Breaking News

Menunggu Senja di Kota Intan: Catatan Ngabuburit dari Garut

  • account_circle Redaksi Web
  • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
  • visibility 218
  • print Cetak

TIGARUT.COM — Menjelang magrib di Garut selalu ada rasa yang berbeda. Udara pegunungan yang sejuk pelan-pelan berubah hangat oleh keramaian langkah orang-orang yang menanti adzan. Ngabuburit di kota ini bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi seperti ritual kecil untuk menyapa senja dan diri sendiri.

Di pelataran Garut Town Square, anak-anak berlari kecil, remaja duduk melingkar sambil bercanda, dan para orang tua berjalan santai menikmati sore. Di antara hiruk pikuk itu, kita belajar bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga merawat kebersamaan. Setiap senyum dan sapaan terasa lebih tulus ketika semua sedang menunggu waktu yang sama.

Tak jauh dari sana, aroma gorengan dan kolak menyeruak dari Pasar Ceplak. Para pedagang sibuk melayani pembeli, tangan-tangan cekatan membungkus takjil dengan kertas cokelat atau plastik bening. Di tempat seperti ini, Ramadan terasa sangat membumi—hangat, sederhana, dan akrab. Kita diingatkan bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam hal-hal kecil: segelas es buah, sebungkus cilok, atau sekadar obrolan ringan sebelum berbuka.

Sementara itu, di sepanjang Jalan Ibrahim Adjie Garut, langit senja perlahan berubah warna. Siluet Gunung Guntur berdiri tenang, seolah menjadi saksi perjalanan waktu. Di sana, kita belajar tentang kesabaran. Gunung itu tak pernah tergesa, namun selalu hadir kokoh. Seperti puasa, yang mengajarkan kita untuk teguh dalam sunyi.

Bagi yang ingin ketenangan, air yang beriak pelan di Situ Bagendit menawarkan cermin refleksi. Angin yang menyapu permukaan danau membawa rasa syukur: bahwa dalam diam pun ada keindahan. Duduk memandang air menjelang magrib membuat hati terasa lebih lapang, seolah beban sehari-hari ikut hanyut bersama cahaya matahari yang perlahan tenggelam.

Dan di kawasan Cilopang, di kaki Gunung Guntur, udara pegunungan mengajarkan kita tentang jeda. Bahwa dalam hidup yang sering tergesa, ada ruang untuk berhenti, menarik napas, dan mensyukuri detik-detik yang berjalan. Ngabuburit di sana bukan soal tempatnya, melainkan soal perasaan pulang—pulang pada ketenangan.

Pada akhirnya, ngabuburit di Garut bukan sekadar menunggu waktu berbuka. Ia adalah perjalanan kecil menuju makna: tentang sabar, syukur, kebersamaan, dan harapan. Senja selalu datang tepat waktu, dan adzan magrib selalu menjadi penanda bahwa setiap penantian, seberat apa pun, akan menemukan ujungnya.

  • Penulis: Redaksi Web
  • Sumber: AI

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi

  • Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    Pandangan Hukum Partai Koptagul terhadap Kasus Nadiem Makarim

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • visibility 143
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Banyak netizen minta saya ikut membahas kasus hukum Nadiem Makarim. Saya memang fokus menuntaskan kisruh LCC 4 Pilar MPR. Baiklah, saya coba memberikan pandangan hukum ala Partai Koptagul. Izin untuk para ahli hukum negeri ini kalau nanti ada yang ngawur. Tulisan ini agak panjang, asyik kalau dinikmati sambil seruput Koptagul, wak!   Indonesia itu […]

  • Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    Nah, Ini Dia! Tips Berwisata Aman Bareng Anak di Musim Hujan

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • visibility 547
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM – Musim hujan sering dianggap kurang ideal untuk berlibur, terutama bagi keluarga yang membawa anak. Cuaca yang tidak menentu, jalan licin, hingga risiko anak mudah sakit menjadi kekhawatiran tersendiri. Meski begitu, liburan tetap bisa berjalan aman dan menyenangkan jika dipersiapkan dengan baik. Langkah Pertama Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan destinasi wisata. Hindari lokasi yang rawan […]

  • Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    Tugu Sunyi di Pinggir Jalan, Jejak Darah dan Nyali Pemuda Garut di Kubang

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Web
    • visibility 283
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di Jalan Raya Garut–Bandung, berdiri sebuah tugu kecil yang kerap luput dari pandangan. Tak mencolok, tak ramai dikunjungi, bahkan sering diselimuti rumput liar. Namun di sanalah, sejarah berdarah Garut pernah ditulis.   Tugu itu dikenal sebagai Tugu Pertempuran Kubang. Bagi sebagian orang, ia hanya penanda jalan. Tapi bagi […]

  • Bukit Pasir sebagai Benteng Alami dari Hempasan Tsunami 2.10 Play Button

    Bukit Pasir sebagai Benteng Alami dari Hempasan Tsunami

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle T. Bachtiar, Penulis dan Geolog
    • visibility 1.413
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Samudra Hindia yang membentang luas, seolah berujung di cakrawala, tempat bersalamannya kaki langit dan permukaan laut. Di cakrawala sebelah timur, matahari terbit dan di cakrawala sebelah matahari terbenam, dapat disaksikan setiap menjelang pagi dan pada rembang petang. Kemunculan matahari dan tenggelamnya matahari di cakrawala, menjadi atraksi alamiah yang selalu diburu para wisatawan. Pendataan […]

  • Shalatlah Allah yang Menjamin Rizki

    Shalatlah Allah yang Menjamin Rizki

    • calendar_month Selasa, 9 Jun 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • visibility 125
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Suatu hari, seorang suami pulang ke rumah dan menemui istrinya setelah shalat isya. Ia menemukan anak-anaknya sudah pada tidur.   Dia bertanya kepada istrinya, “Apakah anak-anak sudah shalat?”   Istrinya berkata, “Di rumah tidak ada makanan dan aku mengasuh dan menyibukkan mereka sampai pada tertidur dan mereka belum shalat.”   “Bangunkanlah mereka…!” Kata suaminya […]

  • Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    Umat Islam dan Kesadaran Ekologi yang Minimalis

    • calendar_month Minggu, 4 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Gibson al-Bustomi, Dosen Filsafat dan Teologi
    • visibility 335
    • 0Komentar

    “Dan tidaklah aku utus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (al-anbiya:107) TIGARUT.COM — Tidaklah perlu untuk membuka dan membolak-balik lembaran al-Qur’an untuk memastikan “doktrin” Islam tentang kemestian untuk memperhatikan dan perduli terhadap kelestarian lingkungan hidup (alam). Karena, salah satu tujuan utama kehadiran Islam di muka bumi ini adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam. Lebih dari sekedar […]

expand_less