Nah Ini Dia! 5 Tradisi Membangun Sahur di Garut
- account_circle Redaksi Tigarut
- calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TIGARUT.COM — Selama bulan Ramadan, masyarakat di Garut memiliki berbagai cara unik untuk membangunkan warga agar sahur tepat waktu. Tradisi-tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat waktu sahur, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan budaya dan kebersamaan antarwarga.
Berikut lima tradisi membangun sahur yang masih hidup di Garut:
1. Ngadulag (Mukul Bedug Keliling)
Tradisi ini dilakukan dengan memukul bedug atau kentongan sambil berkeliling kampung untuk membangunkan warga sahur. Biasanya dilakukan oleh anak-anak dan remaja menjelang dini hari dengan penuh semangat.
2. Patrol Sahur
Mirip ngadulag, namun menggunakan berbagai alat seperti ember, botol, bambu, hingga alat musik sederhana. Di beberapa daerah di Garut, patrol sahur bahkan dibuat lebih kreatif dengan arak-arakan kecil.
3. Ngabuburit Malam (Persiapan Sahur Bersama)
Beberapa kampung mengadakan kumpul malam di masjid atau musala untuk tadarus, lalu dilanjutkan makan sahur bersama. Tradisi kebersamaan ini mempererat silaturahmi warga.
4. Membangunkan Sahur dengan Shalawat
Sebagian masyarakat membangunkan warga dengan melantunkan shalawat atau lagu-lagu religi menggunakan pengeras suara masjid. Cara ini dianggap lebih religius dan menenangkan dibandingkan bunyi-bunyian keras.
5. Ngaronda Sahur
Warga yang sedang ronda malam (siskamling) ikut bertugas membangunkan sahur dengan berkeliling kampung. Tradisi ini memadukan budaya ronda dengan semangat Ramadan.
Tradisi-tradisi membangun sahur di Garut menunjukkan betapa masyarakat setempat memadukan kreativitas, religiusitas, dan kebersamaan. Momen-momen ini tidak hanya membangunkan orang untuk sahur, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya lokal yang tetap hidup dari generasi ke generasi.
- Penulis: Redaksi Tigarut
- Sumber: AI
