian ini menulis: “We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong.[15].

Di tempat Kinloch melintas, pemerintah Hindia Belanda sempat membangun sebuah jembatan. Jembatan tersebut kemudian dibongkar seiring dengan pembangunan Bendungan Cirata sekitar pertengahan tahun 1980-an, dan hanya menyisakan pondasinya di sisi Sungai Ci Tarum. Sebagai pengganti, pemerintah membangun jembatan baru yang letaknya berada di atas jembatan lama.

Dalam perbincangan penulis dengan seorang bapak penjaga warung yang ada di dekat jembatan, didapat cerita tentang kesulitan-kesulitan ketika jembatan lama masih berdiri. Jika kendaraan datang dari arah Bandung, kendaraan akan berhadapan dengan turunan curam sebelum berbelok ke kanan di bibir sungai Citarum. Sebaliknya, jika datang dari arah Cianjur, kendaraan harus berbelok ke kiri dan menghadapi tanjakan yang curam setelah melewati jembatan.

Saking curamnya, kendaraan akan mengalami kesulitan terutama saat menaiki tanjakan tersebut.  Keadaan kendaraan seperti ini disebut ngadaweung[16] oleh penduduk setempat. Karena kondisi seperti itulah, tanjakan curam tersebut diberi nama tanjakan Cidaweung.

Uniknya, saat kendaraan akan melewati tanjakan ini, para supir akan melemparkan satu batang rokok dengan merek Gudang Garam Merah ke pinggir jalan. Ini dilakukan mungkin untuk memohon kelancaran dan keselamatan.

Parahnya infrastruktur transportasi di Priangan sedikit terbantu dengan hadirnya kereta api. Setelah menyelesaikan jalur yang menghubungkan Kota Bogor dengan Kota Cicalengka di akhir 1884, SS kemudian membuat jalur menuju Kota Garut. Dimulai di tahun 1887, pembangunan jalur KA dengan panjang 50 km ini memakan waktu 2 tahun.

Jalur ini dibuka langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 14 Agustus 1889. Pembukaan jalur ini dimeriahkan oleh pesta berupa pertunjukan angklung dan tarian topeng di Stasiun Leles. Dalam perjalanan antara Cicalengka-Garut, kereta api sempat berhenti dua kali. Gubernur Jenderal sangat menikmati pemandangan indah yang dilewati terutama di Jembatan Citiis dan di lereng Gunung Mandalawangi. Perjalanan yang menyenangkan, perjalanan yang tidak lagi diwarnai penderitaan, kecemasan, dan kesedihan.

Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api, penyuka Sejarah Kota Bandung, co-founder simamaung.com, aktif di media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @pahepipa.

Referensi:
[1]     Heen en Terug I, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 16 Juli 1889), 7.

[2]     De Opening der Spoorweglijn Naar Garoet, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 19 Agustus 1889), 5.

[3]     Kunto Sofianto, Garoet Kota Intan (Jatinangor: Alqaprint, 2001), 11.

[4]     Agus Mulyana, Sejarah Kereta Api di Priangan (Yogyakarta: Ombak, 2017), 95.

[5]     Mulyana, Sejarah Kereta Api di Priangan, 39.

[6]     Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Bandung: P.T. Granesia, 1984), 71.

[7]     Jan Breman, Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870, terjemahan oleh Jugiarie Soegiarto, dkk (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2014), 217.

[8]    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, begundal berarti kaki tangan penjahat dan sebagainya (Lihat: https://kbbi.web.id/begundal, diakses 14 Maret 2020). Dalam konteks ini, para begundal menjadi pengawal perjalanan yang bertugas untuk melindungi rombongan.

[9]     Haryoto Kunto, Semerbak Bunga di Bandung Raya (Bandung: P.T. Granesia, 1986), 849

[10]   Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, 87.

[11]   Mulyana, Sejarah Kereta Api di Priangan, 42.

[12]   Heen en Terug I, Bataviaasch Nieuwsblad (Batavia, 16 Juli 1889), 7.

[13]   Lembaga Basa & Sastra Sunda, Kamus Umum Basa Sunda (Bandung: Penerbit Tarate, 1992), 487.

[14]   R.A. danadibrata, Kamus Basa Sunda (Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2009), 652.

[15]   Bengal Civilian, Rambles in Java and The Straits in 1852 (Singapore: Oxford University Press, 1989), 53.

[16]   Dalam Bahasa Sunda, Ngadaweung artinya duduk, sambil menunggu sesuatu. Lihat R.A. danadibrata, Kamus Basa Sunda (Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2009), 162.

Komentar

Rekomendasi

  • Lebaran Pengorbanan

    Lebaran Pengorbanan

    • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Saudaraku, lebaran di tengah paceklik dan kerentanan adalah lebaran penuh pengorbanan. Tatkala cadangan BBM menipis; harga dan ongkos melambung, seorang majikan mencoba menahan asisten rumah tangganya untuk tidak mudik. Tak diduga sang asisten berkata: “Tuan bisa menikmati berbagai macam kebahagiaan sepanjang tahun, sedang kebahagian saya cuma sekali setahun, yaitu mudik lebaran. Apakah kebahagiaan satu-satunya […]

  • Atheis ala Achdiat K. Mihardja

    Atheis ala Achdiat K. Mihardja

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Atheis merupakan novel karya Achdiat Karta Mihardja yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1949 oleh Balai Pustaka. Cetakan ke-2 novel ini diterbitkan pada tahun 1957, cetakan ke-3 pada tahun 1960, cetakan ke-4 pada tahun 1960, cetakan ke-5 pada tahun 1969, cetakan ke-6 pada tahun 1976, cetakan ke-10 tahun 1989, cetakan ke-18 pada tahun […]

  • Nah Ini Dia! 5 Fakta Unik Kampung Amsterdam di Garut

    Nah Ini Dia! 5 Fakta Unik Kampung Amsterdam di Garut

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Deretan fakta unik Kampung Amsterdam di Garut ini tidak boleh kamu lewatkan. Berada di kaki Gunung Cikuray, Kampung Amsterdam ini menyimpan bukti sejarah kehidupan bangsa Belanda di Kabupaten Garut. Kini, Kampung Amsterdam ini masuk dalam jajaran obyek wisata favorit yang ada di Kabupaten Garut. Simak fakta unik Kampung Amsterdam di Garut berikut ini. Fakta […]

  • Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    Inilah 5 Alasan yang Bikin Toko Buku Sepi Pembeli

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Fenomena ini memang kontradiktif namun nyata. Meski data menunjukkan minat baca atau konsumsi literasi meningkat, toko buku fisik (konvensional) menghadapi tantangan besar karena perubahan perilaku konsumen di era digital. Berikut adalah 5 alasan mengapa minat baca naik tetapi toko buku tetap sepi: Migrasi ke E-commerce dan Marketplace Banyak pembaca beralih membeli buku secara […]

  • Penguatan Resiliensi Remaja Melalui Kisah Nabi

    Penguatan Resiliensi Remaja Melalui Kisah Nabi

    • calendar_month Senin, 23 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    Tema: “Dari Sumur di Kanaan ke Istana Mesir” Terinspirasi dari kisah Nabi Yusuf (Masuk perlahan. Turunkan suara.)   “Ini adalah postingan lanjutan dari modul BK dengan judul serupa”   Pernah nggak sih… kamu merasa sendirian, padahal lagi ada di tempat yang ramai? Teman-teman kamu ngobrol. Grup jalan terus. Story mereka rame, tapi nama kamu nggak […]

  • Tau Gak Sih? Ada 5 Pondok Pesantren Terbaik di Garut

    Tau Gak Sih? Ada 5 Pondok Pesantren Terbaik di Garut

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM –Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu daerah di Jawa Barat yang memiliki tradisi pendidikan Islam yang kuat. Banyak pondok pesantren berdiri dan berkembang dengan kualitas pendidikan yang baik, baik dalam bidang keagamaan maupun pendidikan formal. Berikut ini adalah lima pondok pesantren terbaik di Garut yang memiliki reputasi baik dan banyak diminati masyarakat.   1. […]

expand_less