Breaking News
dark_mode

Demi Menyelamatkan Anggaran, PPPK akan Dikorbankan

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

TIGARUT.COM — Berembus kuat, akan ada PHK massal untuk pegawai PPPK. Mereka dipandang paling rasional untuk “dikorbankan” demi penyelamatan anggaran. Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Semua bermula dari sebuah mahakarya kebijakan bernama UU No. 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah. Isinya sederhana, elegan, dan mematikan. Belanja pegawai maksimal 30% dari APBD/APBN. Tiga puluh persen. Angka yang di atas kertas terlihat bijak. Tapi, di lapangan berubah jadi adegan survival. Pemerintah daerah langsung pusing tujuh keliling, seperti disuruh diet tapi kulkas kosong.

Tidak bisa memotong anggaran gedung. Tidak bisa mengurangi janji politik. Yang paling fleksibel dan rasional adalah manusia. Ya, manusia bernama PPPK. Ribuan di berbagai daerah kini terancam PHK massal. Bukan karena kinerja buruk, tapi karena Excel bilang “tidak cukup kolom anggaran”.

Sementara itu, DPR RI tampil seperti pahlawan dalam film, mendesak penundaan aturan ini. Komisi II dari Fraksi PDI-P bilang jangan buru-buru, nanti muncul gelombang pengangguran baru. Tapi seperti biasa, antara “mendesak” dan “terjadi perubahan nyata,” ada jarak sejauh perjalanan dinas luar kota lengkap dengan notulen yang tidak pernah dibaca ulang.

Situasi makin absurd karena APBN sendiri sedang ngos-ngosan. Harga energi naik turun seperti mood netizen. Ini ditambah ketegangan militer global yang bikin anggaran negara ikut meriang. Dana transfer ke daerah berkurang. Tiba-tiba PPPK berubah dari solusi menjadi beban. Seperti beli motor kredit, baru cicilan kedua sudah mikir jual lagi.

Di Jabar, cerita berubah jadi drama serial. Belasan guru PPPK mengundurkan diri. Bukan demo berjilid-jilid, tapi mundur elegan dengan surat resmi ke Pejabat Pembina Kepegawaian dan laporan ke BKN. Kalau sudah punya NIP, ya dibatalkan, seperti hubungan yang akhirnya diakhiri dengan kalimat, “kita beda tujuan.” Alasannya klasik tapi pedih, status kontrak yang tidak seaman PNS, beban kerja tinggi, penempatan jauh dari rumah, dan kesejahteraan yang naik turun seperti harga cabai.

Dampaknya langsung terasa. Sekolah di Bogor, Garut, dan Tasikmalaya mulai kekurangan guru. Negara yang selalu bilang pendidikan prioritas, kini seperti lupa mengisi kelasnya. Pemprov Jabar menunda rekrutmen PPPK penuh waktu 2026. Kekosongan ini bukan cuma sementara, tapi seperti kursi kosong di kelas yang terus menunggu tanpa kepastian.

Lalu kita meluncur ke Enrekang, Sulawesi Selatan. Sekitar 1.070 PPPK sempat direncanakan untuk dirumahkan. DPRD setempat buru-buru bilang jangan gegabah. Di NTT, ceritanya lebih epik sekaligus tragis. Sekitar 9.000 PPPK terancam dirumahkan. Sembilan ribu! Itu sudah seperti satu kota kecil yang tiba-tiba diminta logout dari sistem. Alasannya klasik, APBD tidak kuat, aturan 30% menekan. Bahkan, muncul tudingan program MBG ikut menyedot anggaran. Ironi level dewa. Rakyat makan lebih sehat, gurunya kehilangan pekerjaan.

Kapuas Hulu di Kalbar juga tak kalah dramatis. Sekitar 4.281 PPPK harus ditopang anggaran Rp239 miliar per tahun. Angka ini membuat pemerintah daerah berkeringat seperti habis lari maraton tanpa air minum. Solusinya? Masa kerja PPPK yang habis Januari 2026 hanya diperpanjang satu tahun. Satu tahun! Seperti langganan aplikasi yang tiap bulan bikin deg-degan, “lanjut atau berhenti?”

Belum lagi pemotongan anggaran pusat sebesar 27,3% atau Rp480 miliar. Efeknya? Gaji ASN dan PPPK ikut terguncang. Dalam dunia yang katanya rasional ini, yang pertama dikorbankan tetap manusia, bukan kebijakan.

Kesimpulannya? Ancaman PHK massal PPPK itu nyata, bukan halu kolektif. Memang belum final, masih dalam tahap tarik-menarik antara kebijakan dan kemanusiaan. Tapi, bagi PPPK, ancaman saja sudah cukup untuk membuat hidup terasa seperti kontrak yang ditandatangani dengan tinta yang bisa hilang kapan saja. Di negeri ini, ternyata yang paling permanen bukan pekerjaan, melainkan rasa tidak aman itu sendiri.

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Komentar
  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi

  • Aproval Rating Sang Gubernur Konten 

    Aproval Rating Sang Gubernur Konten 

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Ridhazia, Wartawan Senior
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — KDM masuk bursa bakal calon pemimpin nasional. Bahkan digadang-gadang menjadi presiden/wakil presiden. Tingkat kepuasan publik (approval rating) di Jawa Barat terhadap kinerjanya sangat tinggi, dan hampir sempurna hingga mencapai 95,5% per Februari 2026.   Tokoh Sunda Dekat Rakyat   Tingginya apresiasi publik terhadap kinerja Gubernur Jawa Barat berdasarkan hasil survei terbaru hingga awal 2026 […]

  • Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”! 07.09 Play Button

    Maksud Pidato Bung Karno, Kita “Bukan Bangsa Tempe”!

    • calendar_month Sabtu, 27 Des 2025
    • account_circle Sukron Abdilah
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Ada satu pidato Bung Karno yang sampai kini masih bikin saya senyum kecut tiap kali lihat tahu goreng di warkop kampus. Tahun 1963, di depan para buruh tani dan rakyat kecil, Soekarno dengan lantang berkata: “Bangsa Indonesia bukan bangsa tempe!” Kalimat itu meledak seperti petir di siang bolong. Tapi lucunya, kalau diucapkan di […]

  • Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    Yuk Kenali Filosofi dan Rahasia Dodol yang Manis Legit Warisan Leluhur 

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Agung Prawibowo
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM Di balik teksturnya yang kenyal dan rasanya yang manis legit, dodol bukan sekadar kudapan tradisional. Makanan yang sering hadir dalam perayaan besar seperti Lebaran, Imlek, hingga hajatan adat ini menyimpan sejarah panjang dan filosofi mendalam tentang kebersamaan masyarakat Indonesia. Jejak Sejarah dan Penyebaran Dodol diperkirakan telah ada sejak zaman kerajaan di Nusantara. Meskipun setiap […]

  • Jejak Kereta Api Cibatu Garut

    Jejak Kereta Api Cibatu Garut

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Hevi Abu Fauzan, pecinta kereta api,
    • 0Komentar

    “Saya ingin mengembalikan budaya naik kereta. Saya ingin Jawa Barat seperti Eropa, masyarakat ke mana-mana bisa naik kereta karena nyaman dan terintegrasi,” – Ridwan Kamil, Gubernur Provinsi Jawa Barat[1]. TIGARUT.COM — Jalur kereta api antara Cibatu dan Garut merupakan salah satu jalur yang diaktifkan kembali oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan PT Kereta Api Indonesia (PT […]

  • Si Kabayan Ngalamar Gawé ka Média Online

    Si Kabayan Ngalamar Gawé ka Média Online

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Si Kabayan geus bosen dicarékan waé ku mertuana alatan dianggap pangangguran abadi. Poe harita, manéhna nekat rék ngalamar gawé ka kantor média online “tigarut.com”. Manéhna datang maké sapatu bot sabelah jeung sapatu kets sabelah, bari mawa map coklat nu geus kuleuheu. “Bah, ieu daptar riwayat hirup Kabayan,” ceuk Kabayan bari masrahkeun keretas ka […]

  • Nah Ini Dia! 3 Oleh-oleh Produk Ekonomi Kreatif Garut Favorit

    Nah Ini Dia! 3 Oleh-oleh Produk Ekonomi Kreatif Garut Favorit

    • calendar_month Minggu, 25 Jan 2026
    • account_circle Redaksi Tigarut
    • 0Komentar

    TIGARUT.COM — Garut merupakan salah satu destinasi populer di Jawa Barat yang selalu dipenuhi wisatawan, pasalnya, Garut memang menawarkan ragam pilihan destinasi wisata. Panorama perbukitan yang indah, budaya yang kental, hingga sektor ekonomi kreatif yang mengagumkan, menjadi daya tarik utama kota yang dijuluki juga Swiss van Java ini. Kepopuleran Garut tentunya dipengaruhi juga oleh aksesnya yang […]

expand_less